
Bella keluar dari ruangan Natalie dengan wajah memerah dan nafas tersenggal. Tidak peduli dengan 2 bodyguard yang menanyakan kondisinya, Bella justru beranjak ke toilet dengan buru-buru. Membuat 2 bodyguard itu setengah berlari mengikuti Bella yang menghilang di balik toilet wanita.
"Sepertinya Nona tidak baik-baik saja. Apa perlu kita hubungi Tuan Baskoro.?" Tanya Leon pada Felix.
Padahal sebelum masuk ke dalam ruangan yang diduga istri Baskoro, anak dari bosnya itu baik-baik saja. Malah terkesan bahagia. Leon pikir telah terjadi sesuatu di dalam sana, sampai raut wajah Bella penuh amarah.
"Kita tunggu dulu sampai Nona Bella keluar dari toilet, kalau kondisinya masih seperti tadi, aku akan menghubungi Tuan Baskoro." Ujar Felix. Leon mengangguk setuju.
Di dalam toilet, Bella duduk di atas closet sambil menangis. Wanita itu menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Melihat Natalie hancur adalah harapan Bella sejak dulu. Dia sangat menunggu kehancuran orang-orang yang telah meninggalkan luka di hatinya dan luka yang di bawa mendiang Ibunya. Sekalipun Ibunya tidak pernah mengungkapkan sakit hatinya atas perlakuan Natalie, tapi Bella yakin Ibunya sangat terluka dan sakit hati atas semua perbuatan buruk Natalie.
"Bu, wanita itu sudah hancur. Aku akan pastikan mereka tidak bisa hidup dengan tenang.!" Lirih Bella dengan suara tercekat.
Seandainya Ibunya masih hidup, mungkin saat ini adalah detik-detik kebahagiaan mereka. Memetik buah dari kesabaran keduanya dari kejahatan Natalie dan Julia. Tapi disaat kebahagiaan itu akan datang, Ibunya justru tidak bisa merasakannya. Itulah yang membuat Bella tidak bisa membendung air matanya.
Karna sekalipun Bella memiliki segalanya serta bisa Natalie dan Julia hancur, kebahagiaan yang dirasakan Bella terasa tidak sempurna tanpa Ibunya.
Puas menangis, Bella beranjak ke wastafel untuk mencuci wajahnya. Matanya tampak sebab dan merah. Bella mengambil kaca mata hitamnya, lalu keluar dari toilet setelah menutupi mata sebabnya dengan kaca mata hitam itu.
"Nona, Anda baik-baik saja.?" Tanya Felix sambil memperhatikan wajah Bella yang memakai kaca mata hitam. Bukan hanya Felix saja, Leon juga ikut memperhatikan Bella karna sejak tadi khawatir menunggu di luar toilet.
Bella mengangguk samar dengan ekspresi datar.
"Langsung kembali ke perusahaan." Ucap Bella.
"Baik." Jawab Leon serta Felix bersamaan. Keduanya mengikuti Bella yang sudah jalan lebih dulu.
...*****...
Sore itu, Julia kembali mendatangi rumah yang dulunya di tempati Bella dan Selena. Kemarahan Julia pada Bella semakin menjadi-jadi setelah Mamanya menceritakan kedatangan Bella dan membuat kondisi Mamanya semakin memburuk.
Julia berniat memberikan peringatan pada Bella sekaligus membalas apa yang Bella lakukan terhadap Mamanya di rumah sakit.
Apalagi menurut penuturan sang Mama, Bella berani menghina dan menertawakan kondisi kesehatannya. Tentu saja kebencian Julia pada Bella semakin menggunung.
Mentang-mentang sudah mendapat pengakuan sebagai anak satu-satunya Baskoro dan ditunjuk sebagai penerus perusahaan, Bella jadi berani menghina dan melawan, padahal selama ini hanya diam saja menerima perlakuan darinya.
"Jangan pikir kamu sudah menang anak ja-lang.! Aku pastikan akan menyingkirkanmu.!" Geram Julia seraya mencengkram kuat stir mobilnya.
__ADS_1
Julia kemudian turun dari mobil yang bisa terparkir di luar gerbang rumah Bella.
Dengan wajah diselimuti amarah, Julia mendekati pos security tanpa bisa menerobos masuk.
"Nona ini lagi,," Gerutu security yang kemarin harus menghadapi amukan Julia karna tidak mau di usir dan memaksa masuk untuk bertemu Bella. Padahal sudah dibilang kalah Bella tidak ada di dalam, tapi Julia tidak percaya.
"Dimana Bella.?!! Suruh dia keluar sekarang.! Apa dia takut menghadapiku.?!" Teriak Julia.
Dengan malas, security itu keluar dari pos dan menghampiri Julia yang berdiri sambil berkacak pinggang di luar gerbang.
"Nona Bella tidak ada di rumah ini, sebaiknya Nona Julia pulang saja." Surinya.
Julia tidak percaya, dia sangat yakin Bella tinggal di rumah ini setelah di usir. Julia juga berfikir kalau Bella yang telah mencuci otak Papanya hingga perusahaan itu jatuh ke tangan Bella.
Mungkin Bella juga yang membongkar rahasia besar itu pada Papanya.
Ya, Julia begitu yakin bahwa kehancuran yang ada didepan matanya adalah akibat ulah Bella.
Julia tidak sadar kalau sebenarnya dia dan sang Mama sedang memetik buah dari kejahatannya selama ini.
Julia tak pernah sadar bahwa dia dan Mamanya ada pelaku kejahatan, tapi saat mendapatkan balasannya, mereka berdua berteriak seolah-olah menjadi korban.
"Kenapa tidak kita tahan saja Nona itu, dia pasti akan datang setiap hari mencari Nona Bella." Lirih seorang pekerja rumah pada security.
"Tuan Baskoro belum memberi perintah. Sebaiknya kita hubungi Nona Bella saja untuk mengusir Nona Julia."
Security itu kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi Bella. Mereka tidak menghiraukan teriak Julia yang mirip seperti orang stress.
"Hallo Nona, wanita itu datang lagi Nona." Lapornya pada Bella.
Melihat security berbicara lewat telfon, Julia langsung berteriak menghina Bella. Dia tau security itu pasti menghubungi Bella.
"Dasar wanita sialan.!! Beraninya kamu mendatangi Mamaku dan membuat kondisinya memburuk.!! Aku pastikan akan membuatmu semakin menderita.!!" Teriak Julia dengan amarah yang menggebu.
Bella tentu saja bisa mendengar suara teriakan itu dari sambungan telfonnya, lalu meminta pada security agar mengeraskan suara supaya Julia mendengar perkataannya.
Security itu menuruti permintaan Bella, kemudian sedikit mendekatkan ponselnya ke arah Julia. Tentunya dengan menjaga jarak aman supaya Julia tidak bisa merebut ponselnya.
__ADS_1
"Kakak ku tersayang, aku rasa kamu terlalu percaya diri bisa membuatku menderita.!" Sinis Bella dengan nada bicara mengejek.
"Apa yang bisa kamu lakukan padaku setelah kebusukan kalian terbongkar.?" Ujar Bella kemudian tertawa ringan.
Julia mengepalkan kedua tangannya, wajah semakin merah menahan amarah. Seandainya Bella ada di depannya, mungkin kedua tangan itu sudah Julia gunakan untuk menghajar Bella lebih dari yang biasa dia lakukan.
"Sialan.!! Aku benar-benar akan menghancurkanmu.!!" Maki Julia penuh amarah.
"Keluar kau.!! Hadapi aku.!!"
Julia terus berteriak, beberapa kali melempari Bella dengan kata-kata kotor.
Diseberang sana, Bella hanya tertawa mengejek, sama sekali tidak menghiraukan perkataan Julia.
...******...
Hendry memarkirkan mobilnya di garasi, pria itu bergegas masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Ada sesuatu yang ingin dia tanyakan pada istrinya, tentang gosip yang beredar di perusahaan Baskoro. Bahkan gosip itu sudah menyebar di beberapa perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Baskoro. Termasuk perusahaan milik Hendry.
"Julia,, Julia.!!" Teriak Hendry seraya menaiki tangga.
Pria itu berhenti saat melihat Zira menggendong Ale sembari menuruni tangga.
"Sore Tuan." Sapa Zira sopan.
"Julia dimana.?" Tanya Hendry tanpa merespon sapaan baby sitter anaknya.
"Nyonya Julia belum pulang Tuan." Jawab Zira yang terlihat takut salah bicara. Karna sudah 2 hari ini Julia pergi sejak pagi dan tidak kunjung pulang.
"Memangnya pergi kemana.?" Tanya Hendry seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya, karna ingin menghubungi Julia.
"Saya kurang tau, Nyonya hanya bilang akan pergi saja." Jawab Zira.
Dia hendak pamit ke lantai 1, tapi Ale mengangkat kedua tangannya ke arah Hendry sambil memanggil daddynya itu.
"Dih, dadih,,," Celoteh Ale minta di gendong.
Hendry terpaksa menyimpan ponselnya lagi dan langsung mengambil Ale dari gendongan Zira.
__ADS_1
"Tolong kamu telfon Julia, suruh Julia pulang sekarang." Titah Hendry sebelum beranjak ke kamarnya sambil menggendong Ale.
Hendry jadi semakin overthinking pada Julia, entah berapa banyak fakta yang sedang berusaha Julia sembunyikan padanya.