
Dengan handuk yang masih melilit di pinggang, Hendry muncul dari kamar mandi bersama Bella di belakangnya. Langkah Hendry sedikit lebih cepat, dia berbelok ke arah nakas, dimana ada ponsel miliknya yang berdering sejak tadi.
Bella hanya melirik sekilas tanpa ingin tau siapa yang menghubungi suaminya. Dia memilih pergi ke walk in closet untuk mengambil baju ganti miliknya, sekalian mengambilkan baju milik Hendry.
Kedua alis Hendry menukik tajam kala membaca nama kontak di layar ponselnya. Hendry hanya heran saja karna sudah lama asisten di rumah Julia tidak menelponnya.
Tanpa berfikir lama, Hendry langsung menjawab panggilan telfon dari Bik Inah.
"Apa Julia membuat ulah.?" Ucap Hendry cepat. Bik Inah bahkan belum mengeluarkan sepatah kata, tapi Hendry seolah sudah tau bahwa telfon dari Bik Inah ada kaitannya dengan Julia.
"Maaf Tuan, saya tidak tau harus minta tolong dengan siapa lagi. Nyonya Julia baru saja di larikan ke rumah sakit karna pingsan. Mulut Nyonya berbusa." Tutur Bik Inah panik.
Hendry terkejut dan hampir terbawa suasana mendengar penuturan Bik Inah tentang kondisi Julia yang memprihatinkan, namun Hendry segera menepis perasaan itu. Karna dia dan Julia sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, hanya sebatas mantan suami istri meski ada Ale di tengah-tengah mereka.
Kondisinya sudah berbeda, sekarang ada Bella yang harus dia jaga perasaannya. Jadi Hendry berusaha menghilangkan perasaan yang berlebihan pada mantan istrinya itu.
"Bik Inah tidak usah khawatir, saya yang akan mengurus administrasinya. Kirimkan saja alamat rumah sakitnya." Ujar Hendry tampak tenang.
Di seberang sana, Bik Inah malah makin bingung dengan jawaban Hendry. Sepertinya mantan suami majikannya itu tidak mau datang ke rumah sakit. Padahal bukan hanya bantuan materiil saja yang Bik Inah butuhkan, tapi dia lebih mengharapkan Hendry datang ke rumah sakit agar bisa menjadi wali pasien jika terjadi sesuatu pada Julia. Jujur saja, Bik Inah tidak tau nanti harus melakukan apa di rumah sakit. Dia hanya asisten rumah tangga Julia, tidak berani kalau seandainya pihak rumah sakit meminta persetujuan darinya untuk memberikan tindakan pada Julia.
"Apa Tuan tidak bisa datang ke rumah sakit.? Saya tidak bisa menjamin Nyonya Julia seandainya terjadi sesuatu di rumah sakit. Saya hanya asisten rumah tangga." Ujar Bik Inah memelas.
Hendry tampak dilema, dia ragu untuk datang ke rumah sakit dan berurusan lagi dengan Julia. Takut kedatangannya hanya akan membuat Julia salah paham dan menganggapnya masih memiliki perasaan.
"Kirim saja alamat rumah sakitnya, nanti saya kabari lagi." Jawab Hendry sebelum mengakhiri sambungan telfonnya.
Pria itu menghela nafas kasar sambil meletakkan ponselnya di tempat semula.
"Apa ada yang sakit.?" Suara lembut Bella mengagetkan Hendry. Pria itu reflek berbalik badan.
Bella baru saja berdiri di belakang Hendry beberapa detik yang lalu dan sempat mendengar ucapan Hendry sebelum memutuskan panggilan telfonnya. Wanita hamil itu sudah memakai dress putih motif bunga dan panjang selutut. Rambutnya yang masih setengah basah di biarkan tergerai. Di tangannya ada baju ganti milik sang suami.
__ADS_1
"Pakai baju dulu," Kata Bella sembari menyodorkan baju ganti itu. Hendry mengukir senyum menerima baju yang di siapkan oleh Bella. Pria itu langsung memakai kaos polos berwarna putih. Bella masih setia di dekat suaminya, sama sekali tidak terganggu saat Hendry melepaskan handuk yang sejak tadi melilit di pinggang. Sudah biasa melihatnya, Bella sudah tidak malu-malu lagi, paling masih heran saja dengan ukurannya yang tidak biasa.
Hendry diam-diam melihat lirikan mata Bella yang mengarah pada pangkal pahanya setelah membuka handuk. Pria itu sampai mengulum senyum karna tingkah istrinya yang curi-curi pandang pada benda pusakanya.
"Aku tau kamu sangat menyukainya." Ujar Hendry menggoda.
Bella sempat melotot, kemudian memalingkan wajah karna malu ketahuan menatap burung Hendry yang sudah tidur itu.
Sebenarnya bisa saja Bella mengakuinya, tapi dia tidak mau membuat Hendry semakin percaya diri dengan kelebihan yang dimiliki.
"Mas Hendry belum jawab pertanyaanku, apa ada yang sakit.? Kenapa tadi minta alamat rumah sakit." Cecar Bella, dia sengaja mengalihkan topik pembicaraan supaya tidak perlu menanggapi perkataan Hendry.
Hendry sudah selesai memakai celana pendek, dia kemudian menarik tangan Bella agar duduk di tepi ranjang.
Kalau sudah menikah ataupun berkomitmen dengan seseorang, sebaiknya harus saling terbuka, tidak di sarankan menyembunyikan hal sekecil apapun kepada pasangan. Karna bisa menyebabkan retaknya suatu hubungan.
Dan hal itu yang sedang di hindari oleh Hendry. Dia tidak akan menyembunyikan apapun dari Bella, terlebih sesuatu yang berhubungan dengan Julia.
Bella terlihat syok, dia langsung memberondong Hendry dengan banyak pertanyaan tentang kronologi dan kondisi Julia saat ini.
Hendry hanya menggeleng, dia jelas tidak tau bagaimana kronologi dan keadaan Julia saat ini, sebab Hendry tidak bertanya apapun pada Bik Inah.
"Ayo ke rumah sakit sekarang." Ajak Bella seraya beranjak dari duduknya, bahkan menarik tangan Hendry agar ikut beranjak. Tapi Hendry malah diam saja dan masih duduk di tepi ranjang sambil mendongak menatap Bella.
"Kamu yakin.?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Hendry. Bagaimana bisa Bella terlihat sangat peduli pada Julia setelah apa yang sudah mereka lalui sampai detik ini. Tentang perlakuan buruk Julia, tentang balas dendam Bella.
Bella mengangguk yakin.
"Walaupun aku mengharapkan kehancurannya, tapi aku tidak tega mendengar kondisinya seperti itu." Ucap Bella dengan mata berkaca-kaca.
Dalam lubuk hatinya, Bella sangat menyesal karna pernah menjadi orang jahat dengan menghancurkan rumah tangga Julia. Meski semua itu di picu oleh perbuatan buruk Julia sendiri.
__ADS_1
Memang dasarnya terlahir baik, dari rahim wanita baik-baik, dan bibit yang baik pula. Jadi sekalinya berbuat jahat, Bella merasa sangat bersalah dan berdosa. Berbanding terbalik dengan Julia dan Natalie yang sampai detik ini tidak pernah merasa bersalah, sekalipun sudah membunuh Selena.
...******...
Hendry menggenggam erat tangan Bella sembari menyusuri lorong rumah sakit. Baskoro mengekori di belakang. Pria paruh baya itu memilih ikut saat melihat anak dan menantunya akan pergi ke rumah sakit.
"Bik Inah disana,," Seru Bella seraya menunjuk Bik Inah yang sedang mondar-mandir di depan ruang UGD.
Ketiganya buru-buru menghampiri Bik Inah. Wajah Bik Inah yang semula diliputi kepanikan, perlahan mulai lega saat melihat kedatangan Hendry dan yang lainnya.
"Nyonya Julia masih di tangani Dokter." Ujar Bik Inah.
Hendry mengangguk samar dan menatap pintu UGD yang tertutup rapat.
"Semoga baik-baik saja." Lirih Bella dengan genggaman di lengan Hendry yang semakin erat.
Hendry kemudian mengajak Bella untuk duduk, di susul Bik Inah dan Baskoro.
Tak berselang lama, seorang Dokter pria dan asistennya keluar dari ruangan. Semua orang langsung berdiri dan menanyakan keadaan Julia.
"Bagaimana kondisi pasien Dok.?"
Dokter itu tampak menghela nafas berat, tapi dengan ekspresi wajah biasa saja.
"Pasien over dosis obat penenang, beruntung tidak terlambat di bawa ke rumah sakit." Jelasnya.
"Saat ini pasien belum sadarkan diri, kami akan memindahkannya di ruang perawatan."
"Sebaiknya di dampingi 24 jam." Tambahnya sebelum pamit dari sana.
Bella langsung bernafas lega, setidaknya nyawa Julia bisa tertolong.
__ADS_1