Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 61


__ADS_3

Dengan negosiasi yang alot, Hendry berhasil menyuruh Julia pulang. Tentunya Julia meninggalkan rumah mertuanya dengan emosi yang menggebu. Niat hati ingin mendapatkan dukungan dan pembelaan dari mertuanya, Julia harus menelan kekesalan karna kedua mertuanya tidak mau mengambil kesimpulan atau membela salah satu pihak sebelum mereka bicara empat mata dengan Hendry.


Kini sudah ada Hendry dan kedua orang tuanya di ruangan tertutup. Farah dan Sudibyo masih sulit percaya adanya keretakan dalam rumah tangga putranya. Selama 5 tahun terakhir, mereka selalu melihat rumah tangga Hendry dan Julia baik-baik saja. Walaupun Hendry sering menunjukkan sikap tidak suka ketika Julia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya, tapi putranya itu tidak pernah mengeluhkan apapun tentang kekurangan ataupun keburukan Julia pada mereka.


Kini setelah mendengar kabar bahwa Hendry berselingkuh dengan Bella, rasanya sulit untuk di percaya. Apalagi mereka berdua sangat mengenal Bella sebagai pribadi yang baik dan sopan. Selama ini juga sangat tulus dalam membantu Julia merawat dan mengasuh Ale. Jadi mana mungkin Bella tega menghancurkan rumah tangga Kakaknya sendiri.


"Mama dan Papa mu sudah tua Hendry, jangan membebani kami dengan persoalan rumah tanggamu. Kalau memang ada kesalahpahaman antara kamu dan Julia, harusnya diselesaikan baik-baik tanpa melibatkan siapapun." Tutur Farah setengah menggerutu.


Di usianya yang sudah menginjak 57 tahun, bukannya menikmati masa tua dengan melihat anak, menantu dan cucunya hidup bahagia, tapi malah di libatkan dalam prahara drama rumah tangga anak dan menantunya.


"Sebenarnya apa yang terjadi.? Apa benar yang di katakan Julia soal hubungan kamu dan Bella.?" Sudibyo tak mau kalah dari istrinya, dia juga ikut membantu menginterogasi putra semata wayang mereka.


Hendry menarik nafas dalam dan menghela nafas berat. Kabar ini mungkin akan membuat kedua orang tuanya syok, marah, kecewa dan pasti membencinya. Tapi sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kesalahan yang sudah dia perbuat, Hendry harus berkata jujur pada kedua orang tuanya.


"Hendry minta maaf kalau sudah mengecewakan Mama dan Papa." Lirihnya dengan suara berat penuh sesal. Dia menyesal bukan karna menjalin hubungan terlarang dengan Bella, melainkan karna membuat kedua orang tuanya kecewa.


"Astaga Hendry,, jangan bilang kamu benar-benar bermain gila dengan Bella." Pekik Farah tak habis pikir.


Farah mengenal keduanya sebagai pribadi yang sama-sama baik, lalu kenapa hal seburuk itu bisa mereka lakukan.?


"Hendry salah, Hendry yang tidak bisa menahan diri dan mendorong Bella agar mau menjalin hubungan di belakang Julia." Ungkap Hendry mengakui kesalahannya tanpa membuat nama baik Bella jatuh di mata kedua orang tuanya.


"Ya ampun Pa,, apa dia benar-benar anak yang sudah aku lahirkan dan kita didik selama ini.?" Tanya Farah pada sang suami karna terlalu syok mendengar pengakuan putranya.


"Aku tidak menyangka anak kita melakukan hal sekotor itu di belakang istrinya." Farah menatap penuh kecewa.


Sebagai sesama perempuan, tentu saja Farah akan berada di pihak menantunya saat tau kalau Hendry terbukti bersalah. Karena apapun alasannya, perselingkuhan tidak bisa di benarkan.


"Omong kosong macam apa itu.?!!" Sentak Sudibyo pada putranya.


"Papa tidak pernah mengajarimu menjadi pria dan suami pengecut.!"

__ADS_1


"Akhiri hubungan gilamu itu dan pertahankan rumah tanggamu dengan Julia. Kalian punya Ale.!" Tegas Sudibyo.


Dia bersikap seperti itu karna memikirkan nasib cucunya. Karna jika sampai terjadi perpisahan, Ale yang akan terkena imbasnya. Dia yang akan menjadi korban atas keegoisan orang tuanya.


Hendry menggelengkan kepala, membuat nafas Farah terasa semakin berat karna mulai merasakan sesak di dadanya.


"Jadi kamu lebih memilih bercerai agar bisa bersama Bella.? Begitu maksud mu.?!" Farah semakin tak habis pikir pada putranya.


Kalau sampai itu terjadi, apa yang akan dikatakan orang-orang di luar sana, terutama kedua besannya. Karna akun menjadi pernikahan turun ranjang.


"Mah, aku tidak bisa meninggalkan Bella. Aku mencintainya, aku,,


"Cukup Hendry.!" Potong Farah tegas. Dia tidak akan sanggup lagi mendengar pengakuan gila putranya.


"Biar Mama yang akan menemui Bella dan menyuruhnya untuk tidak menganggu pernikahanmu dengan Julia.!" Farah berucap tegas tak mau di bantah. Dia akan langsung menemui Bella dan bicara empat mata dengannya. Bella sudah dia anggap seperti putrinya sendiri, tapi malah membuatnya kecewa.


"Aku sudah menghamili Bella." Ucap Hendry serius.


Farah awalnya syok, dia sampai melongo mendengar ucapan Hendry. Tapi setelah itu malah terkekeh tak percaya.


"Untuk apa aku bohong." Sanggah Hendry. Dia kemudian mengambil sesuatu dari saku jaketnya dan menyodorkannya pada sang Mama.


Farah mengambil benda berbentuk selembaran amplop putih dengan nama rumah sakit yang tertera di sana.


"Bella sedang mengandung anak-anakku." Ujarnya yang membuat gerakan tangan Farah terhenti saat akan mengeluarkan sesuatu dari dalam amplop tersebut.


"Anak-anakmu.? Apa maksudnya.?" Ekspresi wajah Farah tampak kebingungan.


"Sini biar Papa saja." Sudibyo mengambil amplop itu dari tangan istrinya, lalu mengeluarkan isi di dalamnya.


Mata Farah tidak berkedip sejak suaminya mengambil benda itu. Kini keduanya terbelalak melihat foto hasil USG di tangan Sudibyo.

__ADS_1


Karna penasaran, Farah langsung merebutnya dan memperhatikan dengan sesama hasil USG di tangannya.


"Bella hamil kembar, mereka darah dagingku." Hendry kembali mengeluarkan kata-kata yang mampu membuat kedua orang tuanya sejak jantung.


"Ya Tuhan,, bagaimana ini.?!" Ujar Farah frustasi. Dia pusing dan stress sendiri dengan ulah putranya.


"Mah, kita akan punya cucu kembar.? Itu pasti menurun dari gen mu. Kamu juga punya saudara kembar." Ucap Sudibyo reflek.


Seketika Farah langsung memukul paha suaminya. Dalam keadaan tegang seperti ini, Sudibyo malah terkesan senang karna akan mendapatkan cucu kembar.


"Hendry, sebaiknya kamu pulang saja.! Urus saja urusanmu sendiri, jangan buat Mama terkena serangan jantung.!" Ketus Farah seraya mengembalikan hasil USG itu pada putranya, lalu memilih beranjak dari sana dengan perasaan kecewa, namun Farah juga bingung harus melakukan apa.


"Apa Bella dan janinnya baik-baik saja.?" Lirih Sudibyo ketika istrinya sudah keluar dari ruangan itu.


Hendry menggeleng lesu. Hal itu membuat mata Sudibyo membulat sempurna.


"Apa maksudmu.?" Seru Sudibyo penasaran.


"Bella mengalami pendarahan setelah di dorong oleh Julia. Aku membawanya ke rumah sakit, nyawa mereka tertolong. Tapi saat ini aku belum tau keberadaan Bella." Nama bicara Hendry sedikit tercekat. Mata dan wajahnya tampak sendu. Sudibyo bisa melihat kesedihan yang mendalam dari sorot mata putranya.


"Papa tidak mengerti maksudmu. Sebenarnya ada apa.? Katakan lebih jelas lagi." Ujar Sudibyo yang justru malah semakin bingung.


"Bella pergi dari rumah sakit tanpa sepengetahuanku, dia menghilang. Sepertinya karna tidak mau menerima pertanggungjawaban dari ku. Dia memilih pergi, alih-alih menikah denganku."


Hendry memejamkan mata dan menarik nafas dalam. Mungkin dia bisa menemukan keberadaan Bella dalam waktu dekat atas bantuan orang suruhannya, tapi Hendry tidak yakin bisa membujuk Bella untuk menikah.


"Kalian membuat Papa pusing.!" Keluhan Sudibyo sambil beranjak dari duduknya.


"Kalau tidak mau menikah, kenapa harus menjalin hubungan sampai hamil.!" Ujarnya tak habis pikir, lalu meninggalkan Hendry seorang diri di ruangan itu. Lebih baik menyusul istrinya, daripada semakin pusing mendengar permasalahan Hendry dan Bella.


...******...

__ADS_1


Di tempat lain, Bella sedang mencoba untuk memejamkan mata. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam, tapi tidak bisa tidur. Pikirannya gelisah, entah karna apa.


Bella mungkin butuh waktu untuk bisa menerima keadaannya, butuh waktu juga untuk mengendalikan perasaannya yang tidak menentu karna hamil di luar nikah. Sudah pasti hal itu membuat Bella stress memikirkan nasibnya dan juga perasaan Papanya yang akan kecewa.


__ADS_2