Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 95


__ADS_3

Arseno memilih keluar dari ruang rawat inap Julia. Dia memang tidak tau ada hubungan apa wanita paruh baya itu dengan Julia, tapi Arseno mencoba memberikan ruang pada mereka berdua tanpa harus menganggunya. Jadi Arseno pamit keluar, walaupun dia belum selesai menyuapi Julia yang kini sudah mulai jinak.


Arseno punya cara tersendiri untuk membuat Julia patuh dan tidak berani mengamuk lagi. Dengan berbagai cara, mulai dari cara yang lembut sampai pemaksaan. Mungkin karna sudah terbiasa menangani pasien berbagai jenis sifat dan kadar emosi yang berbeda-beda, jadi tidak begitu sulit ketika harus menjinakkan Julia.


Terlebih Arseno punya misi khusus, itu sebabnya dia begitu gencar mendekati Julia.


Maklum sudah lama menduda, sekali ketemu wanita cantik dan seksi, jiwa kelelakiannya seketika ingin memiliki.


Tipe Arseno memang wanita usia matang, tidak terlalu muda apalagi tua. Yang paling penting cantik, seksi, tinggi dan modis. Ya, kira-kira seperti itu tipe ideal Arseno. Tapi memang hampir semua laki-laki menginginkan wanita seperti itu. Jadi tipe wanita Arseno masih terbilang wajar. Asalkan good looking dan good rekening, semuanya bisa di atur.


...*****...


"Bagaimana kondisi kamu.?" Tanya Farah seraya meletakkan parsel buah di atas nakas, Farah lalu duduk di kursi samping ranjang yang tadi di tempati oleh Arseno.


"Seperti yang Mama lihat." Jawab Julia datar. Rasanya dia tidak perlu menjelaskan seperti apa kondisinya, Mama mertuanya itu bisa melihat sendiri. Dengan jarum infus yang masih menancap dan wajah yang pucat, tanpa di jelaskan sekalipun, semua orang yang melihatnya pasti tau jika kondisinya tidak baik-baik saja.


Farah menarik nafas dalam, seperti apapun peringai Julia saat menjadi istri Hendry, Farah tidak pernah menginginkan kehancuran rumah tangga putranya sendiri. Tapi takdir berkata lain, Farah tidak punya kuasa untuk ikut campur lebih dalam. Apalagi saat mengetahui Hendry dan Julia sama-sama berselingkuh. Jelas tidak ada yang harus di bela ataupun di dukung. Keduanya sama-sama salah. Tidak peduli meski Julia yang lebih dulu bermain api di belakang Hendry.


"Mama harap kamu cepat sehat. Kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Ada Ale juga yang menunggumu, dia butuh Mommynya." Ujar Farah lirih.


"Kamu dan Hendry sama-sama bersalah, tindakan kalian tidak bisa dibenarkan. Perpisahan sudah menjadi resiko jika mengkhianati dan menodai pernikahan. Mama hanya ingin kamu menyadari kesalahan, lalu berubah menjadi pribadi yang lebih baik untuk membuka lembaran baru dan menyambut masa depan yang lebih cerah." Farah menatap lekat wajah Julia yang enggan menatapnya.


5 tahun menjadi mertua Julia, Farah sudah menganggap Julia seperti anaknya sendiri. Jadi tidak ada yang Farah inginkan selain kebahagiaan Julia di masa depan. Terlebih saat ini Hendry juga sudah bahagia dengan pilihannya, Julia pun berhak bahagia.

__ADS_1


"Mama tidak bermaksud menyudutkan kamu, Mama hanya ingin kamu juga bahagia seperti Hendry. Yang sudah terjadi, biar saja berlalu. Sekarang fokus pada kesehatan dan kebahagiaan kamu agar bisa berkumpul lagi dengan Ale." Ujar Farah yang tidak bosan memberikan nasehat meski tidak mendapatkan respon dari Julia. Wanita itu malah mengarahkan pandangan ke arah lain dengan tatapan menerawang. Entah mendengarkan ucapan Farah atau tidak. Julia seperti sedang bergulat dengan pikirannya sendiri.


"Julia,,, kamu baik-baik saja.?" Farah menyentuh lengan mantan menantunya karna sejak tadi hanya diam saja. Bukannya mendengarkan ucapannya, Julia malah terlihat melamun.


Julia menoleh, matanya sudah berkaca-kaca. Nyatanya kehancuran rumah tangganya bukan hanya kesalahan Hendry dan Bella saja. Julia sadar bahwa dia yang lebih dulu berselingkuh. Tidak peduli meski hanya semalam tidur dengan laki-laki lain, tetap saja bisa dibilang perselingkuhan. Apalagi setelah itu Juli mengulangi perbuatannya lagi sampai berkali-kali.


Julia kini membenarkan perkataan Farah kalau dia dan Hendry sama-sama bersalah.


"Maaf sudah mengecewakan Mama,," Lirih Julia dengan suara tercekat. Wanita yang sejak dulu tidak pernah mengatakan maaf, kini kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. Julia sudah benar-benar sadar akan kesalahannya.


Farah menggeleng.


"Tidak ada yang perlu di maaafkan, Mama hanya ingin kamu menerima kenyataan dan memulai hidup lebih baik lagi. Cari kebahagiaanmu karna hidup terus berjalan." Ujar Farah menguatkan. Dia lalu berdiri dan menarik Julia dalam dekapan.


Farah tidak menaruh kebencian sedikitpun pada mantan menantunya. Meski dia pernah kecewa dengan sikap dan perbuatan Julia.


Karna semua orang pasti pernah berbuat kesalahan, asal mau mengakui kesalahan dan berusaha berubah lebih baik lagi.


...******...


Pagi itu Bella sibuk menyiapkan keperluan suaminya yang akan terbang ke Singapur 2 jam lagi. Selain sibuk menyiapkan keperluan Hendry, Bella juga sibuk menegur suaminya yang terus menempel padanya seperti perangko.


"Mas,, sudah sana turun kebawah, temani Mama." Bella menyingkirkan kedua tangan Hendry yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Jangan di kamar terus, nanti Mama berfikir macam-macam." Tidak puas hanya menyingkirkan tangan Hendry, Bella memilih bergeser menjauh. Dia sedang memasukkan beberapa baju kantor dan baju santai Hendry ke dalam koper, tapi tidak selesai-selesai karna Hendry terus mengganggunya.


"Mama sedang main sama cucunya, aku tidak mau mengganggu." Jawab Hendry beralasan. Bella memutar bola matanya malas. Suaminya itu punya beribu alasan untuk menempel padanya.


"Lagipula biarkan saja kalau Mama berfikir macam-macam, kenyataannya aku memang ingin macam-macam." Hendry seketika memepet tubuh Bella. Padahal Bella sudah menghindar, tapi Hendry tidak peka.


"Nanti kita tidak bertemu selama 4 hari, aku butuh amunisi sebelum berangkat." Hendry kembali memeluk Bella dari belakang.


Bella hanya bisa menggelengkan kepala, sepertinya Hendry tidak akan melepaskannya sebelum mendapat amunisi.


"Mas,," Tegur Bella pelan. Tangan Hendry sudah tidak bisa dikondisikan, tiba-tiba mendarat di atas bukit kembar Bella dan memainkan pucuknya yang tidak dibalut kain berbentuk kacama.


"Aku selesaikan dulu ya masukin baju-bajunya." Kata Bella seraya menyingkirkan tangan Hendry.


Pria itu tampak menekuk wajah, dia kemudian duduk di sofa dan menunggu Bella sampai selesai memasukkan baju ke dalam koper.


"Sudah kan.?" Hendry menempel di punggung Bella, padahal Bella baru saja menutup koper. Benar-benar tidak sabaran.


"Disini.?" Tanya Bella. Dia tidak protes lagi ketika Hendry membuka kancing piyamanya satu persatu. Kasian juga kalau menolak keinginan Hendry, karna selama 4 hari ke depan, mereka tidak bisa main jungkat-jungkit.


"Kelamaan kalau harus pindah ke ranjang, sambil berdiri juga sama saja rasanya. Sama-sama nikmat." Seloroh Hendry tanpa filter.


Detik berikutnya tubuh Bella sudah menegang akibat rangsangan dari kedua tangan dan bibir Hendry. Pria itu paling bisa membuat Bella terbuai dan hanyut dalam sentuhan yang memabukkan.

__ADS_1


Ruang walk in closet menjadi saksi pertempuran panas suami istri itu.


__ADS_2