
Hendry hanya bisa mengusap kasar wajahnya sambil menatap kepergian Julia ke kamar mandi.
Akibat kecerobohannya yang tidak sadar menyebut nama Bella ketika sedang bicara dengan Julia, kini istrinya itu tampak marah sampai tidak mau mendengar penjelasannya.
"Sh"itt,,!" Umpat Hendry pelan.
Ini karena tadi Hendry sempat memimpikan Bella, akhirnya tanpa sadar menyebut nama adik iparnya itu.
Hendry sudah duduk di tepi ranjang dengan bertelanjang dada. Beberapa kali dia membuang nafas kasar dan menatap ke arah kamar mandi yang masih tertutup rapat. Julia belum keluar sejak 20 menit yang lalu. Hendry jadi cemas, takut Julia sedang memikirkan cara untuk menyelidikinya. Karna meski sudah di jelaskan alasannya, Julia tidak mau percaya.
Buru-buru Hendry mengambil ponsel di atas nakas, dia mengetikkan sesuatu di ponselnya dan langsung menghapusnya begitu selesai mengirimkannya pada Bella.
...******...
Sementara itu, Bella baru saja sampai di rumah sakit. Dia menyodorkan sejumlah uang pada driver taksi dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Sampai langkahnya melambat karna mendengar bunyi notifikasi pesan dari ponselnya. Bella merogoh ponsel dari dalam tas, lalu membuka pesan itu sambil berjalan pelan.
"Julia sudah mulai curiga. Aku tidak bisa menemui mu dalam waktu dekat. Aku akan menemui mu setelah semuanya aman. Semoga kamu mengerti."
Bella tersenyum kecut membaca sederet kalimat di ponselnya dari Hendry. Di balik senyum kecut itu, Bella berusaha menyembunyikan rasa sakitnya yang tiba-tiba datang tanpa bisa dia cegah.
Ada perasaan marah, cemburu, kecewa dan sesal yang bercampur jadi satu. Kalimat yang dikirimkan Hendry seolah menjelaskan kalau pria itu tidak mau ketahuan selingkuh. Membuat Bella seperti dipaksa untuk sadar dari kenyataan bahwa Hendry memang sangat mencintai Julia dan tidak bisa melepaskan istrinya demi dirinya.
Bella menghentikan langkah, dia mencari tempat duduk karna kakinya semakin lemas untuk berpijak. Dadanya bergemuruh, semua perasaan itu membuatnya kacau dan berfikir keras.
Sambil menatap layar ponselnya, Bella duduk di salah satu kursi, lalu kembali membaca pesan tersebut.
Sakit dan marah, itu perasaan yang paling mendominasi dalam hati Bella pada sosok Hendry. Bella tidak mengira kalau dia benar-benar akan kalah. Balas dendamnya tidak berjalan sesuai rencana.
Bella kemudian berusaha meminta kepastian dari Hendry, meski tau jawaban Hendry mungkin akan lebih menyakitkan daripada tempo hari.
"Apa hubungan kita hanya sebatas selingkuhan saja.? Tidak bisakah memilih salah satu.?"
Bella sampai mengirimkan perkataan yang seperti merendahkan dirinya sendiri. Namun Bella memiliki maksud lain, dia hanya ingin tau bagaimana jawaban Hendry.
Tapi sayang, pesan yang Bella kirimkan pada Hendry malah cek list satu. Foto profil Hendry juga mendadak lenyap. Menyadari hal itu, Bella langsung menyadari kalau Hendry baru saja memblokir nomor ponselnya.
__ADS_1
Untuk memastikan hal itu, Bella mencoba menghubungi nomor Hendry.
Seketika Bella tersenyum sinis karna nomor Hendry tidak bisa di hubungi. Pria itu benar-benar telah memblokir nomornya. Saat itu juga kilat amarah semakin terlihat jelas dari sorot mata Bella.
"Kalian berdua tidak boleh hidup tenang dan bahagia.!" Geram Bella yang sudah di selimuti amarah.
Bukannya berhasil membalaskan dendamnya pada Julia, Bella malah menambah dendamnya pada sosok Hendry. Pria yang awalnya tidak tau apa-apa, hanya kurang beruntung saja karna masuk dalam perangkap Bella yang ingin balas dendam pada Julia.
kalau sudah seperti ini, Hendry juga tidak sepenuhnya salah. Dia mungkin hanya tergoda dan merasakan cinta sesaat pada Bella yang kebetulan datang di saat istrinya sedang bertingkah. Hendry jadi punya pembanding, lalu merasa bahwa Bella jauh lebih baik dari istrinya. Padahal semua orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing.
...*****...
Sempat menenangkan sejenak pikiran, sekarang Bella sudah berada di dalam ruang rawat VIP di rumah sakit tersebut.
Matanya menatap nanar sosok laki-laki paruh baya yang berbaring di ranjang dengan banyak selang di tubuhnya. Pikiran Bella yang sudah tenang, kini kembali kalut.
Papanya sakit.? Sejak kapan.?
Pertanyaan itu muncul dalam benak Bella kala mendapati Papanya tidak baik-baik saja.
"Saya permisi Tuan, Nona,," Seorang pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam, pamit keluar setelah menjemput Bella di lantai satu dan mengantarnya ke ruangan bosnya itu.
"Baik Tuan." Jawabnya kemudian keluar dari ruangan itu, meninggalkan anak dan ayah yang sepertinya memang butuh waktu berdua.
Bella masih berdiri di tempat, kedua matanya mulai berair dan sekuat hati menahan tangisnya.
Kondisi Papanya sangat menyayat hati. Wajahnya terlihat pucat, lalu memakai selang oksigen, infus dan beberapa selang di dadanya.
Setelah di tinggal Ibunya, apakah dia juga akan di tinggal oleh Papanya.?
Bella tiba-tiba meneteskan air matanya, pada akhirnya dia tidak sanggup membendung air matanya terlalu lama.
Kenapa jadi begini.? Batin Bella dengan perasaan yang bercampur aduk dan kalut.
"Kenapa menangis.? Kemari, Papa ingin bicara." Ujar Baskoro sembari menggerakkan tangannya, memanggil Bella supaya mendekat.
Bella menghapus air matanya dan menghampiri Papanya. Dengan tubuh yang sudah kehilangan kekuatan, Bella duduk di kursi samping ranjang.
__ADS_1
"Arabella,," Lirih Baskoro. Matanya berkaca-kaca menatap anak semata wayangnya itu. Sakit yang dia derita mungkin balasan atas sikap acuhnya pada Selena selama bertahun-tahun. Andai saja Selena masih hidup, Baskoro ingin menebus semua kesalahannya di sisa hidupnya.
Tapi sayangnya Selena lebih dulu meninggalkan dunia ini, Baskoro hanya bisa menebus kesalahannya pada Bella, darah daging mereka.
"Sejak kapan.? Sejak kapan Papa sakit.? Kenapa menyembunyikan ini dariku.?" Tangis Bella pecah. Sudah cukup dia kehilangan Ibunya, rasanya tidak akan sanggup kalau harus hidup sebatang kara.
Baskoro menggeleng, pasalnya dia juga baru tau tentang penyakitnya beberapa minggu lalu. Baskoro tidak bermaksud menyembunyikan sakitnya dari Bella, hanya saja baru sempat memberitahunya karena belakangan ini sibuk mengurus pengalihan dan pembagian aset miliknya. Baskoro juga baru saja mengurus perceraiannya dengan Natalie.
Ya, pria paruh baya itu sudah mantap untuk menceraikan Natalie. Tidak peduli meski masih ada sedikit cinta di hatinya untuk wanita yang telah menemaninya selama 29 tahun.
Tapi perbuatan Natalie sudah kelewat batas.
Selama 29 tahun, Natalie menutupi fakta bahwa Julia bukan darah dagingnya. Itu tidak bisa di terima oleh Baskoro.
"Papa juga baru tau akhir-akhir ini." Jawab Baskoro.
"Besok Papa akan pergi ke Amerika untuk menjalani pengobatan. Kamu tidak usah khawatir, setelah ini Papa akan sehat kembali." Ujar Baskoro yang sebenarnya tidak yakin. Dia bicara seperti itu untuk menangkan Bella yang terlihat sangat terpukul.
"Bella akan ikut Papa." Ucapnya tanpa ragu. Bella seolah lupa kalau dia masih punya rencana balas dendam pada Julia. Dia lebih mengkhawatirkan kondisi Papanya dan ingin menemaninya selama melakukan pengobatan di Amerika.
"Tidak, kamu akan tetap di Indonesia. Pimpin perusahaan selama Papa di Amerika. Sekarang kamu punya tanggungjawab atas perusahaan." Jelas Baskoro. Sebenarnya tidak masalah kalau Bella ikut ke Amerika, karna masih ada orang kepercayaannya yang bisa mengurus perusahaan itu.
Namun Baskoro ingin memperkenalkan Bella pada semua orang bahwa putrinya itu yang kelak akan menjadi pewaris sekaligus pemimpin perusahaan.
Bella menolak keras. Dia tidak punya pengalaman dan pengetahuan untuk mengurus perusahaan.
"Ada orang kepercayaan Papa yang akan membantu kamu mengurus perusahaan, kamu pasti bisa."
"Papa tidak punya harapan lagi selain kamu. Cuma kamu satu-satunya anak Papa yang berhak atas perusahaan itu."
Baskoro berusaha membujuk Bella, cukup sulit dan butuh waktu lama untuk membuat Bella mengangguk setuju.
"Terimakasih, kamu harapan Papa." Lirih Baskoro dengan senyum lega.
"Sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin Papa minta dari kamu."
Bella menatap dengan dahi berkerut. Raut wajah Papanya seketika berubah serius, Bella jadi penasaran si buatnya.
__ADS_1
"Papa ingin apa.?" Tanya Bella lirih.
Entah apa yang diharapkan oleh Papanya itu dari anak sepertinya.