
Hendry merogoh ponselnya yang bergetar di tengah-tengah meeting dengan para pemegang saham. Membuat tatapan orang-orang di ruangan itu langsung tertuju pada Hendry. Sebab pemilik perusahaan itu tadi sedang menjelaskan hal penting, tapi kemudian terjeda karna harus merogoh ponselnya dalam saku celana.
Hendry menundukkan kepala, membaca nama yang tertera pada layar ponselnya. Begitu mengetahui bahwa yang menelfonnya adalah Bik Lastri, Hendry segera mengangkatnya tanpa ragu, padahal semua orang di ruangan itu sedang menunggunya meneruskan meeting.
"Saya angkat telfon dulu." Pamit Hendry kemudian beranjak dari kursinya, dia berdiri di pojok ruangan, sedikit jauh dari orang-orang di dalam sana.
"Kenapa.? Apa Bella tidak mau sarapan.?" Ujar Hendry menebak. Bukan tanpa alasan Hendry asal menebak. Dia ingat kejadian kemarin saat Bella tidak mau makan siang, begitu dia datang dan mengajak Bella makan siang, wanita hamil itu langsung makan tanpa protes.
Ruangan meeting mendadak hening, semua orang seperti sengaja diam agar bisa mendengar pembicaraan Hendry dengan seseorang di seberang sana. Mereka penasaran, siapa yang bisa membuat Hendry menghentikan meeting penting di tengah jalan hanya untuk menerima telfon. Mereka menduga kalau orang tersebut cukup berpengaruh, sampai-sampai Hendry lebih mendahulukan menerima telfon daripada menyelesaikan meeting.
"Ya Tuan, Nona Bella tidak menyentuh makanannya, bahkan belum beranjak dari kasur sejak bangun." Lapor Bik Lastri di seberang sana, dari nada suaranya terdengar cemas.
Mungkin takut Bella pingsan lagi seperti kemarin karna kurang asupan makanan. Jadi saat melihat Bella tidak mau sarapan, Bik Lastri langsung menghubungi Hendry.
Karena sebelum Hendry keluar dari rumah Bella, sudah berpesan padanya agar Bella sarapan tepat waktu. Tapi karna Bella baru bangun pukul 8, jadi Bik Lastri justru baru mengantarkan sarapan jam 8 juga. Kini sudah hampir jam setengah 10, makanan yang di bawa ke kamar Bella masih utuh.
"Berikan ponselnya pada Bella, biar saya yang membujuknya." Pinta Hendry.
"Baik Tuan." Bik Lastri buru-buru menaiki tangga dan masuk ke kamar Bella.
...*****...
"Ya, masuk Bik.!" Seru Bella menjawab panggilan Bik Lastri dari luar kamarnya.
Kepala Bella menyembul di balik selimut, memperhatikan Bik Lastri yang berjalan ke arahnya sambil menggenggam ponsel.
"Maaf Non, ini Tuan Hendry mau bicara." Ujarnya seraya menyodorkan ponselnya pada Bella.
Bella sempat menatap heran, tapi akhirnya menerima telfon itu dan mengubah posisinya dengan duduk bersadar.
"Bibi kebawah dulu Non, ponselnya biar disini saja kalau sudah selesai telfon, nanti Bibi yang ambil sendiri." Ujar Bik Lastri sebelum keluar dari kamar Bella. Dia menjaga privasi majikannya itu, membiarkan Bella berbicara dmegan Hendry lewat telfon.
"Terimakasih Bik." Kata Bella yang hanya di angguki oleh Bik Lastri, lalu bergegas menutup pintu kamar Bella.
Bella kemudian menempelkan ponsel ke telinganya, niatnya mau tanya kenapa Hendry menelfon. Tapi Hendry lebih dulu berbicara.
"Arabella, mau berapa kali lagi aku ingatkan hemm.?" Tanya Hendry yang terdengar gemas dan kesal sendiri.
"Ada dua kehidupan di rahimmu, mereka butuh asupan makanan. Usahaka makan tepat waktu, jangan menundanya." Tuturnya dengan suara lebih lembut dari sebelumnya.
__ADS_1
"Jangan membuat anak-anak kelaparan. Apa kamu tega membiarkan mereka kelaparan.?" ucapnya lagi.
Bella cemburut, dia membuang nafas kasar dan itu di dengar oleh Hendry.
"Aku belum ingin makan." Jawab Bella cuek.
"Tapi anak-anak sudah waktunya makan."
"Jangan membuatku menghentikan meeting ini untuk pulang karna harus menyuapimu." Sela Hendry. Kalau saja meetingnya bisa di tunda nanti siang atau besok pagi, sudah pasti Hendry tidak akan susah payah membujuk Bella untuk makan, karna dia akan langsung meninggalkan perusahaan dan datang ke rumah Bella.
Bella terdiam ketika mengetahui Hendry sedang meeting. Dia jadi tersentuh ketika Hendry menyempatkan untuk bicara dengannya lewat telfon disaat sedang meeting.
"Mas Hendry lanjutkan saja meetingnya. Telfonnya aku matikan." Ujar Bella. Dia tidak mau fokus Hendry pecah di saat sedang meeting hanya gara-6 ingin membujuknya supaya sarapan.
"Jangan dimatikan, kita videocall saja. Aku akan melanjutkan meeting, lalu kamu sarapan." Pinta Hendry.
Bella menolak, dengan alasan tidak mau menganggu meetingnya. Tapi Hendry malah bersikeras untuk melakukan panggilan vidio, sampai mendesak Bella dan wanita itu terpaksa menyetujui keinginan Hendry.
Kini Bella bisa melihat setengah badan Hendry dari layar ponsel. Posisi Hendry sedang duduk tegap, sepertinya Hendry meletakkan ponsel di atas meja, tepat di depannya.
Bella jadi malu dan khawatir sendiri, takut orang-orang di samping Hendry menatap ke arah ponsel Hendry dan melihat wajahnya.
Bella tampak menikmati pemandangan di depannya sambil menyantap sarapan dengan lahap. Memperhatikan wajah tampan Hendry yang terlihat sangat berwibawa dan berkharisma ketika sedang memimpin rapat.
Terkadang Bella memalingkan wajah ketika Hendry melirik ke arahnya di sela-sela meeting.
20 menit berlalu, Bella sudah menghabiskan sandwich, buah-buah potong beraneka macam, lalu menghabiskan segelas susu.
"Sudah habis.? Aku tutup telfonnya ya." Tanya Hendry yang melihat makanan di atas meja Bella sudah kosong.
Bella mengangguk, dia tidak berani bersuara karna malu di dengar orang lain.
Detik berikutnya, Hendry langsung mematikan sambungan telfonnya.
Bella diam-diam mengulum senyum, hanya di temani sarapan lewat sambung telfon saja sudah membuatnya senang. Tapi bukan Bella namanya kalau menunjukkan rona bahagia di depan Hendry, wanita itu terlalu malu jika terang-terangan terlihat bahagia atas perlakuan Hendry.
Semua itu gara-gara gengsi. Gengsinya terlalu besar.
...*****...
__ADS_1
"Ja-lang sialan.!! Tidak tau diri.!" Teriak Julia penuh emosi.
Wanita itu mengamuk di dalam kamarnya, membanting apapun yang ada di depan mata, dan meracau tidak karuan setelah memutuskan menyetujui untuk bercerai dengan Hendry karna tidak ada pilihan lain. Daripada tidak mendapatkan sepeserpun dari harta Hendry dan Baskoro. Julia takut miskin, belum siap kehilangan semua kemewahan yang bergelimang sejak dia lahir.
Nasib Julia cukup mujur, terlahir dari rahim seorang wanita yang berstatus sebagai istri pengusaha kaya raya, membuat Julia bergelimang harta dan bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan meski sebenarnya bukan darah daging Baskoro.
Seandainya saja Natalie tidak menjadi istri Baskoro, mungkin hidup mereka tak semewah saat ini. Karna meskipun Natalie berasal dari keluarga pengusaha, kekayaannya masih jauh di bawah Baskoro.
"Jika pernikahanku dengan Hendry berakhir, aku pastikan kalian tidak akan bisa hidup bersama.! Kamu harus hancur dan lebih menderita dariku, Bella.!!" Teriak Julia lalu tersenyum miring penuh arti.
Julia bukan tipe orang yang akan diam saja ketika kehidupannya lebih menyedihkan dari orang lain yang dia benci. Dia bisa melakukan segala cara, seperti yang pernah dilakukan oleh Mamanya untuk menyingkirkan penghalang dalam hidupnya.
...******...
"Mama mau bawa Ale menginap di rumah Mama, kamu tidak keberatan kan.?" Ujar Farah pada menantunya. Keduanya sedang makan siang di meja yang sama.
Farah ingin mengajak Ale menginap karna melihat raut wajah Julia seperti sedang menyimpan amarah dan dendam, jadi Farah merasa khawatir meninggalkan Ale bersama Julia meski di rumah itu ada baby sitter dan pekerja yang lain. Takut Julia berbuat nekat, atau lepas kendali dan di lampiaskan pada Ale. Mengingat menantunya itu sedang stress memikirkan nasib rumah tangannya dengan Hendry.
"Terserah Mama saja." Sahut Julia dingin. Dia lebih fokus menyantap makan siangnya, dari pada menatap Mama mertuanya yang sedang mengajaknya bicara.
"Bagaimana keputusan kamu dan Hendry.? Apa masih bisa di perbaiki pernikahan kalian.?" Tanya Farah basa-basi. Dia sebenarnya sudah lepas tangan, apalagi saat tau kalau Julia juga berselingkuh seperti Hendry.
Sekarang anak dan menantunya itu sama saja, Sama-sama berbuat gila.
"Ck.!" Julia berdecak sinis, tak lupa menatap tajam.
"Mama tidak usah pura-pura.! Hendry pasti sudah bilang kalau dia akan tetap menceraikanku demi wanita ja-lang itu.!" Gerutunya kesal.
"Seharusnya Mama menasehati Hendry agar tidak menceraikanku, bagaimana dengan nasib Ale nanti.!" Ujar Julia dengan kalimat memojokkan.
Farah menahan diri untuk tidak terpancing emosi atas ucapan ketus menantunya.
"Tentu saja Mama sudah menasehati Hendry, tapi keputusan tetap ada di tangannya. Dia yang menjalani, jadi Mama tidak mau ikut campur." Sahut Farah santai.
"Sudahlah.! Percuma saja bicara dengan Mama.!" Gerutu Julia seraya beranjak dari meja makan. Pergi begitu saja meninggalkan Mama mertuanya.
"Astaga wanita itu.! Benar-benar pantas di ceraikan.!" Gumam Farah sewot.
Sikap Julia membuatnya geleng-geleng kepala.
__ADS_1