
Beberapa hari tidak datang ke kantor setelah menikah, sekalinya masuk, pekerjaan menumpuk. Banyak berkas yang harus di cek ulang dan tanda tangani. Belum lagi harus bertemu dengan klien dan memimpin beberapa rapat yang sudah di reschedule.
Hari ini jadwal padat, saking padatnya sampai pulang larut malam. Kondisi rumah sudah sepi, hanya security yang masih terjaga di Pos depan.
Di dalam rumah seperti tidak ada penghuninya, beberapa lampu utama juga sudah di matikan.
Yang lain mungkin sudah tidur nyenyak.
Hendry lalu naik ke lantai 2, dia membuka perlahan pintu kamarnya yang tidak terkunci.
Hendry makin hati-hati saat melihat Bella sedang terlelap di atas ranjang bersama Ale.
Setelah mengunci pintu, Hendry berjalan pelan ke arah ranjang. Beberapa saat dia menatap wajah damai istri dan anaknya yang tertidur pulas.
Hati pria 32 tahun itu seketika menghangat, kedekatan Bella dan Ale menjadi salah satu alasan kebahagiaannya selain bisa memiliki Bella dan calon anak kembarnya.
Hendry lantas menundukkan badan, pria itu mendaratkan kecupan singkat di kening Bella.
"I love you,," Lirih Hendry, pria itu kemudian senyum-senyum sendiri. Usianya sudah tidak muda lagi, tapi merasa seperti ABG yang baru jatuh cinta. Mungkin puber kedua sebelum waktunya.
Saat akan beranjak dari sana, Bella malah terlihat menggeliat dan perlahan matanya terbuka.
Wanita itu memang belum lama tertidur, karna sengaja menunggu Hendry pulang, tapi akhirnya ketiduran juga karna mengantuk.
"Maaf, kamu jadi bangun." Lirih Hendry. Tangannya reflek mengusap lembut pipi Bella. Wanita itu malas tersenyum seraya menggelengkan kepala.
Bella sedikit menjauhkan diri dari Ale, lalu bangun dari ranjang.
"Malam sekali pulangnya." Ujar Bella sambil melihat jam dinding, hampir jam 12.
"Mau aku buatkan teh hangat.?" Tawarnya. Bella sedang berusaha menjadi istri yang baik, melayani kebutuhan suami, terlebih di saat suaminya baru pulang bekerja seperti ini.
"Tidak usah, kamu tidur lagi saja. Aku mau mandi dulu,,"
__ADS_1
"Hari ini banyak kerjaan, sepertinya besok pulang terlambat lagi." Jawab Hendry. Tanpa aba-aba menyambar sekilas bibir Bella untuk di cium.
Bella mengulum senyum malu, Hendry jadi sering mengambip ciuman tiba-tiba semenjak menikah.
"Dari tadi aku nungguin Mas pulang, tapi malah ketiduran." Bella berdiri dan memeluk Hendry sekilas. Sekedar mengobati rindu setelah seharian tidak bertemu. Maklum bawaan hamil, terlebih tidak bisa jauh-jauh dari Hendry.
"Tidur laginya nanti saja, bareng sama Mas. Aku siapin baju gantinya ya." Kata Bella kemudian beranjak ke walk in closet. Hendry tidak melarang, pria itu juga ikut beranjak dari sana, tapi masuk ke kamar mandi.
Selang 10 menit, Hendry keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Bukannya pergi ke walk in closet, Hendry malah berbelok ke arah ranjang, menghampiri Bella yang tengah duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel di tangannya.
Merasa ada yang berdiri di depannya, Bella sontak mendongak. Di tatapannya Hendry yang sudah segar dengan rambut masih setengah basah.
"Bajunya ada di dalam Mas." Kata Bella memberi tau, dia juga mengarahkan telunjuknya ke pintu walk in closet.
"Percuma pakai baju, nanti juga di lepas." Ucap Hendry ambigu.
"Hah.?" Bella sampai melongo, seketika loading mendengar ucapan suaminya. Apa maksudnya nanti juga di lepas.? Rasanya tidak mungkin Hendry mau mengajak tempur tengah malam begini, mana baru pulang kerja, pasti cape.
"Belum ngantuk lagi kan.? Main dulu sebentar ya, ada yang minta dikeluarin." Bisiknya tepat di telinga Bella. Yang dapat bisikan sampai tubuhnya meremang. Tengah malam begini malah di ajak ber cinta. Bella jadi kesulitan menelan ludah, apa lagi aroma sabun langsung menguar di indera penciumannya. Wanginya khas dan menyegarkan, membuat Bella hanyut dan reflek mengangguk setuju.
Melihat Bella menganggukkan kepala, Hendry seketika tersenyum lebar dan langsung mengangkat tubuh Bella.
"Mainnya di sofa saja, di ranjang takut Ale bangun gara-gara ada gempa lokal." Ujar Hendry. Bella terkekeh kecil, suaminya ada-ada saja membuat perumpamaan.
Disaat penghuni rumah yang lain sedang pulas-pulasnya tidur dan terbang ke alam mimpi, pasangan suami istri itu malah main dokter-dokteran tengah malam. Main di jam 12 malam, mungkin Hendry ingin memacu adrenalin.
Handuk yang tadi melilit di tubuh kekar Hendry, sekarang sudah lepas dan tergeletak di lantai dekat sofa. Baju tidur Bella juga tampak berantakan, sudah tersingkap ke mana-mana akibat keterampilan tangan Hendry.
Saking terampilnya, celana da lam Bella sudah di turunkan sampai paha. Jari-jarinya bergerilya, mengusap-usap sesuatu di bawah sana yang membuat Bella jadi mende sah keenakan.
Mantan duda memang meresahkan, tidak heran kalau Bella sampai kecanduan.
10 menit berlalu. Setelah puas melakukan pemanasan yang membuat Bella menggelinjang, Hendry kemudian mengarahkan Bella agar membelakanginya dalam posisi masih di atas sofa. Kedua tangan Bella berpegangan pada senderan sofa. Sementara itu, Hendry berdiri di belakang Bella dan siap maju mundur nik mat.
__ADS_1
"Pelan-pelan Mas,," Tegur Bella saat gerakan maju mundur Hendry mulai tidak terkontrol.
"Iya sayang, dari tadi juga sudah pelan-pelan, tapi suka kebablasan." Jawab Hendry seraya menurunkan kecepatan.
Kalau sedang enak enak begitu mmemang suka lepas kendali, bawaannya mau ngebut biar makin terasa pijatannya.
Beberapa kali ganti posisi, akhirnya Hendry menyemburkan lahar panasnya. Bella bahkan sudah 2 kali di buat lemas.
Hendry lantas memeluk erat tubuh polos Bella dalam pangkuannya, posisi Bella membelakangi Hendry, membuat bibir pria itu terus-terusan menciumi punggung istrinya.
"Sayang,," Panggil Hendry lembut.
"Hemm,," Bella hanya berdehem di sela-sela nafas yang masih tersenggal. Dia kelelahan setelah main jungkat-jungkit di atas pangkuan Hendry. Walaupun gerakannya pelan, tapi tetap saja menguras tenaga dan keringat.
"Lusa aku berangkat ke Singapur. Ada meeting yang harus aku hadiri, sekaligus mau menjalin kerjasama dengan perusahaan di sana. Mungkin sekitar 4 hari di Singapur." Ujar Hendry.
Bella langsung menoleh, baru dengar akan ditinggal ke Singapur sudah membuat Bella tampak galau. Seharian tidak bertemu Hendry saja membuatnya uring-uringan, apalagi ini sampai 4 hari.
"Lama sekali, tidak bisa 2 hari saja.?" Bella malah mengajak negosiasi, dia kemudian memutar tubuh supaya berhadapan dengan Hendry.
"Malah seharusnya 1 minggu, tapi sisanya aku suruh Darren yang meng-handle sampai urusannya selesai." Tutur Hendry menjelaskan. Dia juga sebenarnya berat meninggalkan istrinya yang tengah hamil itu. Pasalnya Hendry tau kalau Bella tidak bisa lama-lama jauh darinya sejak hamil.
Tapi mau bagaimana lagi, urusan perusahaan juga penting demi kelangsungan hidup istri dan anak-anaknya supaya terjamin.
"Maunya sih ngajak kamu sama Ale, sekalian liburan. Tapi kasian si kembar kalau di ajak terbang, takut kenapa-napa." Hendry mengusap lembut perut istrinya. Pria itu tidak berani mengajak Bella naik pesawat, karna usia kehamilan Bella masih rawan.
"Iya aku mengerti." Ucap Bella pasrah.
"Aku sama Ale disini saja, menunggu kamu pulang." Ujarnya lalu memeluk Hendry dan meletakkan kepala di pundaknya.
Hendry mengangguk lega walaupun sedikit tidak tega.
"Bersih-bersih dulu, setelah itu pakai baju dan lanjutin tidurnya." Hendry mengangkat tubuh Bella sambil beranjak dari sofa. Pria itu membawa Bella ke kamar mandi dan membantunya bersih-bersih.
__ADS_1