
Bella terkekeh dalam gendongan Hendry. Pria itu sudah seperti drakula, membenamkan wajah di leher Bella dan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Membuat Bella merasa geli sekaligus merinding. Walaupun sudah menjauhkan wajah Hendry, tapi pria itu kembali membenamkan wajahnya di sana.
"Sayang geli, hentikan." Pinta Bella yang masih terkekeh. Tawa Bella begitu lepas, seolah tanpa beban. Tanpa disadari, sebenarnya benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Bella. Bukan salah Bella karna akhirnya dia mencintai Hendry dan benar-benar ingin merebutnya. Hendry terlalu sempurna, sedangkan luka yang di torehan Julia pada hatinya sangat besar dan menyakitkan. Satu-satunya balas dendam terbaik adalah dengan mengambil Hendry dari hidup Julia. Karna seperti apapun perlakuan Julia, wanita itu cukup tergila-gila dengan Hendry. Bisa dikatakan, Hendry adalah kelemahan Julia.
"Aku bahkan belum memulai, apa yang harus dihentikan." Jawab Hendry. Dia berhenti di dekat ranjang dan langsung menjatuhkan Bella di atas kasur empuk itu.
Bukkk,,,
Bella terjerembab di antara selimut tebal. Dia berusaha bangun, tapi Hendry sudah naik ke atas tubuhnya dan mengunci pergerakannya.
Tanpa memberikan waktu untuk bernafas, Hendry melahap bi bir ranum Bella dengan rakus. Pria yang sudah mahir ber cinta itu menye sap dalam bi bir Bella. Kedua mata Bella sampai melotot sempurna, bibirnya sudah terasa bengkak akibat ulah Hendry yang terlalu buas. Mirip seperti singa yang sudah lama tidak di beri makan. Sekalinya melihat daging empuk, langsung di se sap dan lu mat dengan rakus.
Lebih dari 5 menit membuat bibir Bella bengkak. Hendry melepaskan tautan bibirnya lalu terkekeh gemas. Pasalnya Bella langsung cemberut dan memukul dadanya dengan ekspresi kesal.
"Apanya yang lucu.!" Protes Bella sebal. Untuk kesekian kalinya dia memukul dada bidang Hendry, tapi pria itu tidak marah ataupun terganggu, lagipula pukulan Bella tidak terasa sakit sama sekali.
"Jangan cemberut seperti itu, bibirmu jadi semakin terlihat seksi. Rasanya aku ingin,," Belum sempat Hendry menyelesaikan ucapannya, Bella malah mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia takut Hendry mela hap bibirnya lagi. Bila-bila penampakan bibirnya akan semakin bengkak seperti di gigit lebah.
Hendry terkekeh dan mencubit gemas hidung Bella. Wanita itu sampai takut bibirnya di cium lagi olehnya.
"Baik, tidak mencium bibir lagi." Ujar Hendry setelah puas menjahili Bella.
Kini tangannya yang mulai berkelana, mencari tempat ternyaman yang membuatnya candu.
Badan Bella langsung menegang saat itu juga. Soroti matanya mulai berkabut gairah, membuat Hendry semakin tidak tahan untuk mene lanjangi Bella dan merengkuh kenikmatan bersama.
Sore itu, disaat matahari mulai terbenam, Hendry juga sibuk membenamkan dalam-dalam miliknya ke tubuh Bella. Sampai udara dingin di kamar tersebut tidak mampu menyejukkan tubuh keduanya yang sudah terlanjur panas.
Di atas ranjang, Hendry membuat Bella tidak berdaya dan memilih pasrah. Dia menurut saja saat di bolak-balik oleh Hendry untuk berganti gaya. Gairah pria itu seperti tidak bisa padam, malah semakin menggebu-gebu.
Suara khas percintaan keduanya sampai terdengar kencang, belum lagi de*sahan - de*sahan penuh kenikmatan dari mulut keduanya yang saling bersautan. Keduanya seolah lupa bahwa perbuatan yang sedang mereka lakukan adalah kesalahan besar. Tidak peduli apapun alasannya, ber cinta dengan seseorang yang sudah menikah tetap salah.
...******...
__ADS_1
Puas melakukan percintaan panas hingga berjam-jam lamanya, kini Hendry dan Bella tengah duduk di ruang keluarga sembari menonton film.
Keduanya baru selesai makan malam, mengisi tenaga setelah membuang tenaga sampai tak tersisa. Bella bahkan harus digendong saat keluar dari kamar. Wanita itu kesulitan berjalan akibat ulah Hendry yang sering lupa diri. Sudah tau barangnya kualitas super, tapi tidak punya aturan saat menggempur Bella. Alhasil sampai membuat Bella perih dan kesakitan. Tapi anehnya, Hendry malah bangga membuat Bella tidak bisa berjalan. Walaupun di sisi lain Hendry juga merasa kasihan padanya.
"Apa tidak bisa menginap semalam saja.?" Tanya Bella seraya menatap sendu, lalu menundukkan kepala dan bersender di dada bidang Hendry.
"Aku sebenarnya tidak masalah tinggal sendiri dan tidur sendiri, tapi terkadang aku kesepian." Tuturnya. Walaupun sudah bisa membuat Hendry berkali-kali tidur degannya setelah membawanya ke apartemen, tapi Bella merasa tidak puas kalau belum bisa membuat Hendry menginap.
Setidaknya dengan sering menahan Hendry menginap di apartemen, akan akan bibit permasalahan yang tumbuh dalam rumah tangga Julia. Istri mana yang tidak akan marah dan curiga jika suaminya sering tidak pulang ke rumah. Itulah yang ingin Bella lakukan. Dia akan menyiksa perasaan Julia perlahan-lahan.
"Aku temani sampai kamu tidur saja ya.?" Bujuk Hendry. Mana mungkin dia menginap, sedangkan sudah bilang pada Julia kalau hanya akan pulang terlambat.
Mendengar penolakan Hendry, Bella langsung bergeser menjauh.
"Tidak usah, Mas Hendry pulang saja. Kasihan Kak Julia menunggu." Jawabnya seraya beranjak dari sofa. Nada bicara Bella terdengar datar, tapi mampu membuat Hendry tersindir.
"Marah.?" Tanya Hendry yang berhasil mencekal pergelangan tangan Bella saat akan pergi dari ruang keluarga.
Bella menggeleng cepat.
"Sudah malam, sebaiknya Mas Hendry pulang." Usirnya halus. Bella buru-buru pergi meski harus menahan sakit karna memaksakan jalan cepat.
"Bella.!" Panggil Hendry tegas, tapi Bella tidak merespon dan tetap berlalu dari sana.
Hendry tampak mengusap kasar wajahnya sebelum beranjak untuk menyusul Bella.
"Arabella, berhenti. Dengarkan aku dulu,,"
Bukannya menghentikan langkah, Bella malah masuk ke kamar dan mengunci pintunya.
"Mas Hendry pulang saja, aku tidak apa-apa." Teriak Bella dengan suara bergetar seperti akan menangis, tapi semua itu hanya sandiwara belaka.
Bella sudah tau kelemahan Hendry, pria itu paling tidak bisa melihatnya sedih, apalagi menangis.
__ADS_1
Hendry menggerakkan handle pintu, tapi tidak bisa terbuka karna sudah dikunci dari dalam.
"Buka dulu, biarkan aku masuk." Pinta Hendry.
Raut wajahnya tampak frustasi, padahal tadi full senyum karna puas ber cinta. Sekarang malah di hadapkan dengan drama yang membingungkan.
Bingung harus pulang ke rumah istrinya, atau menginap bersama selingkuhannya. Jika dipikir-pikir, sebenarnya sangat merepotkan memiliki 2 wanita sekaligus. Tapi itu konsekuensi yang harus di di hadapi oleh Hendry atas pilihannya.
...*****...
Dalam dekapan Hendry, Bella mengembangkan senyum devil. Jangan sebut perusak rumah tangga orang kalau tidak bisa merayu. Hanya dengan satu cara, Bella berhasil membuat Hendry menginap di apartemen.
"Sayang,," Panggil Bella lirih.
,
"Hemm,,"
Hendry sejak tadi memejamkan mata, tapi tangannya masih mengusap-usap punggung Bella.
"Bagaimana kondisi Ale.? Apa masih sering menangis.? Aku juga rindu padanya." Suara Bella berubah sendu, mendadak dia sedih karna teringat Ale. Bella sudah menganggap Ale lebih dari keponakannya sendiri. Tidak peduli seburuk apapun perlakuan Ibu kandung Ale padanya, Bella menyayangi dan mencintai Ale dengan tulus.
"Sudah lebih baik. Sepertinya kalian jangan bertemu dulu dalam waktu dekat, aku takut Ale histeris lagi kalau harus berpisah lagi dengan kamu." Tutur Hendry lembut. Dia bukan bermaksud melarang Bella bertemu dengan Ale, tapi mengingat Ale mulai terbiasa tanpa kehadiran Bella, lebih baik memang tidak usah bertemu dulu.
Bella sebenarnya kecewa, tapi dia tidak membantah. Mungkin lebih baik seperti itu, demi kebaikan Ale.
...*****...
Di tempat lain, Julia sedang gelisah karna Hendry belum pulang. Padahal sudah hampir pukul 12 malam.
Ponselnya juga tidak bisa di hubungi. Sudah telfon ke kantor dan asisten pribadi Hendry, tapi tidak ada yang tau keberadaan suaminya itu.
"Semoga hanya perasaanku saja." Ucap Julia dengan perasaan campur aduk. Tidak bisa di pungkiri, ada perasaan khawatiran dan curiga ketika Hendry tidak ada kabar. Padahal sudah janji akan pulang, tapi sudah tengah malah seperti ini malah belum kelihatan. Nomor ponselnya juga tidak aktif.
__ADS_1
Bagaimana Julia tidak curiga. Namun berusaha untuk di tepis, Julia yakin pada suaminya itu. Hendry pasti tidak akan macam-macam diluar sana karna sejak dulu sangat setia dan hanya mencintainya saja.