
Sudah hari ketiga sejak Hendry pergi ke Singapur. Tapi situasi di rumah masih kondusif. Bella yang awalnya khawatir tidak bisa tidur karna jauh dari Hendry, nyatanya setiap malam bisa tidur nyenyak. Itu karna Hendry selalu melakukan pangggilan video setiap malam, bahkan sambungan telfonnya tidak di matikan sebelum Bella benar-benar tidur. Tidak heran kalau Bella tidur nyenyak karna merasa di temani oleh Hendry walaupun lewat panggilan video.
Hendry cukup intens memberikan kabar pada Bella, sehari bisa sampai 7 kali menelfon. Padahal sedang banyak pekerjaan, tapi masih sempat menelfon istri dan anaknya untuk sekedar melihat wajah mereka dan menanyakan kabar. Pria memang seperti itu kalau sudah bucin akut, prioritas keluarga nomor satu.
Seperti siang ini, Hendry melakukan panggilan video di ruang rapat. Baru selesai rapat, Hendry memilih menghubungi Bella dulu di banding pergi ke restoran untuk makan siang.
"Sudah selesai ya rapatnya.?" Tanya Bella setelah menerima panggilan video dari suaminya. 3 jam yang lalu Hendry sudah menelfonnya, sekedar laporan katanya mau rapat. Jadi setelah di telfon Hendry lagi, Bella tau kalau suaminya sudah selesai rapat.
"Baru saja. Kamu sedang apa.? Dimana Ale dan Mama.?" Hendry bertanya sambil menatap lekat wajah istrinya yang terlihat makin cantik dan glowing. Entah sebenarnya efek skincare yang di pakai Bella, atau karna efek bucin. Jadi kadar kecantikan Bella di mata Hendry selalu bertambah setiap harinya.
Bahkan sekarang tidak berkedip saat menatap Bella, alhasil membuat bumil jadi salting dan memalingkan wajah dari layar ponselnya. Bisa-bisa meleleh kalau terlalu lama di tatapan dalam seperti itu.
"Makan salad. Mama sama Ale ada di kamar, lagi main." Jawab Bella, dia kembali memasukkan salad buah ke dalam mulutnya.
Di seberang sana Hendry tampak kesal karna wajah Bella tidak terlihat di layar ponsel, hanya sebelah pipinya saja yang kelihatan. Padahal Hendry sengaja menelfon karna ingin melihat wajah istrinya.
Yang tidak bisa jauh siapa, tapi yang sering menelfon siapa. Kalau seperti itu sih malah terbalik, kelihatan Hendry yang sebenarnya tidak bisa jauh-jauh dari Bella.
"Arahkan kameranya ke wajah, aku mau lihat wajah kamu." Pinta Hendry. Nada bicaranya sedikit memaksa. Karna itu bukan pilihan, melainkan perintah.
"Tidak mau, tatapan Mas Hendry bikin aku malu." Jawab Bella dengan sebelah pipi yang memenuhi layar di ponsel Hendry.
"Memangnya apa yang salah dengan tatapan ku.? Aku tidak sedang menatap mengejek, malah sebaliknya." Kata Hendry heran. Lagipula saat ber cinta juga sudah biasa tatap-tatapan, kenapa sekarang Bella jadi malu di tatap.
Bella tetap tidak mau bertatapan dengan Hendry, justru karna Hendry memberikan tatapan dalam penuh cinta dan kekaguman, Bella jadi malu.
__ADS_1
"Ale pasti kangen Daddynya, mau bicara dengan Ale tidak.?" Tawar Bella untuk mengalihkan perhatian Hendry agar tidak memintanya mengarahkan wajah ke kamera.
Hendry tidak menolak, tujuannya menelfon Bella memang karna ingin melihat dan bicara dengan anak serta istrinya.
Bella mengetuk pintu kamar Ale. Farah seketika menoleh saat mendengar suara ketukan pintu, tak lama Bella muncul dengan senyum tipis dan masuk ke dalam kamar.
"Mas Hendry telfon." Ujarnya seraya menghampiri Ale dan Mama mertuanya yang sedang asik bermain.
Farah malah geleng-geleng kepala, dia semakin heran saja dengan putranya. Sejak menginap di rumah itu, entah sudah berapa kali Hendry menelfon Bella. Lama-lama kok semakin kelihatan bucinnya. Tiba-tiba Farah bergidik geli. Kelakuan anaknya mirip seperti ABG, padahal sudah umur 32 tahun.
Bella langsung mengarahkan layar ponselnya di depan Ale.
"Ada Daddy,," Kata Bella sembari mencubit gemas pipi chubby Ale.
Hendry langsung menyapa dan mengajak putrinya bicara, sesekali menggodanya. Balita itu sampai terkekeh.
Farah langsung menyernyit, dia geli sendiri mendengar rengekan putranya.
"Kamu di Singapur tidak punya kerjaan ya.? Bisa-bisanya menelfon istrimu belasan kali dalam sehari.!" Celetuk Farah sebelum Bella menanggapi ucapan Hendry.
Hendry berdecak kesal karna di tegur Mamanya. Wajahnya malah berubah masam. Bella sampai mengulum senyum melihat perubahan wajah suaminya yang sedang kesal.
"Bella bahkan sampai bosan mengangkat telfon dari Mas Hendry." Sambung Bella. Dia malah sengaja membuat Hendry makin kesal. Walaupun harus menahan tawa di balik layar.
"Sayang.! Kamu berani bilang bosan padaku.?" Ujar Hendry sewot, tapi dia tidak bisa marah pada istrinya itu. Nada bicaranya sampai merengek.
__ADS_1
"Hentikan Hendry, Mama geli mendengarmu bicara seperti itu." Farah kembali menegur putranya.
Di seberang sana, Hendry tampak tidak menghiraukan perkataan Farah. Karna bukannya mendukung anaknya, sang Mama malah mencibir tidak jelas. Tidak mendukung kebucinan putranya yang sedang ter Bella-Bella.
Resiko punya istri masih muda, bucinnya jadi seperti anak ABG.
"Sayang, Siap-siap menerima hukuman dariku karna berani bilang bosan.!" Kata Hendry yang langsung memutuskan sambungan telfonnya begitu saja.
Bukannya panik, Bella malah terkekeh. Begitu juga dengan Farah.
"Kamu apain anak Mama sampai jadi menggelikan seperti itu." Kata Farah sambil menahan tawa geli. Sikap Hendry memang membuat Farah tak habis pikir, tapi cukup menghibur. Terbukti sampai sekarang masih menertawakan Hendry.
Bella menggeleng tidak tau. Dia juga heran kenapa suaminya tiba-tiba berubah seperti itu. Bucinnya kelewatan.
...******...
Setelah melakukan penerbangan sekitar 2 jam dari Singapur ke Jakarta, Hendry akhirnya tiba di bandara. Pria itu sambut oleh supir pribadinya yang sejak 20 menit lalu menunggu di Bandara.
Supir itu langsung membawakan koper Hendry dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Dia juga membukakan pintu untuk majikannya itu.
Mobil yang di tumpangi Hendry melaju meninggalkan bandara. Jalanan Ibu Kota cukup sepi karna saat ini sudah pukul 12 malam. Sebagian orang sudah terlelap, sama halnya seperti Bella. Ibu hamil itu sudah tidur sejak pukul 10 malam. Dia menunggu Hendry yang katanya akan pulang sebelum jam 10, tapi malah tidak ada kabar. Akhirnya ketiduran.
Hendry bergegas memasuki rumah begitu sampai. Tujuan utamanya tentu saja kamar dia dan Bella. 4 hari tidak bertemu, Hendry malah uring-uringan di Singapur. Wajar kalau sekarang ingin langsung bertemu dengan istrinya itu.
Hendry begitu semangat membuka pintu kamarnya yang tidak terkunci. Senyumnya mengembang sempurna. Tapi detik itu juga senyumnya lenyap saat melihat ada Mamanya dan Ale yang tidur bersama Bella dalam satu ranjang.
__ADS_1
"Ckk.! Kenapa Farah tiba-tiba berubah jadi orang tua yang tidak pengertian pada anaknya." Gumam Hendry. Wajahnya tampak lesu, padahal tadi sudah membayangkan bermesraan dengan Bella setelah beberapa hati tidak bertemu.
Hendry akhirnya tidur di kamar sebelah setelah membersihkan diri dan mengganti baju. Dia sempat mengecup sekilas bibir istrinya, tapi Bella sepertinya tidur nyenyak, jadi tidak bergerak sama sekali saat di cium.