Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 67


__ADS_3

Farah semakin menjadi menahan kekesalan pada menantunya. Sudah jam 1 siang tapi belum pulang juga. Entah apa yang sedang di lakukan oleh Julia sejak kemarin malam, sampai-sampai lupa pulang dan lupa anak.


Hendry juga sama saja, Farah sampai sakit kepala memikirkan dua orang itu. Yang satu ngotot mau pisah, yang satunya lagi tidak mau diceraikan tapi keluyuran tidak jelas.


Niat hati mau mendamaikan kedua belah pihak, sekarang Farah malah muak. Mungkin memang lebih baik dia lepas tangan saja, menjadi penonton bagaimana akhir dari kisah rumah tangga anak dan menantunya.


Tak berselang lama, terdengar suara ribut-ribut di halaman rumah. Farah yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu, langsung berdiri dan mengintip dari jendela yang menjulang tinggi. Rupanya mobil Julia memasuki halaman rumah dan terdengar Julia sedang marah-marah pada penjaga rumahnya.


Farah hanya bisa menggelengkan kepala, dia lantas masuk ke dalam dan mencari semua pekerja rumah untuk di beri arahan. Rencananya Farah mau mengetes kejujuran menantunya itu, dia butuh kerja sama dari pekerja rumah agar tidak ketahuan bohong.


Kini semua pekerja rumah sudah berkumpul di belakang, Farah lalu membisikkan sesuatu pada mereka.


"Kalian mengerti kan.?" Ulang Farah memastikan.


Mereka kompak mengangguk.


"Mengerti Nyonya." Sahutnya bersamaan. Tidak sulit membujuk mereka untuk bekerja sama, justru mereka senang melakukannya agar keburukan Julia selama ini terbongkar.


Karna selama ini Julia memang sering berbuat seenaknya, galak dan kasar pada semua pekerja rumah. Jadi anggap saja sekarang mereka sedang membalas perlakuan Julia lewat Farah.


"Bik Inah,,,!! Ambilkan orane jus dingin,!" Seru Julia seraya memasuki dapur bersih.


"Bik Inah sedang beres-beres di belakang, kamu ambil saja sendiri."


Julia gelagapan bukan main ketika mendengar suara Mama mertuanya yang menyahut.


Begitu sampai di dapur, Julia hanya bisa tersenyum kaku melihat Mama mertuanya sedang mengupas buah sambil duduk di depan meja makan.


"Ma-Mamah,,?" Sapa Julia gugup.


Farah melirik sekilas, lalu fokus kembali mengupas buah di tangannya.


"Mama kapan datang.?" Julia kelihatan panik, takut ketahuan kalau semalam tidak pulang dan baru kembali ke rumah siang ini.


"Belum lama, mungkin 3 jam yang lalu." Jawab Farah bohong. Julia diam-diam menghela nafas lega.


"Kamu dari mana saja Julia.?" Tanyanya seraya menatap mata Julia. Sebenarnya tanpa melihat mata ya sekalipun, Farah bisa tau mana jawaban jujur dan mana yang bohong.


Tapi Farah ingin melihat saja bagaimana ekspresi Julia saat sedang berbohong padanya.

__ADS_1


"Itu, biasa ada acara arisan tas, Mah." Jawab Julia cepat, tapi tidak menatap Farah dan berlalu ke lemari pendingin untuk mengambil minum.


Terlihat sekali Julia menghindari tatapan Farah.


"Kata Bik Inah kamu pergi dari pagi, memangnya harus sepagi itu acaranya.?" Cecar Farah yang sebenarnya hanya mengarang cerita sendiri.


Julia terdiam di depan kulkas yang sudah dia buka. Julia cukup lega mengetahui pekerja rumahnya itu tidak mengadu pada Farah kalau sebenarnya dia pergi sejak kemarin malam. Setidaknya Julia merasa terselamatkan.


"Rumah teman ku lumayan jauh Mah, ada di pinggiran kota, jadi harus jalan dari pagi." Jawabnya setelah diam beberapa saat.


Farah dalam hati berdecak geram atas kebohongan menantunya itu. Lagipula Julia juga tidak akan yang mau mengaku kalau semalam dia tidak pulang.


"Lalu bagaimana hubungan kamu dengan Hendry.? Apa dia tidak mau tinggal disini lagi.?"


Julia seketika memasang wajah memelas, lalu menghampiri Farah dan duduk di depannya.


"Hendry sudah tidak mau datang ke rumah ini lagi, bahkan tidak mau menjawab telfon ku. Pasti Bella yang menghasut Hendry, wanita itu benar-benar licik.!" Cerocos Julia dengan kilatan amarah di matanya.


Julia bicara omong kosong, padahal sejak kemarin Hendry masih menyempatkan diri menemui Ale dan mengajaknya jalan ke luar.


"Bukannya Bella menghilang.? Hendry bahkan tidak tau Bella ada di mana." Seloroh Farah yang beberapa hari lalu mendengar kabar kalau Bella menghilang, dan Hendry masih berusaha mencari keberadaan Bella.


"Benarkah.?" Seru Julia tampak senang.


Dia padahal sudah berencana untuk menculik Bella atas bantuan Rexy. Lalu melenyapkan wanita itu agar tidak menganggu kebahagiaannya lagi.


Farah hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan Julia.


...******...


Waktu terus berjalan. Bella hanya menghabiskan waktu seharian di dalam kamar. Sudah di bujuk keluar untuk duduk di taman belakang oleh Hendry, tapi Bella menolak.


Alhasil sampai menjelang malam, mereka hanya di dalam kamar saja dan duduk di balkon kamar menikmati pemandangan sore hari.


"Sudah gelap, sebaiknya masuk ke dalam." Hendry berdiri dari kursinya sembari memegang laptop yang sejak tadi dia pakai untuk beberapa email.


"Ayo,," Hendry mengulurkan tangan kanannya pada Bella, wanita itu ragu-ragu menerima uluran tangan Hendry. Walaupun sudah berjam-jam di dalam satu ruangan, tapi interaksi mereka masih kaku dan canggung.


"Nanti makan malam di bawah saja. Apa kamu tidak bosan di kamar terus.?" Ucap Hendry setelah menutup pintu balkon.

__ADS_1


"Aku malas turun." Sahut Bella.


"Nanti biar aku gendong." Jawab Hendry cepat.


Bella melirik dengan mata yang membulat sempurna karna Hendry asal bicara.


"Kenapa.? Kamu malu di lihat orang.?" Goda Hendry yang terkesan bicara serius.


"Kalau begitu nanti aku suruh Bik Lastri dan Bik Dina menunggu di kamar mereka sampai aku selesai menggendong kamu ke ruang makan." Ujarnya.


Bella mencebik, lalu memukul lengan Hendry dan berjalan mendahuluinya menuju sofa.


Hendry terkekeh pelan, lalu menyusul Bella yang sudah menyalakan televisi.


Hendry sampai bosan sendiri dengan kegiatan ibu hamil yang satu itu. Sejak pagi di kamar terus, tidak mau keluar. Kalau sudah tidak ada topik obrolan, berlanjut nonton film, atau duduk di balkon. Begitu seterusnya sampai sore.


...******...


"Sudah waktunya makan malam, ayo turun." Ujar Hendry seraya mengusap pucuk kepala Bella dengan gemas.


"Makan disini saja." Bella tampak bermalas-malasan. Sekarang malah menyandarkan tubuhnya di sofa. Sebenarnya itu kode alami dari ibu hamil yang minta di manja-manja, di peluk, di usap-usap. Tapi Hendry tidak peka, cuma duduk disebelah Bella seperti kanebo kering. Mau mengusap kepalanya saja seperti ragu-ragu dan hanya sebentar.


"Aku yang bosan di kamar seharian." Keluhan Hendry.


"Makan di bawah juga sama saja kan.? Biar aku gendong kalau kamu malas turun ke bawah." Ucap Hendry dan detik itu juga langsung mengangkat tubuh Bella. Bella sempat teriak, lalu reflek mengalungkan tangannya di leher Hendry untuk berpegangan.


"Pelan-pelan.! Aku takut jatuh.!" Pekik Bella takut.


"Kalau begitu jangan banyak bergerak, tetap diam dan peluk yang erat." Sahut Hendry seraya menatap wajah Bella dalam gendongannya.


Bella menurut saja dengan perintah Hendry karna tidak mau jauh. Jadi langsung mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah di dada bidang Hendry. Sekalian mencuri-curi kesempatan untuk menghirup dalam-dalam aroma maskulin dari tubuh Hendry yang membuatnya merasa tenang.


Sementara itu, Hendry diam-diam mengulum senyum karna bisa menggendong dan di peluk Bella. Dia gemas sendiri melihat Bella menyembunyikan wajah di dadanya.


Tanpa bisa membaca isi hati masing-masing, tapi kini keduanya sedang merasakan hal yang sama. Sama-sama bahagia dan merindukan momen-momen kedekatan seperti itu.


Selesai makan malam dan menghabiskan waktu di ruang keluarga dengan menonton dan membahas rencana mereka kedepannya, Hendry mengajak Bella ke kamarnya untuk istirahat karena sudah pukul 9 malam.


Hendry juga harus segera pulang ke apartemen agar bisa mengurus masalah rekaman cctv yang sudah ada di tangannya. Hendry akan menggunakan barang bukti itu untuk mempercepat proses perceraiannya dengan Julia.

__ADS_1


"Aku temani kamu sampai tidur, malam ini aku harus pulang ke apartemen." Ujar Hendry sambil membukakan pintu kamar Bella.


Bella terdiam, seperti tidak rela Hendry pulang. Tapi dia juga malu melarang Hendry. Alhasil hanya mengangguk, seolah mengijinkan Hendry pulang.


__ADS_2