Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 49


__ADS_3

Bella berbalik badan, menatap dua orang pengawal yang di tugaskan sang Papa untuk menjaganya. Bella tampak berfikir sesaat, mencari alasan yang tepat agar bisa bisa pulang ke apartemen tanpa harus di curigai dan di ikuti oleh dua pengawal itu.


"Nona butuh sesuatu.?" Tanya salah satu dari mereka yang melihat kebingungan di wajah Bella. Saking terlalu berfikir keras memikirkan alasannya, kebingungan Bella bisa di baca oleh mereka.


Bella menghela nafas pelan. Dengan ada dua pengawal yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi, Bella merasa akan semakin sulit bertemu dengan Hendry. Apalagi pengawal itu diperintah Baskoro untuk selalu melaporkan apapun yang terjadi di sekitar Bella. Bisa-bisa hubungan gelap Bella dengan Hendry diketahui Baskoro.


"Kalian pulang saja, malam ini aku menginap di apartemen. Soal laporan pada Papa, nanti aku sendiri yang akan bilang." Ujar Bella berusaha tidak membuat keduanya curiga.


Dua pengawal itu saling pandang. Ini bukan soal melaporkan kegiatan dan apa saja yang terjadi di sekitar Bella. Tapi ini tentang keselamatan dan keamanan putri bosnya itu. Mereka tidak mau mengambil resiko jika sesuatu terjadi dengan Bella di luar pengawasannya, sedangkan mereka sudah di bayar mahal untuk menjaga Bella 24 jam.


"Kalau begitu biar kami antar ke apartemen dan berjaga di sana. Tuan bilang, situasi mungkin tidak aman untuk Nona mulai hari ini. Jadi sebaiknya Nona jangan pergi sendiri." Ujar salah satu dari mereka.


Bukan tanpa alasan Baskoro memprediksi kalau putrinya sedang dalam bahaya / kondisi yang tidak aman untuk beraktivitas di luar. Pasalnya setelah memperkenalkan Bella sebagai anak kandung satu-satunya dan memberikan posisi tertinggi pada Bella di perusahaan, Natalie dan Julia sudah pasti tidak akan diam saja dan membiarkan apa yang selama ini mereka incar justru menjadi milik Bella seutuhnya.


Bella dibuat tidak berkutik. Dia kemudian membiarkan dua pengawal itu untuk mengantarnya, tapi tidak mengijinkan mereka untuk berjaga di sana. Bella beralasan kalau apartemen yang dia tempati sudah dilengkapi dengan keamanan dan penjagaan dari security.


Untungnya mereka berdua tidak menginterupsi lagi dan menuruti permintaan Bella.


...******...


Di apartemen, Hendry tengah menunggu Bella di ruang keluarga. Pria itu memakai baju santai setelah selesai mandi beberapa menit lalu.


Sebenarnya Hendry berencana untuk tidak menemui Bella selama beberapa waktu ke depan, tapi kerinduannya pada Bella sudah membuncah setelah 1 minggu tidak bertemu. Padahal baru 2 hari yang lalu Hendry memutuskan tidak bisa menemui Bella dalam waktu dekat. Tapi malah dia sendiri yang mendatangi Bella.


Mendengar suara derap langkah, Hendry bergegas berdiri dari duduknya. Pria itu tersenyum melihat kedatangan Bella. Meski sedikit terkejut dengan penampilan Bella yang formal, tapi tak mengurungkan niat Hendry untuk langsung menghampiri Bella dan memeluk wanita itu.


"Darimana saja.? Aku rindu padamu. Apa kamu sudah bekerja.?" Tanya Hendry di sela-sela dekapannya yang terasa posesif. Bella tersenyum getir, semudah itu Hendry memainkan perasaannya. Setelah 4 hati tanpa kabar, tiba-tiba mengatakan tidak bisa menemuinya dalam waktu dekat. Tak hanya itu saja, bahkan Hendry memblokir nomornya selama 2 hari terakhir.


Lalu tiba-tiba menemuinya di apartemen dan mengatakan rindu padanya. Bella rasa, ada yang salah dengan hati dan pikiran pria tersebut. Atau mungkin Hendry sebenarnya tidak punya hati.


Hendry terkadang terlihat begitu ingin menjaga perasaan Julia, tapi tidak memperdulikan perasaan Bella.


Bella mengurai pelukannya, lalu berusaha tersenyum ramah seperti biasa.

__ADS_1


"Papa menyuruhku bekerja di perusahaan, baru mulai hari ini." Jelas Bella.


Melihat sikap Hendry yang biasa aja, bahkan sore ini lebih memilih datang ke apartemen, Bella yakin kalau Hendry belum tau kabar tentangnya dan juga kabar Natalie yang dilarikan ke rumah sakit.


Sebenarnya cukup aneh, kenapa Julia tidak memberi tahu suaminya tentang kondisi Natalie.


Tapi Bella memilih acuh dengan kejanggalan itu, karna ada hal yang lebih penting untuk di lakukan Bella saat ini.


"Bella, aku minta maaf,,,"


Belum sempat Hendry menyelesaikan ucapannya, Bella dengan cepat memotongnya.


"Badanku berkeringat Mas, aku mandi dulu ya. Kita bicara nanti." Ucap Bella. Dia sempat mengusap lengan Hendry sebelum pergi ke kamar.


Hendry tampak menghela nafas, lalu duduk kembali di sofa dan meneguk minuman kaleng miliknya di atas meja.


Hampir 20 menit dia menunggu Bella selesai mandi, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar. Hendry reflek berlari menuju kamar Bella karna mendengar teriakan kesakitan dari wanita itu.


"Arabella,,!! Kamu baik-baik saja.? Buka pintunya." Teriak Hendry di depan pintu kamar mandi.


"Apa yang terjadi.?" Tanya Hendry panik. Dia langsung menangkap tubuh Bella untuk di gendong.


"Terpleset saat akan keluar dari bathtub." Jawab Bella yang terlihat akan menangis. Dia mengalungkan kedua tangannya di leher Hendry yang membopongnya ke arah ranjang.


"Lain kali lebih hati-hati. Apa perlu aku panggilkan dokter.?" Tawarnya sembari mendudukkan Bella di atas ranjang dan meluruhkan kedua kaki Bella.


Bella menggeleng.


"Sepertinya tidak terlalu parah, hanya perlu di pijat sebentar. Boleh minta tolong ambilkan salep di kotak obat.?" Pintanya.


Hendry bergegas pergi ke dapur dan membawakan salep berserta teh hangat untuk Bella.


"Minum dulu, biar aku pijat kakinya." Hendry menyodorkan teh itu pada Bella.

__ADS_1


Bella mengukir senyum manis.


"Terimakasih."


Hendry hanya mengangguk kecil. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah kaki Bella dan mulai mengoleskan salep di tumit dan memijatnya perlahan.


"Sakit tidak.?" Tanya Hendry khawatir. Dia sambil menetap Bella.


"Tidak sakit, pijatan Mas Hendry lumayan enak. Rasanya ingin di pijat seluruh badan." Jawab Bella bercanda, kemudian terkekeh.


Hendry malah jadi salah fokus, pikirannya tiba-tiba melayang ke mana-mana. Di tambah kondisi Bella yang hanya memakai handuk kimono, lalu dengan rambut setengah basah. Penampilan Bella sehabis mandi cukup menyegarkan dan memancing sesuatu dalam diri Hendry. Padahal Hendry datang bukan untuk meminta jatah, dia hanya ingin meminta maaf dan menghabiskan waktu berdua tanpa harus berakhir dengan percintaan panas.


Hendry berniat ingin memanjakan Bella malam ini, tapi dengan kondisi Bella saat ini, justru membuat pusaka Hendry minta dimanjakan.


"Baik, aku tidak keberatan memijat badanmu." Jawab Hendry.


Bella memukul pelan bahu Hendry Karna tatapan matanya tampak mesum.


"Mau modus ya.?" Goda Bella sambil terkekeh.


Hendry mengulum senyum penuh arti, kemudian beranjak mengambil bodylotion di atas meja rias Bella.


"Ayo tengkurap, aku akan pijat punggungmu." Kata Hendry tampak serius.


"Tapi hanya pijat saja ya, jangan pijat plus-plus. Kakiku masih sedikit sakit." Bella menarik selimut untuk menutupi tubuhnya karna ingin membuka kimono. Tapi Hendry malah menarik selimut dari tangan Bella dan membuangnya ke lantai.


"Kamu tidak lupa kan kalau aku sudah sering melihatnya.?" Goda Hendry. Dia malah mendekat dan menarik tali kimono Bella.


"Iissh.!! Dasar mesum.!" Bibir Bella mencebik, tapi dia tidak mencegah tangan Hendry yang sudah berhasil membuka tali kimononya.


Bella bisa melihat jakun Hendry naik turun saat berusaha menurunkan kimono dari bahunya.


"Lakukan Mas, lakukan apa yang kamu inginkan." Batin Bella tersenyum licik dalam hati.

__ADS_1


Ini akan menjadi kejutan untuk Julia setelah melihat video panasnya dengan Hendry.


Bella sudah tengkurap, tubuh putihnya seperti menyatu dengan seprei putih. Wanita itu juga hanya memakai ce lana da lam warna putih saja yang menutupi bagian paling sensitif di tubuhnya. Sisanya bisa Hendry lihat dengan leluasa. Pahatan indah tubuh Bella yang hampir 2 bulan menari-nari dalam kepalanya.


__ADS_2