
Pukul 8 pagi, tepatnya setelah Hendry berangkat ke kantor, Julia bergegas pergi meninggalkan rumah untuk mengecek kondisi sang Mama di rumah sakit.
Banyak hal yang dia pertimbangkan kenapa tidak memberitahu Hendry soal kondisi Mamanya yang di rawat. Julia takut gugatan cerai dan laporan hasil tes DNA dari Papanya di ketahui oleh Hendry. Jadi Julia merahasiakan hal ini dan tidak berniat memberi tahu Hendry.
Julia masuk ke ruang rawat inap Mamanya. Wanita paruh baya itu membuka matanya ketika mendengar suara pintu di tutup. Natalie hanya bisa tersenyum samar melihat kedatangan putrinya, karna kondisinya cukup lemah.
Gugatan cerai yang dilayangkan Baskoro membuat Natalie stress berat. Belum lagi fakta tentang Julia yang bukan anak kandung Baskoro. Natalie belum siap jika kabar itu sampai terdengar di telinga keluarganya, ataupun keluar Baskoro yang kini menetap di Swiss.
"Mama sudah makan.? Maaf aku baru bisa datang, menunggu Hendry berangkat ke kantor dulu." Ujar Julia, dia meletakkan buah-buahan di atas nakas sebelum duduk di samping ranjang pasien.
"Suster baru saja selesai menyuapi Mama." Jawab Natalie. Julia mengangguk lega. Dia memang sempat melihat suster keluar dari ruangan Mamanya.
"Bagaimana dengan Papamu.? Sudah bisa di hubungi.?" Natalie menatap penuh harap. Sejak kemarin sudah berusaha menghubungi Baskoro dan beberapa orang terdekat suaminya itu, tapi nomor ponsel Baskoro tidak bisa di hubungi. Sedangkan orang terdekat Baskoro malah menolak panggilan telfonnya. Chat yang Julia kirimkan juga tidak mendapat respon meski di aca oleh mereka.
Julia menggeleng frustasi. Sepertinya ini benar-benar akan menjadi akhir dari kehancuran keluarga kecilnya. Belasan tahun ikut menyembunyikan fakta ini, pada akhirnya terkuak juga.
"Bella juga tidak tinggal di rumah kedua. Kemarin malam aku datang ke sana setelah pulang dari rumah sakit." Tutur Julia geram.
Kini Julia menyesal sudah mengusir Bella begitu saja tanpa memastikan bahwa Bella benar-benar akan pergi jauh dari negara ini, agar tidak menjadi penghalang baginya untuk mendapatkan semua harta kekayaan Baskoro.
"Kenapa malam itu tidak kamu buang saja wanita sialan itu di hutan.!" Gerutu Natalie kesal. Rasanya dia ingin memaki kebodohan putrinya yang hanya mengusir Bella dari rumah, bukannya membuat wanita itu lenyap sekalian dari kehidupan Baskoro.
"Mama jangan khawatir, aku pastikan anak ja-lang itu tidak akan mendapatkan apapun.!"
"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari tau tempat tinggalnya, setelah itu kita bisa membuatnya menyusul Selena.!" Seru Julia penuh kilat amarah dari sorot matanya.
Mulai pagi ini Julia sudah mengirimkan beberapa orang suruhan yang berjaga di dekat perusahaan untuk mengikuti Bella dan mencari tau tempat tinggalnya.
...******...
"Langsung kembali ke perusahaan, Nona.?" Tanya Leon, salah satu bodyguard Bella. Dia membukakan pintu mobil untuk Bella.
Bella baru saja menemui Arlan untuk meminta bantuan pria itu. Karna Arlan sangat sibuk dan tidak bisa meninggalkan perusahaannya, jadi Bella yang datang menemuinya.
"Ke rumah sakit internasional,," Jawab Bella seraya masuk ke dalam mobil. Dia ingin menjenguk Mama tirinya yang masih berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
__ADS_1
"Baik Nona."
Mobil yang di tumpangi Bella mulai menjauh dari perusahaan Arlan. Jalanan tampak padat menjelang jam makan siang berakhir.
Bella sempat menyuruh bodyguardnya agar berhenti di toko bunga, lalu mengambil bunga tercantik untuk diberikan pada Natalie.
Hampir 30 menit membelah jalanan Ibu kota yang macet, mobil yang ditumpangi Bella akhirnya sampai di rumah sakit.
Pintu mobil di bukakan oleh bodyguard, Bella keluar dari mobil sambil memegang buket bunga mawar berwarna merah, lalu memakai kaca mata hitam yang senada dengan rok span serta blazer hitamnya.
Bella melangkah dengan ringan memasuki rumah sakit terbesar di Ibu Kota. Penampilannya seperti orang yang ingin mengucapkan bela sungkawa, tapi senyum yang terukir di bibirnya justru menggambarkan kebahagiaan.
Tanpa perlu menanyakan ruangan Natalie pada resepsionis, Bella langsung naik ke lantai 6 karna mata-matanya sudah memberitahu ruangan Natalie.
"Kalian tunggu di luar saja." Perintah Bella pada dua bodyguardnya. Keduanya mengangguk patuh tanpa ada bantahan.
Bella kemudian mengetuk pintu ruangan beberapa kali, lalu menyelonong masuk begitu saja.
Di dalam sana, Natalie tampak terkejut melihat seorang wanita asing masuk kedalam kamar inapnya. Wanita itu memakai pakaian serba hitam, high hills dan kaca mata hitam yang hampir menutupi setengah wajahnya. Dia membawa buket bunga dan berjalan mendekat setelah menutup pintu.
Perkataan Natalie membuat Bella terkekeh.
"Baru 2 minggu tidak bertemu, Mama sudah tidak mengenaliku." Kata Bella sembari membuka kaca matanya.
"Kau.?!!" Pekik Natalie.
Kedua mata Natalie melotot tajam penuh amarah, tangannya perlahan mulai mengepal.
Ketegangan dan amarah sudah menyelimuti Natalie, berbeda dengan Bella yang tampak santai.
"Mamaku tersayang, aku turut berduka dengan kondisimu yang menyedihkan seperti ini." Ucap Bella dengan wajah sendu dan suara sedih yang di buat-buat.
Mata semakin tersulut amarah, apalagi perkataan dan raut wajah Bella seperti sedang mengejeknya.
"Anak sialan.!! Tutup mulutmu.!" Bentak Natalie. Tapi karna kondisinya yang sedang lemah, jadi bentakan Natalie tidak membuat Bella kaget sedikitpun.
__ADS_1
"Ya ampun, aku pikir Mama sudah berubah disaat tidak berdaya seperti ini." Bella berucap tentang, satu tangannya menarik kursi untuk duduk di samping ranjang Natalie.
"Upss,, aku lupa, iblis hanya bisa menyerupai seperti manusia, tapi tidak benar-benar bisa menjadi manusia." Sindir Bella dengan tawa ringan tanpa beban.
"Beraninya kau.?!!" Natalie mencoba bangun dan satu tangannya berusaha melayangkan pukulan pada Bella, tapi Bella bisa menghindar dengan mudah, mengingat kondisi Natalie yang tidak berdaya.
"Tenang Mah,, jangan lepas kendali seperti ini, bagaimana kalau kondisinya semakin parah.?" Ujar Bella meledek.
"Keluar wanita sialan.! Keluar dari sini.!" Natalie berteriak sekuat tenaga dan tangannya terus menekan tombol di samping ranjangnya untuk memanggil suster.
"Ck,, aku bahkan belum memberikan bunga ini." Kata Bella seraya berdiri dan menyodorkan buket mawar merah pada Natalie.
"Aku benar-benar sedih melihat kondisi Mama seperti ini. Aku harap Mama masih diberi kesempatan untuk melihatku memimpin perusahaan dan memiliki seluruh aset milik Papaku." Bella kemudian menyodorkan buket bunga itu di depan wajah Natalie.
Hanya dalam hitungan detik, bunga itu sudah terlempar ke lantai karna Natalie menepisnya.
"Beraninya kau mempengaruhi suamiku.!!" Teriak Natalie.
Bella tertawa keras.
"Suami.? Dengan kesalahan yang sudah anda perbuat pada Papaku, apa anda masih punya muka menyebut Papaku sebagai suami.?!" Bella menatap tajam. Tatapan yang menunjukkan amarah sekaligus jijik dalam waktu bersamaan.
Sejak dulu Natalie bersikap seolah-olah dia sangat menderita dengan kehadiran Selena dan Bella dalam kehidupan Baskoro.
Wanita paruh baya itu menjual air mata di depan keluarga besarnya dan keluarga besar Baskoro untuk mendapatkan simpati. Tapi ternyata, semua yang dilakukan Natalie semata-mata hanya untuk menutupi kebusukannya.
"Sejak aku kecil, anda selalu menghina ibuku dengan menyebutnya ja-lang.! Anda menutup mata bahwa Ibu saya adalah korban, tapi anda membuatnya terlihat seperti pelaku.!" Tegas Bella, kedua tangannya terkepal kuat.
Bella menahan diri untuk tidak menangis meski sebenarnya hatinya sakit karna harus mengingat masa lalu Ibunya yang menyedihkan.
"Ibumu memang ja-lang.! Dia dengan senang hati menjadi istri kedua.! Tidak tau malu." Caci Natalie tak terima.
"Nyonya Natalie, apa perlu aku jelaskan seperti apa ja-lang yang sebenarnya.?" Ujar Bella menahan amarah.
"Orang yang lebih pantas di sebut ja-lang adalah seorang istri yang mengandung anak dari pria lain.!" Suara tegas Bella menggema di ruangan tersebut.
__ADS_1
Bella sadar semua perkataannya tidak akan membuat Natalie menyadari kesalahan ataupun menyesali perbuatannya. Tapi setidaknya Bella merasa lebih baik setelah mengeluarkan kekesalannya pada Natalie.