
Baskoro berdiri di depan dinding kaca hotel yang menampakkan pemandangan padatnya Ibu Kota dengan gedung-gedung pencakar langit dan jalanan yang macet. Sorot mata pria paruh baya itu menerawang jauh, mengingat sosok Selena yang sempat menempati ruang hatinya di sisa hidup terakhir wanita cantik nan sederhana itu.
Tidak ada yang spesial dalam diri Selena secara fisik, selain kecantikannya yang alami. Namun kebaikan dan ketulusan hati Selena yang pada akhirnya mencairkan hati Baskoro setelah belasan tahun menikahi wanita tersebut.
Pertahanan Baskoro runtuh, sekuat hati menjaga perasaan Natalie, tapi nyatanya rasa cinta pada Selena tumbuh begitu saja tanpa bisa di cegah.
Awalnya dia menikahi Selena karna sebuah tanggung jawab, Baskoro enggan menjadi pria pengecut yang lepas dari tanggung jawab meski kejadian nahas itu di luar kehendaknya.
Baskoro masih punya hati untuk memberikan kehidupan yang layak pada gadis sederhana itu. Gadis yang ternyata hanya hidup sebatang kara di Ibu Kota.
Hidup sebatang kara, hamil dalam usia yang terbilang sangat muda. Baskoro tidak tega membiarkan Selena menanggung semuanya seorang diri. Apalagi Selena kekeuh tidak mau menggugurkan kandungannya meski Baskoro sudah menjanjikan aset miliknya.
Perbuatan Baskoro tersebut malah membuat Selena memilih untuk pergi jauh dari kehidupan Baskoro dan membawa anak yang masih ada dalam kandungnya saat itu. Selena bahkan meminta Baskoro untuk melupakan darah dagingnya, karna Selena berniat membesarkan anak itu seorang diri.
Tentu saja Baskoro tidak setuju, dia takut hal itu akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Dan ternyata memang benar feeling Baskoro. Kalau saja waktu itu dia tidak memaksa Selena untuk menikah dengannya, mungkin sekarang Baskoro sedang menyesali perbuatannya dan sibuk mencari keberadaan Selena serta putri kandung mereka.
Baskoro tiba-tiba mengusap sudut matanya. Pria paruh baya itu sampai menangis mengingat mendiang istri keduanya. Terlebih hari ini adalah peringatan kematian sang istri.
Ingatan Baskoro seolah di tarik ke belakang, dimana dia menikahi Selena secara sederhana, tanpa ada tamu undangan, hanya beberapa keluarga Baskoro saja yang mau datang dan menjadi saksi. Sedangkan Natalie, wanita itu sempat mengamuk dan memilih pulang ke rumah orang tuanya dengan membawa Julia.
Malam itu setelah menikah, Baskoro membawa Selena pulang ke rumah sederhana yang sengaja pria itu beli untuk tempat tinggal istri keduanya.
Karna Selena menolak tinggal di salah satu rumah Baskoro dengan alasan terlalu mewah dan besar.
__ADS_1
Tapi sesederhana apapun rumah yang di beli Baskoro untuk Selena, tetap saja masih terlihat mewah di mata Selena yang memang berasal dari keluarga menengah kebawah.
"Turun, sudah sampai." Baskoro bicara acuh, dia menikahi Selena hanya karna sebuah tanggung jawab, jadi tidak ada perasaan apapun padanya.
Selena tersadar dari lamunan, dia menoleh dan mengangguk kecil. Gadis berusia 20 tahun itu kemudian turun dari mobil mewah Baskoro. Pria 32 tahun yang memper kosa hingga membuatnya hamil.
Selena mengekori langkah Baskoro yang membawa tas lusuh miliknya. Tadinya mau Selena bawa sendiri, tapi di ambil oleh Baskoro.
Helaan nafas Selena terdengar berat ketika memasuki rumah besar yang dibeli Baskoro atas namanya. Sungguh, seandainya boleh memilih, Selena tidak mau memiliki rumah besar ini karna sudah terlanjur hamil anak Baskoro. Belum lagi statusnya menjadi istri kedua dari pria dewasa itu.
Baskoro berhenti di depan salah satu pintu kamar lantai 1. Dia membukanya dan menyuruh Selena ikut masuk ke dalam.
"Kamarmu dibawah saja, naik turun tangga cukup beresiko." Kata Baskoro datar, bahkan tidak menatap Selena sedikitpun. Pria itu hanya meletakkan tas lusuh milik Selena di atas ranjang.
Selena sempat terdiam, dia sedikit tersentuh ketika Baskoro memperhatikan keselamatannya. Namun baru saja merasakan sedikit kesenangan, Baskoro langsung mematahkannya.
Selena tersenyum miris, doa seharusnya sadar diri, tapi malah berfikir terlalu jauh. Baskoro mana mungkin khawatir pada gadis kampungan sepertinya. Sedangkan istri pertama Baskoro sangat cantik dan sempurna. Berasal dari keluarga terpandang dan kaya, tidak seperti dirinya.
"Aku tau. Terimakasih." Lirih Selena. Dia mengambil tas lusuhnya untuk menata baju-baju ke dalam lemari. Sementara itu, Baskoro terlihat keluar dari kamar sambil menerima telfon.
Sejak saat itu, Baskoro menyempatkan waktu untuk berkunjung ke rumah Selena. Hanya sekedar memastikan kehamilan Selena baik-baik saja, lalu memilih pulang tanpa menginap di sana.
Bagi Baskoro, dia tidak punya kewajiban untuk sesekali tinggal bersama Selena. Lagipula Baskoro juga sudah membayar 2 asisten rumah tangga untuk menyuruh rumah sekaligus menjaga Selena.
Lamunan Baskoro buyar setelah mendengar panggilan masuk ke ponselnya. Pria berusia 55 tahun itu terlihat sangat menyesal setelah mengingat sikap dinginnya pada Selena selama gadis itu mengandung anaknya. Baskoro bahkan tidak pernah tidur satu kamar dengan Selena sampai 6 tahun pernikahan mereka. Hingga pada suatu malam, pria itu terpaksa tidur satu kamar dengan Selena atas permintaan putri kecil mereka yang saat itu sedang sakit.
__ADS_1
Entah ada angin dari mana, malam itu malah menjadi malam pertama keduanya setelah resmi menikah. Selena yang melahirkan Bella melalui proses persalinan sesar, mampu membuat Baskoro menikmati indah malam pertamanya bersama Selena. Karna itu kali kedua Selena dimasuki oleh Baskoro. Membuat Selena serasa masih gadis.
"Tuan, saya ada di depan kamar hotel." Ujar seseorang yang menghubungi Baskoro.
"Ya, saya keluar sekarang." Baskoro mematikan sambungan ponselnya, lalu bergegas keluar dari kamar hotel tersebut. Dia memang meminta pada suir pribadinya untuk memberinya waktu 2 jam. Baskoro sedang ingin sendiri, mengenang mendiang istri keduanya yang cukup membekas di hati meski pernikahan mereka terbilang singkat. Terpisahkan oleh maut karna Tuhan lebih menyayangi Selena.
...******...
Sore itu selepas dari hotel, Baskoro pergi ke makam Selena. Pria paruh baya itu membawa bunga mawar merah untuk mendiang istri tercintanya.
Sampainya di makam, Baskoro mengukir senyum sendu melihat buket bunga di atas makan Selena.
Buket bunga yang sudah pasti milik putri mereka.
Karna tidak ad orang lain yang akan mengunjungi makam Selena selain Bella dan dirinya.
"Bagaimana kabarmu sayang,," Ucap Baskoro seraya mengusap nisan Selena.
"Aku dan Bella sangat rindu padamu," Baskoro mengukir senyum getir. Dadanya tiba-tiba sesak, rasanya ingin mengulang waktu agar bisa lebih lama lagi mencintai Selena dan memberikan perhatian serta kasih sayang padanya.
Baskoro sangat menyesal karna baru bisa mencintai Selena 3 tahun sebelum wanita itu menghembuskan nafas terakhirnya.
Seandainya Baskoro tau usia Selena tidak akan lama, mungkin sejak awal Baskoro akan berusaha mencintai Selena setelah menikahinya.
Tapi kembali lagi pada takdir, bahwa umur manusia adalah rahasia Tuhan.
__ADS_1
Cukup lama Baskoro duduk terdiam di samping makam, pria itu akhirnya beranjak setelah mengusap nisan Selena dengan perasaan berkecamuk. Dia mungkin akan menyusul Selena sebentar lagi, lalu bisa bertemu kembali dengan wanita luar biasa itu. Namun disisi lain Baskoro mengkhawatirkan masa depan Bella. Putrinya itu akan hidup seorang diri jika dia juga pergi menyusul Selena.
Sedangkan Bella belum menemukan pendamping untuk menjaga dan melindunginya.