Godaan Adik Ipar

Godaan Adik Ipar
Bab 73


__ADS_3

"Aku pulang dulu, sampai ketemu nanti." Pamit Arlan. Sebelum beranjak dari duduknya, Arlan sempat-sempatnya mengusap pucuk kepala Bella.


Padahal di sana ada Hendry yang menatapnya sejak masuk ke dalam ruangan, tapi Arlan seperti sengaja memancing kecemburuan Hendry dengan menunjukkan kedepannya dengan Bella.


Hendry memicingkan matanya melihat tingkah Arlan. Sudah dua kali pria itu mengusap pucuk kepala Bella didepannya. Kali ini malah terlihat sengaja melakukannya.


"Hmm. Hati-hati di jalan Mas, terimakasih ilmunya." Bella tersenyum ramah pada Arlan. Pria yang sempat ingin dijodohkan dengannya itu baru saja memberikan banyak ilmu pengetahuan tentang bisnis. Arlan banyak membantu Bella selama menggantikan posisi Papanya di perusahaan. Sekarang Bella sedikit paham dengan dunia yang sedang dia geluti.


Arlan mengangguk seraya mengukir senyum, dia kemudian keluar dari ruangan Bella dan hanya melewati Hendry begitu saja. Seolah-olah Hendry tidak ada di sana.


Hendry jelas saja semakin mendidih dengan sikap Arlan, pria itu sampai melonggarkan dasinya dan memilih duduk di sofa. Dia menunggu Bella selesai membereskan meja kerjanya.


Bella sudah berada di dalam mobil bersama Hendry. Mereka dalam perjalanan pulang menuju rumah Bella karna ibu hamil itu ingin mandi dulu sebelum pergi menemui orang tua Hendry.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menemani. Hendry seperti tidak mood bicara sejak keluar dari ruangan Bella. Lebih tepatnya setelah melihat interaksi yang menjengkelkan antara Arlan dengan Bella.


Pria itu cemburu, tidak suka ada pria lain yang menyentuh Bella, sekalipun hanya mengusap pucuk kepalanya saja.


Bella bukan tidak bisa melihat kecemburuan Hendry, malah sejak awal sudah curiga dengan tatapan mata Hendry pada Arlan yang menahan kekesalan.


Tapi melihat Hendry diam saja sejak tadi, Bella juga bingung sendiri harus memulai obrolan dari mana. Jadi sampai di rumah Bella, keduanya sama-sama diam.


"Aku mandi dulu,," Ujar Bella ketika memasuki rumah bersama Hendry.


"Hemm, aku tunggu di bawah. Jangan lama-lama." Sahut Hendry dan menepi ke ruang tamu.


Bella rasanya ingin tertawa lucu melihat sikap Hendry yang berubah sejak bertemu Arlan. Pria itu benar-benar cemburu sampai membuat moodnya jadi buruk.


...******...


Hendry membukakan pintu mobil untuk Bella, lalu mengulurkan tangan padanya untuk membantu Bella turun dari mobil.

__ADS_1


Wajah Bella sudah kelihatan tegang saat hampir sampai di rumah orang tua Hendry. Sekarang malah makin tegang begitu sampai, bahkan tangan Bella sangat dingin dalam genggaman Hendry.


Pria itu kemudian mengusap-usap punggung Bella supaya mengurangi kegugupan Bella.


"Jangan terlalu tegang, Mama tidak akan bersikap anarkis di depan kamu." Ujar Hendry seraya tersenyum. Dia bisa berkata seperti itu karna sebelumnya sudah berpesan pada kedua orang tuanya supaya tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan dan melarang keduanya untuk tidak mengeluarkan kata-kata pedas yang bisa memicu mood bumil berantakan dan stress.


"Aku merasa sudah kehilangan muka sebelum bertemu dengan Mama dan Papa." Lirih Bella penuh beban. Perbuatan yang dia dan Hendry lakukan sudah di luar batas, terbukti ada si kembar di dalam rahim Bella. Jadi Bella cukup sadar diri, malu untuk menunjukkan muka di depan orang tua Hendry.


"Kamu terlalu khawatir sampai berfikir seperti itu. Ada aku, kita hadapi sama-sama." Kata Hendry sambil menggandeng Bella masuk ke dalam rumah.


Di ruang keluarga, Farah dan Sudibyo sedang bermain dengan cucu mereka. Sudah dua hari Ale menginap di sana, suasana di rumah itu jadi lebih rame dan berwarna karna celotehan Ale serta tingkahnya yang menggemaskan.


Kedatangan Hendry dan Bella membuat Farah serta Sudibyo berdiri dari duduknya. Wanita paruh paya itu lantas memberikan Ale pada ART yang kebetulan melintas di sana. Ale masih terlalu kecil untuk mendengarkan masalah orang tuanya walaupun belum mengerti. Tapi di takutkan ada yang lepas kendali, jadi lebih baik Ale tidak ada di sana.


Hendry menyapa kedua orang tuanya, begitu juga dengan Bella yang menyapa dengan ragu-ragu.


Farah tidak merespon ucapan mereka, matanya malah tertuju pada perut Bella yang sudah mulai buncit dengan balutan dress yang pas di badan.


Entah sengaja ingin memperlihatkan perut buncitnya atau memang kehamilan kembar membuat perut Bella lebih besar dari usia kehamilan tunggal pada umumnya. Karna yang Farah tau dari Hendry, kehamilan Bella baru berjalan minggu ke 7.


"Duduk.!" Titah Sudibyo tegas. Pria paruh baya itu lebih bisa menutupi ekspresinya di banding Farah yang kelihatan jelas memperhatikan perut Bella dan menatap kecewa.


Hendry menggandeng tangan Bella dan mengajaknya duduk di sofa. Melihat sikap manis putranya pada Bella, Farah hanya bisa memijat pelipisnya. Putranya itu benar-benar menguji kesabaran. Dalam situasi seperti ini masih saja bertingkah menggelikan. Masalahnya mereka berdua datang untuk menjelaskan apa yang sudah mereka perbuat, tapi belum apa-apa sudah menunjukkan hubungan terlarang mereka.


"Sudah berapa minggu.?" Tanya Farah basa basi. Dia juga bingung harus bicara apa. Bella dan Hendry membuatnya tidak bisa berkata-kata dengan perbuatan ajaib mereka.


Status keduanya adalah ipar, tapi bisa-bisanya memiliki hubungan sampai menghasilkan dua bibit kecebong yang sedang berkembang.


Farah pikir kejadian seperti ini hanya di sinetron-sinetron saja, tapi kali ini dia mengalaminya sendiri.


"7 minggu Mah, bukannya Hendry su,,"

__ADS_1


"Mama tidak bertanya padamu.!" Sela Farah kesal. Tidak lupa melotot pada putranya itu.


Bella jadi canggung dan tidak nyaman mendengar bentakan Farah, meski Farah bukan membentaknya. Tapi Bella merasa kalau sebenarnya Farah sebenarnya ingin meluapkan kekesalan juga padanya, namun lebih memilih putranya sendiri yang menjadi pelampiasan.


"7 minggu,," Bella menjawab lirih.


Farah menghela nafas berat.


"Apa kalian tidak berfikir panjang saat akan berbuat.?" Cecarnya.


"Hendry sudah beristri dan punya anak, sedangkan kamu masih sangat muda Bella. Masa depan kamu masih panjang, bisa-bisanya tertarik pada Hendry. Apa kalian tidak sadar, banyak orang tersakiti dan kecewa atas perbuatan kalian." Tutur Farah tak habis pikir. Dia bukan bermaksud mau menyudutkan Bella atupun Hendry, tapi Farah merasa harus mengatakan semua itu agar mereka tau bahwa selalu ada konsekuensi yang harus di terima untuk setiap perbuatan buruk yang mereka lakukan.


"Mah,, tolong jangan bicara seperti itu di depan Bella." Tegur Hendry memohon. Hendry sampai menggenggam tangan Bella untuk memberinya kekuatan, berharap mental Bella tidak drop gara-gara mendengar omelan Farah.


”Lalu Mama harus bagaimana.? Apa harus memuji perbuatan kalian.?" Gerutu Farah kesal.


"Bella minta maaf sudah mengecewakan Mama dan Papa. Bella yang bersalah disini. Sebenarnya Bella tidak masalah membesarkan kembar sendiri, agar Mas Hendry tidak mengorbankan rumah tangganya." Tutur Bella sambil menunjukan kepala, dia malu menunjukkan muka di depan Farah dan Sudibyo.


"Jangan bicara seperti itu, kamu tau sendiri rumah tanggaku dengan Julia seperti apa. Aku tidak merasa mengorbankan rumah tangga ku hanya untuk menikahimu. Sekalipun kita tidak menikah, Aku tetap akan menceraikan Julia." Lirih Hendry menatap iba pada Bella. Dia tidak tega melihat Bella terpojok.


"Astaga, Mama tidak bisa bicara apa-apa lagi." Farah menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi Hendry dan Bella.


"Sudahlah, Mama tidak akan ikut campur. Kalian berdua yang berbuat, kalian juga yang harus bertanggungjawab dan menyelesaikan masalahnya sendiri. Kami bukannya sengaja mau lepas tangan, masalahnya perbuatan kalian di luar nalar." Ungkap Farah. Dia kemudian diam beberapa saat sebelum bicara lagi.


"Mungkin beda cerita kalau Hendry belum menikah." Ujarnya.


Ya, kalau seandainya Hendry belum menikah dan putranya itu menghamili seseorang, tentu saja Farah dan sang suami akan turun tangan dan ikut bertanggungjawab di depan orang tua si wanita yang sudah dihamili oleh putranya mereka.


Karna selama anak belum menikah, orang tua masih bertanggungjawab sepenuhnya atas anak tersebut.


Sedangkan posisi Hendry saat ini sudah menikah dan punya anak. Dia seorang kepala keluarga yang usianya bahkan sudah tidak muda lagi.

__ADS_1


Seharusnya Hendry bisa bersikap lebih bijak dan berfikir panjang sebelum bertindak.


Kalau sudah seperti ini, wajar kalau Farah dan Sudibyo membiarkan Hendry menyelesaikan sendiri masalahnya. Biarkan saja putranya itu berjuang sendiri atas kesalahannya, agar dikemudian hari tidak terjadi hal seperti ini lagi.


__ADS_2