
Berbagai memory kenangan masa lalu Bella dari kecil hingga remaja, seolah terus berputar saat memasuki rumah tersebut. Baru berumur 22 tahun, belum menikah, tapi Bella sudah merasakan pahit manisnya kehidupan, bahkan sejak dia masih kecil. Berasal dari keluarga yang memiliki hubungan rumit, menjadi anak dari istri kedua tentu bukan perkara mudah untuk di jalani. Berbagai macam perlakuan buruk dan hinaan sudah menjadi makanan sehari-hari. Belum lagi keluarga dari pihak Papanya juga tidak sepenuhnya mau menerima. Walaupun sudah dijelaskan bahwa semua itu murni kesalahan Baskoro, tetap saja semua orang memandang Selena buruk.
Masih jelas di ingatan Bella, kala itu usianya baru 6 tahun. Nenek dari keluarga Papanya datang ke rumah bersama Natalie dalam keadaan marah-marah dan menghina Ibunya. Bahkan sampai menyodorkan koper berisi gepokan uang yang entah berapa jumlahnya. Mungkin seumur-umur Selena dan Bella juga baru pertama kali melihat uang sebanyak itu.
Bella dan Selena di paksa pergi jauh dari kehidupan Baskoro, dengan di janjikan uang sebanyak itu.
Selena jelas menolak. Tampa harus di bayar sekalipun, dia sebenarnya bisa pergi bersama Bella dari kehidupan Baskoro. Tapi berulang kali Baskoro meminta mereka untuk tidak pergi.
"Bu, aku pastikan mereka akan menebus rasa sakit hati yang sudah mereka torehkan pada kita." Lirih Bella dengan suara bergetar, lalu beranjak memasuki rumah yang penuh kenangan itu.
"Non Bella, apa kabar.?" Seorang asisten rumah tangga datang menghampiri Bella. Wanita paruh baya itu sudah 15 tahun bekerja di sana, dia tau semua tentang kehidupan Selena dan Bella. Bahkan dia juga sudah di anggap seperti keluarga.
"Baik Bik. Bibi sehat.?" Tanya Bella ramah. Dia tidak sungkan-sungkan mencium tangan asisten rumah tangganya itu.
"Sehat Non. Itu Tuan sudah menunggu di atas." Tuturnya seraya melirik ke lantai dua. Baskoro sudah datang 15 menit lebih awal dari Bella.
"Non Bella mau minum apa.?"
Bella menggeleng pelan.
"Tidak usah Bik, nanti Bella ambil sendiri kalau haus. Bella ke atas dulu." Pamitnya kemudian bergegas menaiki tangga.
...*****...
Di sebuah kamar, lukisan seseorang menghiasi sudut ruangan sejak 5 tahun lalu. Lukisan berukuran 60x80 cm itu menggambarkan seulas senyum manis dari seorang wanita sederhana.
Namun tidak sesederhana sifatnya yang sangat luar biasa. Sifat yang penuh dengan kesabaran, ketulusan, kebaikan dan selalu memberikan maaf pada siapapun yang pernah menyakitinya.
Wanita yang secara kasar mata terlihat sangat sederhana, tapi sangat spesial di hati seorang pria yang mencintainya. Bahkan setelah bertahun-tahun tiada, wanita itu masih terukir di hatinya. Segala kenangan indah bersamanya pun masih tersimpan rapi dalam ingatan.
"Selena, andai aku bisa memutar waktu." Lirih Baskoro dengan mata yang sudah mengembun.
__ADS_1
3 tahun mencintai selena dan memperlakukannya dengan baik, rasanya tidak sebanding dengan semua pengorbanan dan apa yang sudah di lalui oleh Selena selama ini.
Di ambang pintu, Bella mengusap sudut matanya yang sudah basah sejak tadi. Dia tau Papanya baru bisa menerima dan mencintai Ibunya beberapa tahun terakhir sebelum Ibunya menghembuskan nafas terakhir. Sebagai seorang anak, Bella tentu kecewa dengan sikap Papanya selama mendiang Ibunya masih hidup.
Bella kecewa karna Papanya tidak bisa melihat ketulusan dan cinta sang Ibu yang memang diam-diam mencintai Baskoro sejak lama. Tapi Papanya itu seolah tutup mata dan hanya cinta pada Natalie saja.
Kini semuanya sudah berlalu, Bella berusaha membuang rasa kecewanya itu dan menghargai Papanya sebagai orang tua, seperti pesan Ibunya sebelum meninggal.
"Ibu sudah bahagia di surga." Ujar Bella seraya berjalan mendekat.
Baskoro buru-buru menetralkan perasaannya yang berkecambuk. Pria itu berbalik badan, lalu melempar senyum pada putrinya.
"Papa hanya rindu dengan Ibumu." Ujar Baskoro jujur. Bella memalingkan wajah karna matanya kembali perih. Ibunya memang sangat baik, sampai meninggalkan kesan yang mendalam di hati semua orang yang dekat dengannya.
...****...
Baskoro dan Bella sudah pindah ke ruang kerja. Di sana juga sudah ada pengacara serta orang kepercayaan Baskoro yang baru datang beberapa menit lalu.
"Bella, Papa sudah semakin tua." Ujar Baskoro. Jantung Bella mendadak berdetak cepat. Baru beberapa detik yang lalu dia punya pikiran buruk, sekarang malah mendengar ucapan yang menakutkan dair mulut sang Papa.
"Papa butuh seseorang yang bisa menggantikan posisi Papa dan menjaga semua aset-aset milik Papa. Kamu tidak bisa menolaknya lagi karna cuma kamu satu-satunya anak Papa yang berhak menerimanya." Tuturnya serius. Bukannya paham, Bella malah semakin bingung. Dia berusaha mencerna ucapan Papanya, tapi tetap tidak mengerti.
"Maksud Papa apa.? Bukankah ada Kak Julia. Kak Julia yang lebih berhak menggantikan posisi Papa." Sanggah Bella. Lagipula dia juga tidak tertarik memiliki semua aset kekayaan sang Papa yang mungkin tidak akan habis 7 turunan.
Baskoro menggelengkan kepala tanpa sepatah kata. Dia malah menyodorkan amplop putih ke tangan Bella.
Tidak mau semakin lama di buat penasaran, buru-buru Bella membuka amplop itu dan mengambil kembaran kertas di dalamnya.
Bella membaca rentetan tulisan pada kertas di tangannya. Wajah Bella yang awalnya kebingungan, kini berubah syok dan seketika paham maksud ucapan Papanya.
"Bagaimana bisa.?" Tanya Bella spontan. Dia menatap sang Papa dengan tatapan nanar. Tiba-tiba kerasa kasihan dan mengkhawatirkan perasaan sang Papa yang mungkin sangat kecewa dengan kenyataan ini.
__ADS_1
Hasil laporan itu tertulis tanggal 8 Juni, artinya baru 1 minggu yang lalu kebohongan ini terbongkar.
Baskoro kemudian menceritakan kejadian yang dia dengar beberapa waktu lalu saat tidak sengaja menguping pembicaraan Natalie dengan Julia lewat telfon. Natalie mengungkapkan kekhawatirannya kalau suatu saat rahasia tentang Julia terbongkar. Bahwa Julia bukan darah daging Baskoro, melainkan darah daging dari selingkuhannya dulu.
Mendengar cerita dari sang Papa, Bella merasa punya kesempatan lebih besar untuk menghancurkan Natalie dan Julia.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Bella akhirnya menceritakan semua perlakuan buruk yang dia dapatkan dari Julia dan Natalie selama ini. Bella juga mengadu kalau dia sebenarnya di usir oleh Julia dan di ancam agar tidak menampakkan diri di depan Papanya lagi.
Baskoro langsung memegangi dadanya yang seketika sesak. Dia merasa tidak berguna dan gagal menjadi orang tua karna tidak bisa melindungi putrinya.
"Kenapa tidak bilang sejak dulu.?" Tanya Baskoro sendu. Dia menggenggam erat tangan putrinya.
"Bella hanya tidak ingin merusak kebahagiaan Papa dan keluarga kecil Papa." Jawab Bella.
Baskoro menarik nafas dalam. Bella terlalu baik seperti mendiang Ibunya.
"Kamu juga keluarga Papa, anak Papa. Tidak seharusnya kamu menanggung semua ini sendirian." Baskoro menarik Bella dalam dekapan. Pria paruh baya itu terisak, dia merasakan sakit ketika membayangkan Bella diperlakukan dengan sangat buruk oleh Natalie dan Julia.
"Maafkan Papa nak, maafkan Papa." Suara Baskoro tercekat. Bella akhirnya ikut menangis dan meluapkan semua kesedihan yang selama ini dia pendam seorang diri.
...*****...
"Sisakan masing-masing 10 % saja untuk Natalie dan Julia, kalau nanti mereka tidak terima, kita bawa kebohongan mereka ke jalur hukum.!" Tegas Baskoro pada pengacara dan orang kepercayaannya.
Baskoro akhirnya hanya membagi 20 persen hartanya pada Natalie dan Julia.
Bella juga sudah setuju untuk menerima 80 pernah harta miliknya dan semua aset yang tidak di ketahui orang lain.
Jika seluruh bagian Bella di total, Julia dan Natalie hanya mendapatkan 5 % saja dari seluruh harta kekayaan Baskoro. Anggap saja 5 % itu untuk upah Natalie selama 29 tahun menjadi istri Baskoro.
Bella tersenyum puas dalam hati. Dua wanita serakah itu dipastikan akan gigit jari karna hanya mendapatkan remahan saja. Padahal selama ini sudah terlalu percaya diri untuk mendapatkan semua harta Baskoro.
__ADS_1