
Biasanya orang sehabis bangun tidur itu wajahnya kelihatan cerah dan segar. Karna semalaman sudah istirahat, memulihkan tenaga setelah seharian beraktivitas. Tapi hal itu tidak berlalu pada Hendry. Wajah tampannya tampak kusut dan masam. Bangun tidur bukannya segar malah lesu, moodnya juga buruk. Gara-gara pisah kamar sama istri dan anaknya tanpa ada obrolan sebelumnya. Tadi malam saat masuk ke kamarnya, tau-tau tidak ada orang. Kamarnya kosong, Bella dan Ale tidak ada di dalam. Tentu saja Hendry kesal, apalagi setelah mencari keberadaan mereka dan ternyata istri serta anaknya di bawa kabur Mamanya ke kamar utama. Bagaimana Hendry tidak kesal karna semalam tidur sendirian.
Dengan malas, Hendry turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah ini dia akan membuat perhitungan dengan Mamanya. Karna Hendry yakin kalau Mamanya sengaja mengajak Bella dan Ale tidur di kamar utama. Sebab sebelumnya tidak ada obrolan kalau mereka akan tidur satu kamar.
Sementara itu di kamar utama, Bella sudah bangun sejak tadi. Dia juga sudah membersihkan diri. Ale dan Mama mertuanya masih tidur pulas. Bella mengambil guling untuk di letakkan di samping Ale agar balita gembul itu tidak terguling.
Setelah memastikan Ale aman, Bella bergegas keluar dari kamar Mama mertuanya. Dia pergi ke kamar Hendry yang tidak terkunci.
"Mas,," Bella mengetuk pintu kamar mandi. Di dalam terdengar suara gemercik air, jadi sudah pasti ada Hendry di sana.
Mendengar ketukan pintu dan suara Bella, Hendry segera membuka pintu kamar mandi, tidak peduli posisinya sedang telan jang bulat dengan banyak busa yang menempel di tubuhnya.
Seperti mendapatkan jackpot, mata Hendry lansung berbinar melihat istrinya datang di waktu yang tepat. Dia buru-buru menarik Bella, membawa istrinya itu masuk ke kamar mandi, lalu mengunci pintu.
"Mas,, aku kesini cuma mau ngasih tau kalau semalam Mama yang memintaku tidur dengannya." Tutur Bella seraya melepaskan diri dari Hendry. Dia cuma ingin menjelaskan pada Hendry supaya suaminya itu tidak salah paham, tapi malah di tarik ke dalam kamar mandi.
"Aku sudah tau." Jawab Hendry. Dia kembali menarik Bella dan memegangi pinggangnya.
"Lama-lama kelakuan Farah mirip seperti Papa mu.!" Gerutu Hendry kesal.
Bella melotot mendengar Hendry menyebut Mamanya hanya dengan nama saja.
"Sangat tidak sopan hanya menyebut nama." Protesnya. Hendry terkekeh kecil, lagipula Mamanya juga tidak ada disana. Kalau ada, mana mungkin Hendry berani menyebut Farah tanpa ada embel-embel Mama di depannya.
"Salah siapa membuatku kesal." Jawab Hendry. Bella sampai menggeleng melihat tingkah suaminya seperti anak kecil.
"Lepas, kamarnya tidak aku kunci. Takut Mama masuk." Bella masih berusaha lepas dari serangan biaya lapar. Dia bisa merasakan ada bahaya yang mengintai, itu sebabnya minta dilepaskan. Tapi bukan Hendry namanya kalau melepaskan mangsa begitu saja. Apalagi sudah di incar sejak kemarin, mana mungkin Hendry menyia-nyiakan kesempatan. Mumpung mangsanya datangnya sendiri.
"Biarkan saja, apa kamu tidak kasihan padanya." Bisik Hendry seraya mengarahkan tangan Bella untuk menyentuh tower yang sudah tenggang tersebut. Bella membulatkan mata, suaminya itu benar-benar konyol untuk urusan bercocok tanam.
40 menit berlalu, Hendry membuat Bella lemas tak bertenaga. Pria itu tidak mau menyudahi permainan meski sempat ada gangguan di luar kamar mandi. Gedoran pintu dan suara Mama Farah tidak menjadi penghalang Hendry untuk menyalurkan hasratnya pada sang istri.
Tidak heran kalau saat ini wajah Hendry kelihatan berseri-seri, bersemangat dan kelihatan segar. Berbanding terbalik ketika baru bangun tidur tadi.
__ADS_1
"Aku malu bertemu Mama." Ucap Bella dengan bibir mengerucut. Dia sudah selesai mengeringkan rambut, tapi belum beranjak dari depan meja rias.
Bella malu pada Mama mertuanya, karna ketahuan ber cinta di kamar mandi.
"Jangan di pikirkan, nanti biar aku yang bicara dengan Mama. Ayo turun." Hendry meraih tangan Bella untuk di gandeng. Istrinya itu tampak ragu, tapi akhirnya keluar kamar juga.
Sekarang Bella bisa merasakan apa yang sempat dirasakan oleh Hendry. Di kerjai oleh mertua. Walaupun niat Farah ingin mengerjai anaknya sendiri, tapi malah Bella yang merasa di kerjai. Sebab Hendry memilih memasang muka tebal di depan orang tuanya sendiri, jadi cuek saja. Yang ada malah berniat memarahi Mamanya.
...*****...
"Masih jam 9 pagi, kenapa buru-buru pulang.?" Komentar Farah saat putranya pamit mengajak istri dan anaknya pulang.
Hendry melirik sebal, bisa-bisanya tanya kenapa. Padahal Farah sendiri yang membuat Hendry malas lama-lama di rumahnya. Akibat ulah jahilnya itu.
"Mau melanjutkan yang tadi, di sini banyak gangguan." Jawab Hendry sengaja ingin membuat Mamanya kesal.
Benar saja, Farah sampai melotot menatap putranya. Entah sejak kapan putranya jadi hobby bercocok tanam. Yang ada di pikirannya hanya menghabiskan waktu bersama Bella, mencari kenikmatan.
"Kamu semakin tua, bukannya semakin waras malah makin,,"
"Keren dan tampan.!" Potong Hendry cepat, dia kemudian terkekeh geli dan langsung menyambar tangan Farah untuk mencium punggung tanganya.
"Kami pulang dulu, lusa Mama dan Papa bisa datang ke rumah baru kami." Ucap Hendry.
Farah berdecih, putranya itu kelewat percaya diri. Meskipun kenyataannya memang keren dan tampan, sebab darah dagingnya sendiri.
Bella ikut pamit pada mertuanya, mencium punggung tangan Farah dan Sudibyo bergantian.
Papa mertuanya itu lebih banyak diam, hanya geleng-geleng kepala saja melihat perdebatan anak dan istrinya.
"Hendry pasti mirip kamu saat muda." Ujar Farah saat mereka sudah pergi.
Sudibyo melirik malas, selalu saja yang jelek-jelek di lempar padanya.
__ADS_1
Memang dasar wanita, tidak mau salah walaupun sedikit.
...*****...
Hari ini jadwal check up kehamilan Bella. Hendry sengaja pulang ke rumah sebelum jam makan siang untuk menemani istrinya ke rumah sakit.
Hendry masuk ke dalam kamar, pemandangan di depan matanya membuat sudut bibir Hendry terangkat. Dia atas ranjang berukuran king size tersebut, tampak putrinya sedang tidur dalam pelukan Bella. Hendry cukup senang melihat Ale kembali dekat seperti dulu dengan Bella meski mereka sempat tidak bertemu cukup lama.
Hendry duduk perlahan di tepi ranjang. Dia mengusap lembut sebelah wajah Bella dan menatapnya teduh.
Jika ada kata yang lebih tinggi di atas bersyukur, itulah yang akan Hendry ucapkan karna memiliki Bella di sampingnya.
Bella mengerjapkan mata beberapa kali, gerakan tangan Hendry sedikit mengusik tidurnya.
"Sudah pulang.?" Tanya Bella begitu membuka mata.
"Jadwal check up 30 menit lagi. Kamu masih mengantuk ya.?" Ujar Hendry lembut. Usapannya berpindah kepucuk kepala Bella.
Bella menggeleng.
"Aku hanya menidurkan Ale, tapi ikut ketiduran." Katanya sembari menggeser tubuh gembul Ale perlahan. Hendry langsung membantu Bella memindahkan Ale supaya Bella bisa bangun.
"Sebentar, aku cuci muka dulu." Bella turun dari ranjang, dia berniat ke kamar mandi. Tapi belum sempat melangkah, Hendry malah menarik tangannya hingga duduk di atas pangkuannya.
Dalam posisi membelakangi Hendry, pria itu melingkarkan tangannya di perut Bella, memeluk Bella dari belakang dan meletakkan kepalanya dibahu Bella.
"Mas,,?" Lirih Bella. Dia menoleh untuk menahan Hendry, tapi pria itu malah membenamkan wajah di lehernya.
"Sebentar saja, aku ingin memelukmu." Jawabnya pelan.
"Kenapa.? Tidak ada masalahkan. ?" Tanya Bella sembari mengusap rahang tegas Hendry. Dia heran saja dengan sikap Hendry.
"Tidak ada, Hanya ingin seperti ini." Pelukan Hendry semakin erat. Dia sangat mencintai Bella meski dibalik semua itu ada perasaan bersalah terhadap Julia.
__ADS_1