
Di rumah Hendry, semua orang sedang bahagia menyambut kepulangan si kembar dan Bella dari rumah sakit. Hanya 2 hari di rumah sakit sejak melahirkan, Bella dan si kembar sudah di perbolehkan pulang. Kini rumah itu sudah ramai, kedua orang tua Hendry dan Baskoro ada di sana untuk menimang kedua cucu mereka yang menggemaskan itu. Tak hanya orang tua Hendry dan Bella saja, beberapa kerabat dekat juga sudah datang sejak pagi. Mereka sangat antusias ingin melihat duplikat Hendry dan Bella versi mungil.
Jadi begitu si kembar masuk ke dalam rumah, bayi berusia 2 hari itu sudah menjadi rebutan semua orang yang tidak sabar ingin menggendongnya. Bella yang baru melahirkan itu sampai hampir terlupakan. Untungnya ada Farah, Mama mertua yang peka dan perhatian pada menantunya. Walaupun Farah sangat ingin menggendong cucu-cucunya, tapi dia menyempatkan diri menyambut kepulangan menantunya.
"Sebaiknya kamu duduk saja, jangan kelamaan berdiri." Kata Farah pada menantunya itu.
Sebab, Bella masih berdiri di tempat, menatap kerumunan orang yang memperebutkan anak-anaknya. Bella sedikit worry dan bingung. Di sisi lain dia takut bayinya yang baru berusia 2 hari itu kenapa-kenapa karna sudah dikerumuni banyak orang, tapi Bella juga bingung bagaimana mengungkapkan kekhawatirannya tanpa harus menyinggung perasaan mereka.
Kata dokter, bayi sangat rentan terhadap virus. Apalagi baru 2 hari dan baru pulang dari rumah sakit.
"Sayang,, ayo duduk." Hendry mengusap pundak istrinya yang diam saja. Bella seketika tersadar dan mengulas senyum pada Mama mertuanya.
"Bella kesana dulu Mah." Pamitnya untuk duduk di sofa ruang keluarga.
Farah mengangguk, dia lantas menyuruh art menyiapkan buah-buahan yang sudah di potong untuk Bella sebelum menghampiri kedua cucunya.
Kini Bella dan Hendry sudah duduk berdua di sofa, mereka seperti orang asing yang tidak terlihat. Semua tamu do rumahnya malah sibuk dengan si kembar. Sibuk menggendong, memfoto dan menciumi wajahnya yang tampan dan cantik itu.
"Sayang, makan dulu buahnya. Aku suapi ya." Ucap Hendry. Di tangannya sudah ada piring berisi potongan buah dari art.
Tidak ada jawaban, Bella yang di ajak bicara malah bengong menatap ke arah kerumunan. Dia sedang berjibaku dengan pikirannya sendiri yang terlanjur khawatir pada si kembar. Maklum baru pertama kali punya baby, kekhawatiran Bella masih berlebihan. Karna tidak mau si kembar sakit. Padahal semua orang di sana sudah memastikan tangannya bersih dan dalam keadaan sehat. Sedang tidak menderita penyakit yang bisa menularkan.
Hendry mengikuti arah pandangan Bella. Pria itu mengamati raut wajah dan sorot mata Bella untuk beberapa detik, sampai akhirnya Hendry bisa membaca kekhawatiran istrinya.
"Apa yang kamu khawatirkan.?" Lirih Hendry lembut. Tangannya meraih jemari Bella untuk di genggam.
__ADS_1
Bella menoleh, sejak tadi dia hanya memendam kekhawatirannya sendiri tanpa mengungkapkannya pada Hendry. Sibuk bergulat dengan pikirannya, sampai menimbulkan rasa takut yang berlebihan.
"Noah dan Naomi masih rentan, tidak apa-apa kalau di gendong bergilir seperti itu.?" Tanya Bella tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Hendry tersenyum teduh dengan jemari mengusap pucuk kepala Bella agar istrinya itu lebih tenang.
"Sebelum datang ke sini, aku sudah menyuruh mereka agar cek kesehatan. Aku pastikan mereka tidak akan membawa virus." Tutur Hendry.
Detik itu juga Bella bisa bernafas lega. Suaminya sudah menjamin kalau orang-orang yang menggendong Noah dan Naomi dalam keadaan sehat dan jauh dari virus, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi.
...*****...
Menjelang pukul 7 malam, rumah Hendry mulai sepi. Para kerabat sudah pulang satu persatu. Tersisa kedua orang tua Hendry dan orang tua Bella. Calon Mama tiri Bella juga ada di sana, wanita yang terlihat masih sangat muda itu baru datang pukul 5 sore. Sebab janda tanpa anak itu bekerja di kantor, tepatnya di perusahaan Baskoro. Bekerja sebagai staff biasa yang kebetulan bertemu dengan CEOnya tanpa sengaja di suatu tempat.
Sementara itu, Bella dan Hendry ada di kamar. Keduanya sempat tidur siang lantaran kelelahan karna harus bergadang saat di rumah sakit. Memiliki anak kembar memang butuh effort yang luar biasa. Banyak waktu dan tenaga yang harus di korbankan. Tapi semua itu sebanding dengan apa yang mereka dapatkan. Karna tidak semua pasangan di karunia anak kembar.
"Ayo turun, kita makan malam dulu. Noah dan Naomi biar di di jaga baby sitter." Hendry merangkul pinggang Bella untuk keluar dari kamar. Bella sempat menatap kedua anaknya yang ada di dalam box bayi.
"Mereka lucu sekali." Komentarnya sebelum beranjak menjauh. Si kembar sempat mengukir senyum dalam keadaan tidur, membuat Bella ikut tersenyum lantaran meleleh melihat senyum manis si kembar.
"Mamanya saja semenggemaskan ini, bagaimana anaknya tidak lucu." Sahut Hendry menggoda.
Bella menahan tawa dan mencubit pinggang suaminya yang akhir-akhir ini sering bermulut manis padanya.
"Dasar mulut manis.!" Cibir Bella seraya menahan tawa.
__ADS_1
Hendry malah terkekeh, lalu menarik pinggang Bella agar lebih menempel padanya.
Keduanya terlihat sangat romantis, Hendry terus merengkuh pinggang Bella sampai ke ruang makan. Membuat semua orang yang sudah ada di sana kompak menatap mereka.
...*****...
Tengah malam, Hendry di bangunkan oleh suara tangis Naomi. Sebelum tangisan putrinya membangunkan Noah dan Bella yang sedang tidur nyenyak, Hendry buru-buru turun dari ranjang dan mengangkat Naomi dari dalam box bayi.
"Jangan menangis, ini Papa." Lirih Hendry sambil mengayun Naomi dalam gendongannya.
"Anak Papa haus ya.?" Hendry kembali mengajak bicara, tangis Naomi perlahan mereda.
Hendry kemudian mengambil botol berisi asi yang memang sudah di siapkan di dalam kamar. Asi-asi itu dalam keadaan hangat dan bisa langsung di berikan pada si kembar jika sewaktu-waktu mereka bangun tengah malam karna lapar atau haus.
Tidak mau membuat Bella dan Noah terbangun, Hendry lantas membawa Naomi ke sudut kamar, jauh dari ranjang dan box bayi.
Sambil duduk di sofa dan menggendong Naomi, Hendry memberikan asi pada putrinya itu menggunakan dot.
Naomi perlahan kembali tertidur, tapi mulutnya terus menyesap asi. Hendry mengulum senyum melihat putri kecilnya itu. Walaupun lelah dan mengantuk karna sering bangun tengah malam, tapi Hendry sangat menikmati momen tersebut. Momen yang dulu tidak dia rasakan ketika Ale hadir ke dunia. Karna sejak Ale lahir, bayi yang masih merah itu sudah di rawat oleh baby sitter. Tidur di kamar terpisah, khusus kamar anak.
Hanya butuh beberapa menit, Naomi sudah menghabiskan asi dalam botol ukuran sedang. Melihat putrinya sudah pulas, Hendry meletakkan Naomi di box bayi lagi dengan hati-hati.
"Tidur yang nyenyak anak-anak Papa." Lirihnya pada si kembar.
Jam masih menunjukkan pukul 2 pagi, Hendry memilih merebahkan diri di atas ranjang dan memeluk Bella dari belakang untuk melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang." Ucapnya pelan, tak lupa mengecup pucuk kepala Bella. Pria itu berterimakasih karna Bella sudah memberikan kebahagiaan yang lengkap dan sempurna.