
Nanti malam akan digelar acara anniversary pernikahan Baskoro dan Natalie yang ke 28 tahun di kediaman utama Baskoro. Julia dan Bella sudah pasti hadir karna sama-sama darah daging Baskoro meski terlahir dari rahim yang berbeda.
Bella sebenarnya malas setiap kali harus menginjakkan kakinya di rumah Baskoro. Rumah besar nan mewah itu sama sekali tidak ada istimewanya bagi Bella. Ada beberapa kenangan buruk yang terjadi di sana atas perlakuan Natalie dan Julia.
Jika tidak menghargai kebaikan Baskoro padanya selama ini, Bella lebih baik melupakan orang-orang itu dan pergi sejak lama dari kehidupan mereka sejauh mungkin. Karna tidak ada kenangan indah yang Bella dapatkan dari sana.
Pagi-pagi sekali Bella sudah siap-siap, dia dan Julia memang diminta datang pagi, meski acaranya akan digelar nanti malam.
Bella sudah menyiapkan semua keperluan Ale yang ada dibutuhkan selama di rumah Opa dan Omanya. Begitu juga dengan keperluan Bella sendiri.
"Bella,,!! Bella.!! Mana tas Ale.!!" Teriak Julia tak sabaran. Dia membuka paksa pintu kamar Julia tanpa permisi.
Bella terkesiap di depan meja rias, dia menyudahi memoles lipstik dan langsung menghampiri Julia.
"Sudah aku masukan ke bagasi mobil Mas Hendry, Kak." Jawab Bella.
Julia berdecak kesal, kalau tau perlengkapan Ale sudah ada di mobil suaminya, dia tidak akan membuang-buang waktu mendatangi kamar Bella.
"Kenapa tidak bilang dari tadi.! Membuatku capek saja.!" Julia menggerutu.
"Maaf Kak." Ucap Bella mengalah. Karna percuma saja berdebat dengan Julia.
"Kita mau jalan sekarang Kak.?" Tanya Bella saat melihat Julia akan beranjak dari sana.
Julia sontak berbalik badan, menatap Bella dengan tatapan sinis.
"Kita.?! Siapa juga yang ingin mengajak kamu.!" Sahutnya sewot.
"Kamu berangkat saja pakai taksi.! Jangan coba-coba pakai mobil di rumah ini, apalagi ikut mobil kami.!" Ketusnya kemudian pergi begitu saja. Sikap angkuh dan sombongnya tak pernah pudar meski dimakan waktu dan usia. Julia tetap Julia yang akan selalu membenci Bella dan berbuat semena-mena karna kehadiran Bella merusak kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga kedua orang tuanya.
Bella mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar. Tapi bukan Bella namanya kalau tidak berbuat sesuatu.
__ADS_1
Ponsel sudah di tangan, Bella menghubungi Hendry sembari menutup pintu kamar.
Kalau Julia tidak mengijinkannya ikut di mobil Hendry, Bella bisa memintanya langsung pada pemilik mobil.
"Ya Bella, ada apa.?" Suara Hendry terdengar lirih di seberang sana, mungkin takut ketahuan Julia.
"Kenapa aku tidak boleh ikut di mobil Mas Hendry, kita kan satu tujuan." Bella langsung merengek, terdengar seperti menahan menangis.
"Siapa yang bilang begitu.? Kamu dimana sekarang.?" Cecar Hendry yang mulai terdengar gelisah.
"Kak Julia, dia melarangku ikut di mobil yang sama. Mas Hendry tolong bilang pada Kak Julia supaya aku boleh ikut ya. Aku akan ke depan sekarang. Makasih Mas Hendry, byee,," Bella memutuskan sepihak panggilan telfonnya, dia buru-buru ke halaman depan agar tidak di tinggal oleh Julia.
Padahal Hendry juga belum tentu bisa menyanggupi permintaan Bella, tapi Bella sudah terlanjur yakin kalau Hendry pasti akan melakukan apapun untuknya. Apalagi semalam Bella baru saja memberikan full service untuk Hendry, sampai pria beristri itu kelepasan menyemburkan benihnya di dalam rahim Bella.
Hendry padahal sudah membawa 2 pengaman ke kamar Bella, tapi ternyata masih lanjut 1 ronde lagi. Alhasil tidak pakai pengaman di ronde ke tiga. Saking nikmatnya permainan Bella, Hendry tidak sempat mencabutnya dan sudah keburu menyembur di dalam.
...*****...
Selama perjalanan, Bella asik bercengkerama dengan Ale. Sesekali dia melihat kemesraan Julia pada Hendry yang menurutnya sangat berlebihan.
Bella bukannya cemburu, dia hanya tidak Terima saja melihat Julia selalu bahagia dan hidup bersama pria sebaik Hendry.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam, mereka akhirnya sampai di rumah mewah Baskoro. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Baskoro dan Natalie yang memang sudah menunggu sejak tadi.
Namun Natalie hanya ramah pada Julia, Ale dan Hendry saja. Wanita paruh baya itu seolah tidak menganggap keberadaan Bella.
"Cucuku tersayang,," Natalie langsung mengambil Ale dari gendongan Julia. Tadi sebelum sampai di rumah Baskoro, Julia sudah mengambil Ale dari pangkuan Bella.
"Hendry, Julia, ayo masuk. Biar Mbak saja yang bawa barang-barang kalian." Ajak Natalie dengan suara lantang. Dia sengaja terang-terangan tidak menganggap keberadaan Bella di sana.
"Ayo sayang,," Julia langsung menggandeng lengan Hendry dan mengajaknya masuk ke dalam.
__ADS_1
Baskoro masih di sana, dia tadi sempat memeluk Ale, menantu dan kedua anaknya.
"Gimana kabar kamu.?" Tanya Baskoro sembari merangkul bahu Bella dengan tatapan penuh sayang. Kehadiran Bella memang tidak pernah Baskoro harapkan sebelumnya, tapi semuanya sudah terjadi. Lagipula Bella hadir karna kesalahannya sendiri dan orang yang tidak bertanggungjawab. Jadi tidak adil rasanya kalau dia mengabaikan darah dagingnya sendiri.
"Seperti yang Papa lihat, aku baik-baik saja." Jawab Bella.
"Kantung mata Papa semakin besar, apa Papa tidak tidur dengan baik.?" Bella menatap lekat wajah Papanya yang terlihat lesu dibanding 3 minggu yang lalu.
"Papa selalu tidur teratur dan cukup, kamu mungkin lupa kalau Papa semakin tua." Sahut Baskoro sambil terkekeh santai.
"Kapan kamu akan menikah.? Akhir-akhir ini Papa tidak tenang memikirkan masa depan kamu." Baskoro menghentikan langkahnya di depan pintu masuk. Bella juga ikut berhenti.
Bella tersenyum.
"Usiaku masih 22 tahun Pah, belum berfikir untuk menikah dalam waktu dekat. Papa tidak perlu mengkhawatirkan masa depanku, aku akan baik-biak saja." Sahut Bella santai.
"Kalau begitu terima saja tawaran Papa, Arlan juga masih sendiri sampai sekarang." Ujar Baskoro penuh harap.
Bella langsung menggeleng tidak mau.
"Arabella, status bukan masalah penting. Walaupun Arlan duda, tapi dia pria yang baik dan dewasa. Papa yakin dia bisa menjaga dan melindungi kamu." Terangnya berusaha membuka pikiran Bella.
Baskoro juga tidak mungkin menjodohkan putrinya dengan sembarang pria. Dia sudah kenal Arlan dan keluarganya dengan baik.
"Bukan begitu Pah, Bella tau Mas Arlan orang yang baik. Hanya saja,,," Bella menghentikan sejenak ucapannya. Dia tidak memikirkan untuk menikah karna hanya ingin balas dendam saja pada Julia, setelah itu memulai hidup baru seorang diri.
"Hanya apa.? Apa kamu sudah punya pacar.? Kenapa tidak di kenalkan sama Papa.?" Cecar Baskoro antusias.
"Tidak Pah, Bella hanya belum ingin menikah dalam waktu dekat."
Baskoro tampak menghela nafas berat, dia juga tidak bisa mendesak Bella lebih jauh.
__ADS_1