
Suara gedoran pintu kembali terdengar untuk kesekian kalinya. Selama itu juga Hendry mengumpat kasar sambil terus memacu dirinya di atas tubuh Bella. Belum juga mendapat pelepasan, tapi Papa mertuanya sudah jahil. Sengaja ingin menggagalkan kegiatan pasutri baru.
"Kamu lihat sendiri kan ulah Papamu,," Ucap Hendry kesal.
"Tapi Mas, siapa tau ada hal penting yang ingin Papa katakan." Bella masih berusaha berfikir positif. Mungkin semalam memang sengaja mengerjai Hendry, tapi belum tentu pagi ini berbuat jahil lagi.
"Tanggung Bella, aku sebentar lagi sampai. Abaikan saja gedoran pintunya." Kata Hendry kemudian membenamkan wajahnya di leher Bella untuk mengembalikan fokus Bella pada permainan panas mereka yang masih berlangsung itu.
Fokus Bella yang tadinya terbagi, kini sudah kembali fokus dengan menikmati permainan dan sentuhan-sentuhan Hendry yang memabukkan.
Gedoran pintu tidak membuat permainan panas mereka berhenti. Mungkin karna sama-sama menginginkannya sejak lama, jadi tidak masalah meski ada rintangan yang sedang menerjang dari ulah jahil Baskoro.
Sementara itu, Baskoro mengulum senyum geli lantaran gedoran pintu tidak membuat Hendry ataupun Bella keluar dari kamar. Dia kemudian berlalu dari sana karna niatnya memang iseng saja. Ingin mengerjai anak dan menantunya yang sudah berbuat gila karna tanam saham duluan sebelum menikah.
Kesal sudah pasti, tapi diluapkan juga percuma saja karna tidak akan mengembalikan keadaan. Kecebong Hendry sudah terlanjur tumbuh, rasanya sia-sia kalau di bawa kesal menghadapi dua orang itu. Lebih baik di bawa santai, sesekali mengerjai juga agar tidak tegang dan stress dengan kelakuan anak dan menantunya itu yang di luar nalar. Bisa-bisanya selingkuh dengan ipar. Apa tidak bikin sakit kepala Baskoro. Terlebih dia sangat mengenal baik bagaimana sifat anak dan menantunya. Kalau saja belum melakukan operasi jantung, mungkin Baskoro hanya tinggal nama saat mengetahui perbuatan mereka.
...*****...
Pasutri itu menghabiskan waktu sampai siang di dalam kamar. Belum keluar kamar sejak bertempur tadi pagi. Hendry tidak membiarkan Bella keluar dari kamar, seperti sengaja mengurung Bella untuk menunjukkan pada Papa mertuanya kalau mereka bisa melakukannya sampai siang setelah di gagalkan pada malam pernikahan mereka.
"Hampir jam makan siang, aku sudah lapar." Kata Bella setengah merengek.
__ADS_1
Hendry lantas melirik nakas, buah dan cemilan yang dia minta pada ART sudah habis tanpa sisa. Hanya air mineral yang masih utuh 1 botol. Pertempuran panas mereka cukup menguras tenaga, mau sebanyak apapun amunisinya, tetap saja kurang. Masih merasa lapar, terlebih bagi Bella yang sedang berbadan tiga.
"Oke, kita mandi dulu." Hendry menyibak selimut, dia turun dari ranjang lebih dulu untuk menggendong Bella. Keduanya sama-sama polos karna baru selesai bertempur untuk kesekian kalinya.
Bella mengalungkan kedua tangan di leher Hendry. Tadi pagi padahal masih kesal, tidak mau di dekati Hendry. Setelah meluruskan kesalahpahaman, Bella jadi semakin menempel pada pada Hendry. Terlebih sudah di buat puas berkali-kali, tambah klepek-klepek saja Ibu hamil yang hasratnya sedang tinggi-tingginya itu.
"Hanya mandi kan.?" Tanya Bella setelah di turunkan di bawah guyuran shower yang sebelumnya sudah di nyalakan Hendry sembari menurunkan Bella.
"Aku tidak keberatan kalau kamu ingin dipuaskan disini." Jawab Hendry percaya diri. Bella berdecak, lalu mencubit perut roti sobek milik suaminya.
"Tenaga ku sudah terkuras habis." Bella menyenderkan kepalanya di dada Hendry, membuat pria terkekeh gemas. Keduanya mandi di bawah guyuran shower, Hendry ikut membantu memandikan Bella yang sudah kehilangan tenaganya. Pria itu menggosok tubuh istrinya, dia menahan diri untuk tidak terpancing dengan tubuh seksi Bella yang sedang dia gosok.
Sesekali keduanya terkekeh karna saling jahil.
Abisnya untuk menguasai harta Baskoro juga gagal. Bukannya dapat harta, dia malah kehilangan Mamanya karna di penjara. Semua rencana mereka tidak ada satupun yang berhasil. Kejahatan yang sudah mereka susun, malah berbalik pada diri mereka sendiri.
Mungkin juga semua itu balasan atas perbuatan mereka yang telah membunuh Selena. Seandainya Baskoro tau, mungkin pria itu juga akan menjebloskan Julia ke penjara meminta hukuman mati untuk Natalie dan Julia.
Tapi Natalie dan Julia sama sekali tidak menyadari kesalahannya meski sudah ditimpa banyak masalah. Keduanya juga tidak merasa bersalah sama sekali, yang ada malah melimpah kesalahan pada Bella. Satu-satunya penghalang yang belum sempat mereka lenyapkan, tapi rencana mereka sudah keburu terbongkar.
"Bagaimana ini.? Aku takut Nyonya Julia kenapa-napa." Kata Zira pada Bik Inah. Keduanya sedang berdiri di depan pintu kamar Julia, sudah mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada jawaban. Terlebih sejak semalam Julia tidak keluar kamar dan sempat memperingati pekerja rumah supaya tidak mengganggunya.
__ADS_1
Sekarang sudah pukul 11 siang, jadi Bik Inah dan Zira terpaksa mengetuk pintu kamar Julia karna mereka khawatir pada majikannya itu, takut Julia pingsan di dalam. Dugaan mereka semakin kuat saat mengetuk dan memanggil Julia berulang kali namun tidak ada jawaban, padahal sudah lebih dari 15 menit mereka berusaha memanggil Julia.
"Panggil security saja, kita dobrak pintunya." Ujar Bik Inah, tidak ada pilihan lain untuk mengetahui keadaan majikannya di dalam sana.
Zira mengangguk setuju, dia lantas turun ke bawah untuk memanggil security. Urusan di marahi Julia, nanti mereka pikirkan belakangan. Yang penting bisa memastikan keadaan Julia di dalam sana.
Tak berselang lama Zira datang bersama security, tapi pria paruh baya itu terlihat takut-takut saat di minta mendobrak pintu kamar majikannya. Dia masih butuh uang, bagaimana kalau nanti Julia marah dan memecatnya.
"Sudah cepetan dobrak saja. Nanti saya yang akan tanggungjawab.!" Seru Bik Inah yang mulai tidak sabar. Sekalipun sudah sering di marahi Julia, tepat saja Bik Inah merasa bertanggungjawab atas keselamatan majikannya.
"Ya sudah kalau begitu." Ujar security yang akhirnya mau mendobrak pintu karna sudah di jamin oleh Bik Inah.
Zira dan Bik Inah sedikit menjauh, memberikan ruang pada security untuk mendobrak pintu.
Beberapa kali security itu menabrakkan tubuhnya ke pintu, sampai ke empat kalinya pintu kamar berhasil terbuka. Security memilih mundur dan berdiri di balik dinding kamar, dia membiarkan Zira dan Bik Inah yang masuk ke dalam kamar.
"Ya ampun Nyonya.!" Zira dan Bik Inah berteriak histeris. Mereka syok melihat keadaan majikannya yang terkapar di atas ranjang dengan mulut berbusa. Bik Inah langsung mengecek denyut nadi Julia, beruntung Julia masih hidup.
"Pak Darto.!! Cepat masuk, Nyonya pingsan.!!" Teriak Zira.
Saat itu juga Pak Darto masuk ke dalam kamar, dia juga terkejut melihat keadaan majikannya mengenaskan seperti itu. Wajahnya sangat pucat, mulutnya berbusa.
__ADS_1
"Suruh supir menyiapkan mobil.!" Ujar Pak Darto sambil mengangkat tubuh majikannya.
Zira langsung turun mencari supir, sedangkan Bik Inah buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Hendry. Karna hanya Hendry yang bisa dimintai tolong. Bik Inah tidak punya nomor telfon kerabat Julia.