
"Makan dengan benar dan habiskan.!" Tegas Arseno pada pasiennya. Setelah membuat pasiennya berhenti mengamuk, Arseno belum beranjak dari kamar VVIP itu. Entah karna merasa bertanggungjawab atas kondisi pasiennya, atau karna ada maksud lain. Yang jelas hanya Arseno saja yang tau. Hanya saja ekspresi datar dan nada bicara yang dingin, membuat Julia jadi kesal pada Dokter tersebut. Julia sampai beberapa kali melirik sinis ke arah Dokter yang menurutnya sangat menyebalkan itu.
"Apa kau tidak punya kerjaan lagi.? Pasienmu sudah habis.?" Ujar Julia sewot, lalu tersenyum mengejek sambil mengangguk-anggukan kepala.
"Aku tau, pasti tidak ada yang betah jadi pasienmu kan.?!" Tebaknya yakin.
Melihat bagaimana Arseno terlalu jauh ikut campur, sampai mengancam ingin mencium dan mengawasinya makan, Julia berfikir kalau semua pasiennya tidak mau di obati oleh Dokter itu.
"Keras kepala.!" Lirih Arseno penuh penekan, namun suaranya masih bisa di dengar oleh Julia meski samar-samar. Kembali Julia di buat senewen, entah apa yang diinginkan oleh Dokter itu.
Arseno kemudian beranjak dari samping ranjang pasien, dia bukan keluar dari ruangan itu seperti yang ada dalam pikiran Julia, namun Arseno malah meraih tisu di atas nakas dan kembali mendekati ranjang.
Sambil berdiri di samping ranjang, Arseno melakukan sesuatu yang mampu membuat Julia memaku. Hanya kedua manik mata Julia saja yang bergerak, melirik wajah Arseno yang tengah menunduk didepannya sambil mengusap sudut bibirnya menggunakan tisu.
"Sudah aku bilang, makan dengan benar.! Seperti anak kecil saja." Cibir Arseno kemudian membuang tisu bekas itu ke tempat sampah, lalu pergi begitu saja dari kamar inap Julia.
Pria itu meninggalkan Julia yang masih membisu, bahkan masih mematung karna belum bergerak sedikitpun sejak Arseno melakukan hal yang tak biasa. Pikiran Julia mendadak berkecambuk, kini mulai penasaran dengan sosok Dokter yang katanya pernah bertemu dengannya. Padahal Julia belum ingat pertemuan mereka. Tapi tidak heran kalau Julia belum ingat, karna saat itu kondisi Julia sedang mabuk. Dia pasti tidak mengingat dengan baik wajah Arseno dan kejadian malam itu.
"Kalian bisa masuk, sebaiknya pasien tetap di awasi 24 jam." Kata Arseno pada Bik Inah dan Zira yang sejak tadi menunggu di luar ruangan.
"Baik Dokter, terimakasih." Ucap Bik Inah, keduanya kemudian bergegas masuk ke ruangan Julia untuk menjaga majikannya.
...******...
Sore itu Hendry mengajak Bella ke rumah orang tuanya. Keduanya berniat menginap semalam di sana sebelum meminta ijin untuk mengajak Ale tinggal bersama mereka. Karna rumah baru Hendry sudah bisa di tempati. Pria itu berencana memboyong keluarga kecilnya tinggal di istananya, memulai hidup baru, dengan pasangan baru dan akan menambah 2 anggota baru. Hendry punya sejuta harapan terbaik untuk keluarga kecilnya itu.
"Hati-hati sayang,," Kata Hendry saat membantu Bella turun dari mobil mewahnya. Pria itu sampai memegangi tangan dan bahu sang istri, membuat Bella tampak geleng-geleng kepala. Hendry ini terlalu lebay atau memang sangat perhatian, mau turun dari mobil saja harus menunggu bantuannya. Tidak boleh turun sendiri. Tapi meski begitu, Bella cukup bersyukur di banding punya suaminya yang acuh.
__ADS_1
"Perutmu sudah kelihatan besar. Lusa jadwal check up kan.?" Tanya Hendry seraya mengusap perut buncit sang istri. Matanya tampak berbinar, pria itu selalu merasa terharu setiap mengingat di perut Bella ada si kembar. Hendry tidak menyangka bibitnya akan tumbuh subuh di rahim Bella sampai menghasilkan 2 anak sekaligus.
Bella mengangguk mengiyakan. Kandungannya sudah 13 minggu.
"Nanti sekalian kita bawa Ale ketemu Mommynya ya.?" Tanya Bella meminta persetujuan. Kebetulan rumah sakitnya sama dengan rumah sakit tempat Julia di rawat.
Hendry menghentikan langkah, dia menatap Bella dengan sorot mata tak setuju. Mendengar cerita dari Bik Inah tentang Julia yang mengamuk, Hendry ragu untuk menyetujui permintaan Bella. Bukannya tidak ingin mempertemukan Ale dengan Julia, masalahnya kondisi Julia sedang tidak stabil. Jiwanya sedikit terguncang, Hendry khawatir Julia lepas kendali jika mereka menemuinya.
"Besok kita tanyakan dulu bagaimana kondisi Julia." Jawab Hendry.
Bella mengangguk paham. Dia mengerti kekhawatiran Hendry terhadap Ale. Meski begitu, Bella berharap bisa mempertemukan Ale dan Julia secepatnya. Bagaimanapun, Julia pasti merindukan putrinya. Bella juga merasa bahwa kehadiran Ale sangat diperlukan untuk kesembuhan Julia.
Entah kenapa sejak melihat Julia sering datang kerumahnya sambil mengamuk, Bella jadi merasa iba padanya. Mendadak ingin selalu peduli dan memastikan keadaan Julia baik-baik saja.
Anggap saja perasaan iba dan rasa peduli itu sebagai bentuk penyesalan atas perbuatannya pada Julia.
...***...
Sementara itu, Hendry langsung mengambil Ale dari gendongan Mamanya dan mengajak Bella untuk bergabung di ruang keluarga.
"Julia masuk rumah sakit." Kata Hendry membuka obrolan.
"Mama sudah tau, tadi siang Bii Inah menelfon." Jawab Farah. Dia merasa kasihan pada mantan menantunya itu, tapi mau bagaimana lagi. Bella dan Hendry juga tidak sepenuhnya salah. Bagi Farah, mereka bertiga sama-sama salah. Jadi apa yang mereka alami saat ini tentu saja akibat perbuatan mereka masing-masing.
"Sebaiknya kamu ambil hak asuh Ale sampai kondisi Julia benar-benar pulih. Kalau sudah di pastikan pulih, Mama harap kamu tidak melarang Julia jika ingin membawa Ale tinggal bersamanya." Ujar Farah panjang lebar.
Terlepas dari keburukan menantunya, Farah tetap memikirkan perasaan menantunya itu. Dia tidak mau egois sebagai sesama Ibu.
__ADS_1
Hendry mengiyakan dan tidak protes sama sekali. Untuk urusan Ale, tentu saja dia ingin yang terbaik.
...***...
Bella membawa Ale dalam gendongannya untuk di bawa ke kamar Hendry. Balita gembul itu kelihatan sangat mengantuk setelah bermain dengan Bella. Jadi Bella berniat menidurkan Ale.
"Mau dibawa kemana.?" Suara Farah mengurungkan niat Bella yang sampai di depan pintu kamar Hendry.
"Ke kamar Mas Hendry, Mah. Sepertinya Ale mau tidur." Jawab Bella.
"Sini di kamar Mama saja, sekalian kamu juga tidur di sana. Ada yang ingin Mama bicarakan." Ujar Farah seraya mendekat, dia lalu mengambil Ale dalam gendongan Bella dan mengajak menantunya untuk ikut dengannya.
"Nanti Papa tidur dimana.?" Tanya Bella sambil mengekori mertuanya.
"Nanti tidur di kamar sebelah, Mama sudah bilang mau tidur dengan cucu dan menantu Mama." Sahut Farah dan langsung membuka pintu kamarnya yang tidak jauh dari kamar Hendry.
Bella tampak ragu masuk ke dalam, dia sempat menoleh kebelakang, pasalnya belum bilang pada suaminya. Takutnya nanti Hendry mencarinya. Mau mengabari Hendry juga tidak bisa, ponselnya sudah terlanjur di taruh di kamar Hendry setelah makan malam tadi.
"Langsung kunci saja pintunya." Suruh Farah.
"I-iiya Mah,," Bella menutup pintu ragu-ragu, kemudian menguncinya.
Bella mendadak galau, Hendry pasti akan mengomel padanya karna tidak minta ijin dulu. Mana sudah janji malam ini mau kasih jatah. Bisa-bisa besok pagi ada yang ngambek.
Farah membaringkan Ale di tengah-tengah ranjang, wanita paruh paya itu diam-diam mengulum senyum jahil. Dia memang sengaja membuat Hendry dan Bella pisah kamar. Habisnya kesal sendiri melihat putranya seperti perangko, tidak bisa jauh-jauh dari Bella.
Tadi saja sempat menolak saat Papanya mengajak membahas soal perusahaan. Tapi setelah di paksa, akhirnya mau bicara empat mata di ruang kerja.
__ADS_1