Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 98


__ADS_3

Hendry menggandeng tangan Bella saat memasuki rumah Julia. Sementara itu di tangan kiri Hendry ada Ale yang di gendong menggunakan satu tangan. Balita bulat itu menempel pada Daddy, kedua tangan gembulnya bergelayut erat di leher Hendry. Ale kelihatan sangat manja dan terlihat enggan melepaskan pelukannya dari leher Hendry. Ale seolah tau kalau dia akan di tinggalkan di rumah Mommynya. Tanpa ada sang Daddy di rumah itu seperti dulu.


Mommy dan Daddynya sudah berpisah, tidak bisa tinggal bersama dalam satu atap. Apalagi Daddynya sudah menikah, sudah punya keluarga baru dan akan menyambut kehadiran anggora baru beberapa bulan lagi. Ale mungkin akan jarang bertemu dengan Daddynya.


Seperti itu dampak dari perceraian, selalu ada yang di korbankan. Ale mungkin belum paham karna masih balita. Tapi kelak saat dia sudah beranjak besar dan bisa memahami situasi, dia pasti akan banyak bertanya kenapa kedua orang tuanya tidak tinggal bersama. Belum lagi jika kedua orang tuanya sama-sama sudah memiliki keluarga baru.


Anak memang selalu menjadi korban dalam perceraian orang tuanya. Tapi jika dalam pernikahan sudah tidak sehat, sama-sama melakukan kesalahan dan berkhianat, rasanya sia-sia untuk di pertahankan. Terlebih ketika hati sudah berpaling, mempertahankan rumah tangga seperti itu layaknya menggenggam mawar yang berduri. Bukan hanya menyakitkan tapi menyiksa hati keduanya.


Sampainya di dalam rumah, Julia langsung menyambut mereka dengan wajah datar. Tatapan matanya hanya fokus pada Ale yang masih ada dalam gendongan Hendry.


"Bagaimana kabar kamu Nak.?" Tanya Farah pada mantan menantunya itu. Dia memeluknya sekilas, Julia juga sempat membalas pelukan Farah yang masih bersikap baik padanya meski sudah tidak menjadi menantu. Julia seharusnya beruntung pernah menjadi menantu Farah yang tidak membeda-bedakan anak kandung dan menantu. Karna Farah tidak membela keduanya meski sama-sama punya kesalahan. Justru Mama mertuanya itu menguatkannya disaat terpuruk.


"Baik mah,," Jawab Julia, sudut bibirnya sedikit terangkat. Hanya seulas senyum tipis yang menghiasi wajah cantiknya. Wajahnya sudah tidak sepucat saat di rumah sakit, kelihatan lebih fresh walaupun belum kembali sepenuhnya seperti dulu. Tapi jauh lebih baik, kelihatan terawat.


Yang paling beda adalah sorot matanya, sudah terlihat teduh. Berbanding terbalik ketika masih di rawat, sorot matanya penuh amarah dan tampak frustasi.


"Berikan padaku." Kata Julia seraya mengulurkan kedua tangannya di depan Hendry. Genggaman tangan Hendry pada Bella otomatis terlepas, pria itu kemudian memberikan Ale pada Julia walaupun Ale harus menangis karna tidak mau lepas dari gendongan Hendry.


Hendry sebenarnya tidak tega, tapi Julia dan Ale butuh waktu untuk bersama, demi menjalin kedekatan mereka lagi setelah 2 minggu tidak bersama.

__ADS_1


Tangis Ale semakin pecah dalam gendongan Julia, balita itu malah menatap Hendry dan Bella sembari mengarahkan kedua tangannya pada mereka seolah minta untuk di gendong.


Sejak dulu jarang merawat Ale, tidak dekat dengan putrinya sendiri, alhasil Julia sedikit kesulitan menjalin kedekatan dengan Ale.


Julia terlihat kewalahan menangkan Ale, dia sampai pamit ke dalam, meninggalkan semua orang di ruang tamu. Ale benar-benar histeris, tidak mau di gendong Mommynya sendiri.


"Sebaiknya kalian pulang saja, Ale akan terus menangis kalau masih melihat kalian. Mama akan membantu Julia menenangkan Ale," Kata Farah pada anak dan menantunya.


Bukannya mau mengusir mereka, tapi kondisi yang memaksa Farah harus membiasakan Ale tanpa Hendry dan Bella untuk sementara waktu agar Ale bisa dekat dengan Julia.


Hendry tampak menghela nafas berat, dia kemudian beranjak dari duduknya seraya menggandeng Bella, mengajak istrinya itu untuk pulang.


"Kami pulang dulu mah," Pamit Bella pada mama mertuanya seraya mencium punggung tangannya.


"Hati-hati di jalan." Kata Farah.


Bella mengulas senyum seraya mengangguk. Hendry buru-buru menggandeng Bella keluar dari rumah Julia. Rumah yang dulu dia tempati selama 5 tahun bersama mantan istrinya. Rumah yang penuh kenangan, termasuk menjadi saksi bisu atas perselingkuhannya dengan Bella. Kini semua itu hanya masa lalu, Hendry sudah punya keluarga baru yang harus di prioritaskan tanpa ada bayang-bayang masa lalu. Dan yang terpenting, dia akan berusaha menjadi Daddy yang baik dan selalu ada untuk Ale, putri semata wayangnya dengan Julia.


...******...

__ADS_1


Malam itu suasana di kediaman Hendry sudah sepi. Apalagi Farah memutuskan menginap di rumah Julia sejak 4 hari yang lalu. Katanya Ale masih sering menangis mencari Daddynya dan Bella. Farah jadi tidak tega membiarkan Julia menenangkan Ale sendirian. Walaupun ada Ziva, baby sitter yang masih bertahan di kasan, tapi Ziva juga kewalahan menenangkan Ale.


Di kamar utama, Hendry sedang berbaring di pangkuan Bella. Kedua tangannya melingkar di pinggang istrinya dengan wajah yang menghadap ke perut. Sesekali Hendry mencium perut yang sudah buncit itu dengan mata terpejam.


Banyak yang dipikirkan, Hendry butuh tempat untuk bersandar dan menumpahkan keluh kesahnya. Jarang-jarang Hendry menunjukkan sisi lemahnya, bahkan ini pertama kalinya Hendry berani menunjukkan sisi lemahnya di depan wanita. Mungkin saking nyamannya pada Bella, Hendry tidak memikirkan gengsi. Tidak peduli pada anggapan Bella saat melihatnya rapuh seperti ini.


Sementara itu, Bella tidak berhenti mengusap kepala Hendry dengan penuh perhatian. Bella tidak banyak bertanya saat tadi Hendry minta merebahkan kepala di pangkuannya. Dia paham akhir-akhir ini Hendry banyak pikiran, ada sedikit masalah di perusahaan, belum lagi harus memikirkan Ale yang katanya masih sering rewel.


"Pahanya sakit tidak.?" Suara lembut Hendry memecah keheningan. Pria itu juga mendongak menatap wajah Bella.


Bella malah tersenyum seraya menggelengkan kepala. Sebenarnya sedikit kebas, mungkin karna sudah lama Hendry tiduran di pangkuannya.


"Tidak mau bercerita.?" Tanya Bella, satu tangannya mengusap sebelah rahang Hendry. Sejak tadi Hendry diam saja, belum mengungkapkan keluh kesahnya. Seolah hanyut tiduran di pangkuan Bella yang menenangkan.


"Begini saja sudah lebih baik." Kata Hendry. Dia menatap Bella penuh syukur. Memiliki istri yang selalu membuatnya teduh dan tenang saat berada di dekatnya adalah sebuah anugerah terbesar bagi seorang suami.


"Terimakasih karna mau bertahan." Ucap Hendry seraya bangun dari pangkuan Bella. Dia ikut duduk bersandar di samping Bella dan menarik istrinya itu dalam dekapan.


Seandainya waktu itu Bella tetap tidak mau bersamanya, entah bagaimana hidupnya saat ini. Kembali dengan Julia juga tidak mungkin. Hatinya seolah sudah mati untuk mantan istrinya itu. Apalagi saat mengetahui kalau Julia yang lebih dulu berkhianat.

__ADS_1


"Perjalanan kita masih panjang kan.? Aku harap rumah tangga kita baik-baik saja sampai anak-anak lahir, tumbuh dewasa, menikah dan memiliki anak." Ujar Bella kemudian meletakkan kepalanya di dada bidang Hendry.


"Tentu saja, kita akan baik-baik saja." Sahut Hendry. Melihat sikap Bella yang tidak banyak menuntut, penurut dan berusaha menjadi istri yang baik, Hendry sangat yakin rumah tangga mereka akan langgeng sampai maut memisahkan.


__ADS_2