
Hendry tidak beranjak dari kamar Bella sampai dokter datang dan selesai memeriksa kondisi kesalahan Bella serat kedua janin dalam kandungannya.
Bella dinyatakan kurang istirahat, kurang asupan makanan dan terlalu stress menghadapi kehamilannya. Dokter menyarankan Bella untuk bed rest, perbanyak makan sayur dan buah serta menghindari stress.
"Sepertinya saya tidak perlu meresepkan obat ataupun vitamin, cukup habiskan saja obat dan vitamin yang ada." Ujar Dokter setelah mengecek obat dam vitamin milik Bella yang di dapat dari rumah sakit.
"Jangan lupa perbanyak makan dan istirahat, jangan terlalu stress." Ucapnya dengan senyum ramah.
Bella mengangguk pelan. Dia tidak kaget ketika dokter mengatakan hal itu. Karna beberapa hari terakhir, nafsu makannya memang berkurang, lalu kesulitan tidur dan terlalu stress memikirkan kelangsungan hidupnya bersama kedua janin yang masih ada dalam kandungan.
"Kalau begitu saya permisi. Semoga selalu sehat ibu dan baby twinsnya." Pamitnya.
"Terimakasih banyak Dokter." Ucap Hendry dengan perasaan yang sedikit lega karna Bella dan calon anaknya baik-baik saja.
Hendry kemudian mengantar Dokter itu sampai di depan kamar, lalu menyuruh Bik Dina agar mengantarnya sampai depan rumah.
Sementara itu, Bella memilih berbalik badan memunggungi Hendry ketika melihat pria itu masuk lagi ke kamarnya dsn menutup pintu.
Terdengar helaan nafas berat Hendry sebelum duduk di sisi ranjang.
"Perceraianku dengan Julia sedang di urus." Ujar Hendry. Bukan tanpa alasan Hendry memberitahu Bella soal niatnya untuk menceraikan Julia. Karna Hendry berharap Bella bersedia menerima bentuk tanggungjawab darinya setelah menyelesaikan hubungannya dengan Julia.
"Sebaiknya Mas Hendry pulang saja, aku ingin istirahat." Lirih Bella seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas leher dalam posisi masih membelakangi Hendry.
”Aku akan pulang setelah kamu makan. Sarapanmu belum habis." Hendry melirik nampan di atas nakas yang berisi sarapan Bella beserta segelas susu. Sepertinya hanya di sentuh sedikit oleh Bella. Bagaimana kondisinya tidak lemah kalau hanya makan beberapa suap saja, sedangkan Bella sedang hamil dua bayi sekaligus yang otomatis butuh asupan makanan lebih banyak dari sebelumnya.
"Makanan dan susunya sudah dingin, biar aku ganti yang baru." Hendry beranjak dari ranjang, mengambil nampan itu dan membawanya keluar dari kamar.
Bella menoleh ketika mendengar pintu di tutup. Matanya tampak berkaca-kaca menahan tangis. Dia sebenarnya senang ketika mengetahui Hendry datang, bahkan sempat ingin memeluknya saat baru sadar dari pingsannya. Namun Bella sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menunjukkan kerinduannya pada sosok pria tersebut.
"Ini kan yang kalian mau.?" Tanya Bella seraya menatap perut dan mengusapnya, mengajak twins berbicara. Sejak kemarin ada rindu yang menggebu-gebu, Bella tau itu bukan keinginannya, melainkan keinginan bayi kembar dalam perutnya. Kini setelah melihat Hendry dan sempat mencium aroma parfumnya, seketika kerinduan itu seperti terobati. Hilang begitu saja bersamaan dengan kedatangan Hendry. Begitu juga kegelisahan yang sejak kemarin Bella rasakan. Kali ini hanya ada ketenangan ketika sudah melihat wajah Hendry.
__ADS_1
"Apa yang harus Mama lakukan sekarang.?" Ujar Bella dilema.
Mau lari kemana lagi untuk mengindari Hendry, sedangkan bayi-bayi dalam kandungannya ingin dekat dengan Papa kandungannya. Hendry pun pasti akan mencarinya jika pergi lagi.
Bella memalingkan wajah ketika pintu kamar di buka. Hendry sudah kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan susu yang baru.
"Kamu harus banyak makan, anak-anak butuh banyak asupan untuk tumbuh." Kata Hendry seraya duduk di sisi ranjang.
"Mau aku bangunkan atau bangun sendiri.?" Tawarnya ketika melihat Bella masih berbaring memunggunginya.
"Ayolah Bella, mereka tidak bersalah. Jangan menyiksa mereka seperti ini. Bukankah kita sama-sama sadar melakukannya, jadi berusahalah memperlakukan mereka seperti kita sendiri yang menginginkannya." Terus mengajak Bella bicara sembari menatap punggungnya, berusaha membujuk Bella agar mau makan.
Bella tampak menghela nafas kesal sembari mengubah posisi menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. Walaupun Bella memasang wajah jutek dan tidak mau melirik ke arah Hendry, tapi Hendry masih bisa mengulum senyum karna berhasil membujuk Bella.
Kalau saja situasinya tidak serumit ini, Hendry pasti sudah memeluk Bella dan menciumi perutnya karna rindu. Namun terpaksa harus mengurungkan niatnya demi menjaga suasana hati Bella tetap baik.
"Lihat, pipimu semakin tirus. Sepertinya kamu kehilangan banyak berat badan." Komentar Hendry setelah menatap lekat wajah Bella yang masih menunduk. Perubahan fisik Bella cukup terlihat, badannya semakin kurus, wajahnya juga tampak kusam dan lesu.
"Apa kehamilan ini membuatmu tidak nafsu makan.?" Tanya Hendry, masih berusaha mencairkan suasana.
Ya, makanan di dalam mulutnya terasa jauh lebih enak di banding makanan yang Bella makan sendiri 1 jam lalu. Padahal makanannya sama, hanya ditukar dengan yang baru saja.
Atau mungkin karna Hendry yang menyuapinya.?
Seketika Bella melirik Hendry yang sejak tadi dia abaikan. Pria itu tampak melempar senyum teduh, membuat Bella langsung memalingkan wajah.
"Apa tidak enak makanannya.?" Tanya Hendry.
"Atau kamu ingin makanan yang lain.? Biar aku pesankan." Tawarnya penuh perhatian. Hendry sudah berpengalaman menghadapi wanita hamil, dia tau kalau terkadang wanita hamil menginginkan makanan tertentu sesuai apa yang terlintas dalam pikirannya.
"Itu saja." Jawab Bella singkat.
__ADS_1
Hendry menghela nafas lega, lalu kembali menyuapi Bella. Sambil menyuapi Bella, Hendry masih berceloteh. Dia menceritakan apapun pada Bella sekedar menghilang kecanggungan dan suasana yg kaku karna Bella lebih banyak diam.
Kurang dari 10 menit, makanan di tangan Hendry sudah habis tak tersisa. Bella bahkan tidak sadar kalau dia baru saja menelan makanan terakhir.
Jadi Bella menoleh ke arah Hendry sambil membuka mulutnya, mengira makanannya masih ada.
"Masih lapar ya?" Tanya Hendry yang melihat Bella membuka mulut. Sedangkan piring di tangan Hendry sudah di letakan di atas meja.
Bella tersenyum kikuk melihat Hendry tidak memegang piring dan sendok lagi, melainkan sudah di ganti dengan segelas susu.
Menyadari makanannya sudah habis, Bella buru-buru mengambil susu dari tangan Hendry dan meneguknya untuk mengalihkan rasa malunya.
Suasana kembali hening dan kaku. Bella masih enggan di ajak bicara, lebih sering memalingkan wajah ke arah lain. Hendry pun sudah kehabisan bahan obrolan, bingung mau bicara apalagi.
"Mau tidur.? Aku akan keluar supaya kamu bisa istirahat." Kaya Hendry seraya mengusap lembut punggung Bella.
Bella diam-diam mengerucutkan bibirnya. Hendry ini tidak peka atau bagaimana, sejak tadi tidak berusaha membujuknya yang sebenarnya sangat ingin di peluk dan usap perutnya.
Sekarang malah mau keluar dari kamar.
"Aku tidak mengantuk.!" Ketus Bella yang akhirnya kesal sendiri.
Dia ingin di peluk dan di usap perutnya, tapi tidak meminta langsung pada Hendry. Lalu bagaimana Hendry bisa tau.? Pria itu tidak pandai membaca pikiran orang. Lagipula Hendry juga takut melakukan sesuatu yang mungkin saja bisa memperburuk suasana hati Bella. Jadi Hendry sangat hati-hati ketika melakukan kontak fisik dengan Bella.
Hendry menggaruk tengkuknya mendengar jawaban ketus Bella, dia jadi bingung sendiri harus bagaimana. Akhirnya tidak ada obrolan lagi, keduanya sama-sama diam sampai lebih dari 15 menit.
Hendry melirik arloji di tangannya, sudah pukul 9 siang. Dia seharusnya datang ke perusahaan untuk memimpin rapat, tapi melihat kondisi Bella, sepertinya dia harus memulai rapat menghubungkan laptopnya.
"Aku ambil laptop dulu di mobil, 10 menit lagi harus memulai rapat." Ujar Hendry seraya beranjak dari duduknya. Dia buru-buru keluar dari kamar Bella dan mengambil laptop di dalam mobilnya, sekalian memindahkan mobilnya ke dalam halaman rumah Bella.
Kini Hendry sudah duduk di salah satu sudut kamar Bella dengan laptop menyala diatas meja.
__ADS_1
Hendry yang awalnya hanya memakai kemeja lengan panjang, sekarang sudah memakai dasi dan jasnya. Pria itu sudah siap memulai rapat.
Sementara itu, Bella masih berbaring di atas ranjang dan diam-diam melirik ke arah Hendry. Memperhatikan pria itu yang tampak gagah ketika fokus bekerja.