Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 46


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Bella masih ada di rumah sakit untuk menemani Papanya. Padahal di sana banyak suster dan orang suruhan Papanya yang bisa di andalkan, tapi Bella memilih tetap di sana. Khawatir terjadi sesuatu pada Papanya. Walaupun kondisinya sudah membaik paska sakit jantungnya kumat.


"Pulanglah, kamu istirahat saja di rumah. Besok sebelum Papa terbang ke Amerika, kita pergi dulu ke perusahaan untuk mengenalkan kamu pada semua karyawan." Ujar Baskoro. Tadinya dia punya waktu satu minggu lagi untuk mengadakan rapat kepemimpinan dan mengenalkan Bella sebagai penggantinya. Lalu mendampingi Bella memimpin perusahaan sebelum melakukan pengobatan di Amerika. Tapi jantungnya mendadak kumat. Keberangkatannya jadi dipercepat.


Bella menggeleng pelan.


"Bella tidur disini saja, menemani Papa." Ada kekhawatiran dan trauma dari sorot mata Bella ketika menatap Papanya yang sedang sakit. Bella takut kejadian 5 tahun silam terulang kembali, yang merenggut nyawa Ibunya secara mendadak. Setidaknya dengan menginap di rumah sakit, dia tetap ada di samping sang Papa jika hal buruk terjadi.


"Jangan membantah, Papa sudah lebih baik. Pengawal akan mengantarkan kamu pulang ke rumah Ibumu." Ucap Baskoro tegas. Dia lantas menggerakkan tangan untuk memanggil pengawal yang berdiri di dekat pintu.


Pengawal itu segera mendekat.


"Antarkan putriku pulang ke rumah kedua." Titah Baskoro pada pengawal itu.


"Baik Tuan. Mari Nona,," Ucapnya menatap Bella.


Mau tidak mau, Bella terpaksa meninggalkan ruangan VIP itu.


"Bella pulang dulu, Papa langsung istirahat saja setelah ini. Cepat sehat." Bella memeluk tubuh Papanya yang berbaring di ranjang. Matanya terpejam, menahan perih karna tiba-tiba ingin menangis.


"Hmm. Besok jangan lupa bersiap, Papa akan menjemputmu jam 8." Ucap Baskoro mengingatkan. Bella mengangguk paham, kemudian meninggalkan ruangan di ikuti pengawal di belakangnya.


...******...


Kini Bella sudah sampai di rumah. Wanita itu berbaring di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya yang sudah jarang dia tempati.


Sorot mata Bella menerawang jauh. Tampak banyak beban dan rencana yang sedang dia pikirkan. Balas dendamnya pada Julia sudah terancam gagal. Menggoda Hendry tidak membuat pria itu lebih condong padanya setelah apa yang sudah dia berikan pada kakak iparnya tersebut.


Namun Bella tidak mau berhenti begitu saja. Karna jika berhenti detik ini juga, maka dia yang akan hancur seorang diri. Sedangkan kehidupan Hendry dan Julia tetap baik-baik saja.


Bella tidak terima kalau seperti itu. Lebih baik hancur bersama-sama dengan mereka, agar jalan yang telah dia ambil tidak sia-sia.


"Kalian tidak boleh bahagia di atas penderitaanku.! Aku bersumpah akan membuat kalian hancur.!" Gumam Bella penuh amarah dan dendam.


Pada kenyataannya dendam hanya membuat diri sendiri hancur. Sebuah kejahatan, apapun alasannya, terkadang dengan mudah berbalik ke diri sendiri meski bertujuan memberikan efek jera pada orang-orang yang lebih dulu jahat pada kita.

__ADS_1


Sayangnya Bella sudah tutup mata akan hal itu. Hatinya sudah terlanjur diselimuti dendam dan sakit hati yang mendalam. Tidak peduli walaupun harus hancur bersama-sama.


Bella kemudian memutuskan tidur, besok pagi dia akan menggemparkan semua orang di perusahaan karna di percaya untuk memimpin perusahaan selama Papanya berada di Amerika. Bella sudah tidak sabar membuat kabar ini sampai ke telinga Natalie dan Julia.


Entah seperti apa reaksi mereka, melihat perusahaan yang selama ini mereka incar, tiba-tiba di serahkan pada Bella.


...*****...


Bella berdiri di depan cermin. Menatap pantulan dirinya dalam balutan baju formal dan sedikit polesan make up tipis. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan bentuk curly di bagian bawah.


Pagi ini Bella sudah siap memberikan kejutan pada Natalie dan Julia. Menerima tawaran Papanya untuk memimpin perusahaan sementara waktu adalah salah satu cara memberikan syok terapi pada kedua wanita tersebut.


"Orang serakah seperti kalian, apa masih bisa tertawa setelah melihat perusahaan jatuh ke tanganku." Gumam Bella dengan senyuman devil.


Tak hanya itu saja yang di harapkan Bella, dia bahkan sudah tidak sabar menunggu detik-detik kehancuran Natalie dan Julia saat kebusukan mereka terbongkar.


Tok,,


Tok,,


Tok,,


Di luar ada Bik Diah yang tadi mengetuk pintu kamar Bella.


"Tuan sudah menunggu di bawah, Nona." Ujarnya.


Bella mengangguk seraya tersenyum ramah.


"Terimakasih Bik, Bella pergi dulu." Pamitnya bergegas turun ke bawah.


Di ruang keluarga, Baskoro sudah menunggu di dampingi pengawal. Kondisinya terlihat sehat dan baik-baik saja. Di tambah dengan setelan jas, membuat penampilan pria 55 tahun itu tampak gagah dan berwibawa. Orang-orang yang melihat mungkin tidak akan percaya kalau sebenarnya Baskoro sedang sakit.


Bella tersenyum lega melihat Papanya tampak baik-baik saja. Bella menghampiri Baskoro dan Papanya itu langsung beranjak dari duduknya.


"Langsung ke perusahaan saja, semua orang sudah menunggu." Ucap Baskoro.

__ADS_1


Bella mengangguk tanpa protes. Sambil memegangi lengan Papanya, keduanya keluar dan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman.


...****...


Mobil mewah milik Baskoro berhenti di depan pintu masuk perusahaan. Beberapa pengawal di mobil berbeda sudah turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Bella dan Baskoro.


Bella terlihat gugup, dia sedikit tidak percaya diri untuk diperkenalkan pada semua orang sebagai pemimpin perusahaan, sedangkan usianya masih 22 tahun dan tidak punya pengalaman apapun.


Baskoro menoleh ke samping, menatap putrinya yang langsung mendekap lengannya. Baskoro bisa melihat wajah putrinya cukup gugup, ditambah tangan yang terasa dingin.


"Kamu harus percaya diri, tidak perlu gugup." Kata Baskoro seraya mengusap punggung tangan Bella.


Siapa yang tidak akan gugup seandainya di tunjuk secara tiba-tiba untuk memimpin perusahaan tanpa ada kesiapan sama sekali. Bella juga takut mengacaukan perusahaan besar itu jika tanpa sengaja melakukan kecerobohan dalam menggantikan Papanya.


Setelah memasuki perusahaan dan naik ke lantai 9, beberapa orang menyambut kedatangan Baskoro dan Julia.


"Silahkan Tuan, semua orang sudah berkumpul di dalam." Ucap salah satu dari mereka setelah membuka pintu ruangan yang biasa digunakan untuk mengadakan rapat besar-besaran, ataupun event-event di perusahaan itu.


Baskoro menggandeng putrinya masuk ke dalam ruangan. Bella semakin gugup dengan banyaknya orang di dalam sana. Mulai dari pejabat tinggi perusahaan sampai karyawan biasa, semua berkumpul dalam satu ruangan.


Bella masih ngikuti langkah Baskoro yang naik ke atas panggung dan berdiri di depan podium.


"Terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang lebih awal di perusahaan." Ucap Baskoro dengan penuh kewibawaan dan kharisma yang tinggi.


"Mungkin sudah banyak yang tau kenapa saya mengadakan rapat mendadak pagi ini. Tapi sebagian kecil mungkin belum mengetahuinya." Tuturnya. Suasana di ruangan itu sangat kondusif dan tenang.


Tapi beberapa detik kemudian malah berubah riuh dengan suara-suara yang saling berbisik. Itu karna Baskoro mengenalkan Bella sebagai orang yang akan menggantikan posisinya.


"Bella satu-satunya anak kandung saya. Untuk itu dia berhak atas perusahaan ini dan sementara akan menggantikan posisi Saya untuk beberapa minggu ke depan." Ucap Baskoro seraya menoleh pada Bella di sampingnya.


Kini suasana di perusahaan semakin tidak kondusif, banyak yang menanyakan dimana keberadaan putri pertama Baskoro dan penasaran dengan maksud ucapan Baskoro yang mengatakan bahwa satu-satunya anak kandung Baskoro hanya Bella.


Kalau hanya Bella satu-satunya anak kandung Baskoro, lalu siapa orang tua kandung Julia.? Wanita yang selama ini dikenal sebagai anak pertama Baskoro dari istri pertamanya.


Alih-alih fokus pada poin penting yang di sampaikan Baskoro, semua orang justru lebih fokus membahas soal Julia dan Natalie. Mereka jadi berfikir kalau Natalie telah berselingkuh dan Julia adalah anak dari hasil perselingkuhan Natalie. Beberapa orang juga ada yang berfikir kalau Julia hanya anak angkat.

__ADS_1


__ADS_2