Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 92


__ADS_3

Hendry mengajak Bella duduk di depan ruang rawat inap Julia. Bik Inah juga masih ada di sana. Wanita paruh baya itu kemudian pamit ke kantin, dia membiarkan Hendry dan Bella berdua karna melihat raut wajah Hendry yang tidak bersahabat. Hendry keliatan kesal saat keluar dari ruangan Julia.


"Kamu cari masalah kalau masih peduli padanya." Tegur Hendry pelan. Rasanya dia ingin marah, tapi berusaha menahan diri mengingat sifat Bella yang sebenarnya tidak bisa berbuat jahat. Jadi tidak bisa menyalahkan Bella ketika istrinya itu ingin mempertemukan Julia dengan Ale.


"Aku cuma kasihan pada Julia. Siapa tau dia kangen sama Ale." Ujar Bella dengan kepala tertunduk lesu. Dia pikir Julia sudah membuka mata dan hatinya, menyadari kesalahan yang dia perbuat dan mau menerima kenyataan. Tapi Julia tetaplah Julia, wanita itu tidak pernah merasa bahwa dirinya salah. Selalu berfikir bahwa dia selalu benar dan orang lain yang salah.


Padahal ada sebab ada akibat. Julia yang lebih dulu mengibarkan bendera peperangan pada Bella, mengusik Bella yang sebelumnya tidak pernah mengusik kehidupannya.


Kini saat Bella balas dendam dengan mendekati Hendry, seolah-olah menjadi orang yang paling tersakiti. Julia mungkin lupa kalau dia lebih dulu berselingkuh di belakang Hendry. Menjadi istri yang tidak bisa menjaga harga dirinya.


"Fokus saja pada kehamilan kamu, Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan." Ujar Hendry seraya menggenggam tangan Bella dan mengusapnya.


"Masalah Ale dan Julia, biar aku saja yang urus. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kamu dan anak-anak." Hendry memberikan tatapan teduh.


Bella mengangguk patuh, sepertinya mulai detik ini dia tidak akan perduli lagi dengan Julia.


...*****...


Di dalam ruangan, Julia menangis tanpa suara selepas Hendry dan Bella keluar. Julia mendekap erat tubuh gembul Ale, air matanya terus bercucuran. Balita dalam dekapannya itu sampai menatap lekat Mamanya. Sambil berceloteh, Ale memainkan rambut panjang Julia yang tergerai. Ale seolah sedang menghibur Julia. Balita itu memang belum tau apa-apa, tapi bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Mamanya.


"Jangan membuat putrimu ikut sedih." Suara datar Arseno menyadarkan Julia bahwa di ruangan itu masih ada orang lain. Dia terlalu fokus pada Ale sampai lupa kalau Dokter menyebalkan itu belum keluar dari ruangan.


"Tolong tinggalkan kami berdua." Lirih Julia namun tegas. Dia kurang nyaman dengan kehadiran Arseno di sana, tidak ingin ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan sedang terluka seperti itu.


Tanpa mengatakan apapun, Arseno bergegas keluar. Dia membiarkan Julia menghabiskan waktu berdua dengan putrinya. Meski sebenarnya Arseno tidak tenang meninggalkan Julia hanya dengan seorang balita. Mengingat kondisi Julia belum stabil, Arseno khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Tapi Arseno percaya kalau Julia tidak akan menyakiti putrinya sendiri.

__ADS_1


Begitu mendengar suara pintu dibuka, Hendry dan Bella kompak menatap ke arah pintu. Arseno keluar dan menutup pintu kembali, lalu menghampiri mereka berdua.


"Jangan terlalu lama membiarkan mereka di dalam tanpa pengawasan, kondisinya belum stabil." Ucap Arseno menatap Hendry.


Hendry mengangguk paham.


"Terimakasih Dok."


Arseno hanya mengangguk samar sebelum pergi dari hadapan Hendry dan Bella.


"Kondisi Julia kelihatannya sangat parah ya.?" Lirih Bella begitu Arseno pergi. Dia cukup prihatin saat Dokter mengatakan kalau kondisi Julia belum stabil, bahkan tidak boleh terlalu lama membiarkan Julia bersama Ale di dalam sana tanpa pengawasan.


"Kita berdoa saja semoga Julia cepat pulih. Dia hanya belum siap menerima kenyataan." Ucap Hendry.


Bella mengangguk, dia pun mengharapkan Julia cepat pulih dan bisa menjalani hidupnya lagi. Tentunya setelah menyadari kesalahan dan mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


"Kamu tidak masalah aku masuk ke dalam.?" Hendry malah khawatir juga pada istrinya, takut istrinya berfikir macam-macam karna harus masuk sendirian ke ruangan mantan istrinya itu.


Bella mengangguk, artinya tidak masalah. Lagipula demi kebaikan Ale dan semuanya. Bella juga sengaja ingin memberikan waktu pada Hendry dan Julia, siapa tau masih ada yang ingin mereka bicarakan berdua.


...*****...


Julia sedang tertawa kecil saat Hendry masuk ke dalam ruangan. Tawa Julia luntur begitu melihat Hendry datang dan menghampirinya. Ekspresi wajahnya berubah datar, tapi masih meladeni celotehan Ale.


Hendry menarik kursi ke samping ranjang Julia, kemudian duduk di sana dengan wajah serius.

__ADS_1


"Sepertinya kita perlu bicara lagi." Ucap Hendry. Julia hanya melirik sekilas tanpa mengatakan apapun.


"Aku menyadari kesalahanku saat kita masih bersama. Perbuatanku dengan Bella jelas sangat salah, kamu berhak marah dan membenci kami." Ucap Hendry.


"Aku minta maaf untuk kesalahanku. Mungkin aku juga belum bisa menjadi suami yang baik selama kita menikah. Tapi bisakah kamu juga menyadari kesalahanmu.? Berhenti menganggap bahwa hanya aku dan Bella saja yang salah, karna disini tidak ada yang benar, termasuk kamu."


"Kamu pasti tau kesalahan yang sudah kamu perbuat tanpa perlu aku jelaskan satu persatu." Cara bicara Hendry cukup tenang, segala amarah yang pernah ada untuk Julia sudah dia singkirkan. Karna semuanya sudah berakhir, sudah waktunya menutup buku lama dan membuka lembaran baru dengan perasaan yang lebih baik. Tidak terbayang-bayang ataupun memiliki masalah dengan masa lalu.


Julia menatap serius, tapi dengan tatapan nanar. Seperti ini kah akhir dari kisah hidupnya.?


Julia sadar akan kesalahanya yang lebih dulu mengkhianati Hendry, tapi dia tidak terima karna Bella bisa hidup bahagia bersama Hendry. Sedangkan dia.? Semua kebahagiaannya lenyap tanpa sisa. Itu yang membuat Julia enggan mengakui kesalahannya, dia hanya fokus pada rasa sakitnya saja tanpa memikirkan rasa sakit orang lain akibat perbuatannya.


"Apa kalian senang melihatku hancur seperti ini.?" Tanya Julia dengan mata yang sudah mengembun.


Hendry menghela nafas kasar, dia sampai bingung harus dengan cara apa lagi membuka hati dan pikiran Julia. Dia tidak terima di khianati, merasa tersakiti, tapi lupa bahwa dirinya lebih dulu melakukan kesalahan yang sama.


"Seandainya aku tidak punya hubungan dengan Bella, aku pastikan pernikahan kita akan tetap berakhir seperti ini setelah aku mengetahui perbuatan kamu dengan Rexy di Paris. Jadi sebaiknya kamu berhenti menganggap bahwa kehancuran mu disebabkan oleh orang lain." Tegas Hendry penuh penekanan.


"Berikan Ale padaku, kamu bisa menemui atau membawanya tinggal bersamamu setelah keluar dari rumah sakit." Hendry mengambil Ale dari pangkuan Julia. Wanita itu hanya diam saja, tidak mencegah Hendry mengambil Ale. Lagipula tidak mungkin Julia membiarkan Ale terlalu lama di rumah sakit.


"Aku harap kamu mengerti apa yang aku katakan. Menerima dan berdamai dengan kenyataan jauh lebih baik daripada menumpuk amarah. Kecuali kamu tidak melakukan kesalahan." Ujar Hendry.


"Cepat sembuh agar bisa berkumpul dengan Ale lagi." Hendry kemudian keluar dari ruangan Julia seraya menggendong Ale.


Dia luar sudah ada Bik Inah yang duduk bersama Bella, Hendry kemudian menyuruh Bik Inah masuk untuk menemani Julia.

__ADS_1


"Ayo pulang,," Hendry mengulurkan tangannya pada Bella, wanita hamil itu memegang tangan Hendry dan beranjak dari duduknya.


"Setelah Julia keluar dari rumah sakit, aku akan membebaskannya membawa Ale tinggal bersamanya." Tutur Hendry. Bella mengangguk paham, dia tidak akan ikut campur untuk masalah yang satu itu. Karna Julia ibunya, dia lebih berhak atas Ale.


__ADS_2