guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Rumah Baru


__ADS_3

Sudah tersusun rapih beberapa pakaian milik Fia dalam satu buah koper hitam metalik berukuran medium. Dirinya memutuskan untuk membawa beberapa pasang baju tidur dan kaos berserta teman nya sih celana jeans.


"Kita pindah sekarang?" hela Fia yang berhembus dan sudah hampir dua puluh kali bertanya kepada Fajar tentang kepindahan nya.


"Sayang aku sekarang suami kamu. Sudah tugas aku memberikan tempat tinggal serta memenuhi kebutuhan hidup kamu. Jadi kamu harus pindah ke rumah yang udah aku siapkan untuk keluarga kita." ucap Fajar yang membelai lembut pipinya Fia.


"Tapi..."


"Enggak ada tapi tapi. Kamu kan udah liat sendiri rumah yang akan kita tempati kan rumah yang kamu sukai. Please Fi hargai aku sebagai suami kamu. Ya masa aku udah kerja capek-capek istri sendiri masih numpang di rumah orang tuanya." Fajar meminta berulang kali.


"Emang berapa sih harga diri kamu sampe minta di hargai?" celetuk Fia sambil memanyunkan bibirnya.


Fajar yang mendengar ucapan Fia hanya merespon nya dengan tindakan mencium bibirnya. Pergulatan lidah mereka berdua menunjukkan siapa pemenangnya. Siapa lagi kalau bukan Fajar, Fia menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan oksigen.


"Ya ampun Fi baru juga ciuman udah kayak abis lari maraton aja. Makanya jangan manyun-manyun gitu ngapa tuh bibir." ucap Fajar yang tergoda melihat betapa manisnya bibir Fia.


"Essshhhh." Fia nge-desis.


"Gimana nanti kita honeymoon sayang?" tanya Fajar sambil tersenyum ngeledek Fia.


Diam membisu dan mematung karena Fia teringat apa yang di ceritakan oleh Yeli tentang pertama kali dia berhubungan intim.

__ADS_1


"Udah yuk kita berangkat." usaha Fia mengalihkan pembicaraan tadi sambil senyum terpaksa.


Berpamitan dengan Lia dan Diki cukup memakan waktu yang lama. Lia yang masih belum rela di tinggal oleh anak perempuan satu-satunya begitu juga dengan Diki.


Setibanya di rumah baru dengan pemandangan yang indah luar biasa di matanya Fia.


"Wah halaman rumahnya udah pada tumbuh bunga nya ya pak." takjub Fia.


Cetak.


"Sakit pak maen sentil sentil aja jidat orang." keluh Fia sambil mengusap keningnya.


"Tadi kamu ngomong apa?"


Sekuat tenaga Fia mendorong tubuhnya Fajar. Berusaha mencari udara sebanyak-banyaknya untuk mengatur nafasnya kembali.


"Bisa gak sih kamu tuh jangan maen cium-cium aja. Entar kalo ada yang liat gimana. Sekarang ya udah vulgar deh nyosor nya gak liat-liat tempat." protes Fia.


"Salah lagi. Tadi pas di rumah kamu aku cium kamu. Kamu protes sekarang juga protes cuman dikamar aja kamu gak protes. Kalo gitu kita tinggal di apartemen aja yuk sayang." ucap Fajar yang pikiran nya langsung beroperasional untuk bisa bermesraan terus setiap saat dengan Fia.


"Ya gak gitu juga. Kamu tuh bener-bener deh gak ngerti perasaan aku. Aku tuh mau nya kita bermesraan cukup kita berdua aja gak perlu kita kasih liat kesemua orang. Aku jelas protes kamu coba pikir, kamu tadi nyium aku pas aku lagi nonton tv sama papa, mama. Itu kamu beneran dah kelewatan nyium aku hampir setengah jam di depan mereka. Aku risih di liatin. Sekarang kamu lakuin hal yang sama ini di halaman rumah ay. Entar kalo scurity atau yang lainnya liat gimana. Malu dong aku."

__ADS_1


"Ya mo gimana orang aku suka. Kalo kamu gak suka ya udah deh aku gak akan begitu lagi tapi kita tinggal di apartemen ya?" ucap Fajar.


"Gak mo. Aku gak suka tinggal di apartemen." ujar Fia.


"Ya kalo gitu kamu jangan protes lagi kalo aku nyosor kamu. Kamu tenang aja istriku yang saku sayangin. Aku nyosor gak akan ada yang liat. Aku bakalan nyuruh yang kerja di rumah kita pulang setelah pekerjaan selesai. Kalo bisa kerjaan mereka harus secepatnya kelar. Biar aku bisa nyosor kapan pun dan dimana pun."


Seketika otak Fia berpikir keras.


"Ya jangan gitu juga dong pak. Entar aku sendirian dong di rumah yang segede ini." ucapan Fia tidak mendapatkan balasan melainkan ciuman.


Di saat terengah-engah dirinya melemas seketika. Fajar mencoba memapah tubuhnya Fia.


"Salah aku di mana? sampe kamu nyium aku terus." tanya Fia dengan napas yang tersengal-sengal.


"Karena kamu manggil aku dengan sebutan pak. Aku suami kamu sayang. Bukan bapak kamu." peringatan penting.


"Iya pak gak lagi-lagi." sahut Fia dan sadar ia mengulangi kata yang seharusnya tidak ia sebut.


Dengan cepat ia menutup mulutnya dan berkata "Maaf ay, khilaf. Jangan ciuman lagi ya. Bibir aku udah pada merah sama perih kamu gigit juga kan kalo ciuman. Udah membleh nih bibir aku." pencegahan Fia yang mendapatkan tatapan tajam dari Fajar.


'Serem juga nih laki kalo diem sambil ngeliatin gue nya gitu. Mending gue ajak ke dalem kamar aja deh. Sekalian kan gue mo ngomongin soal kehidupan gue kedepannya. Jatah istri yang gue dapet apa aja. Penting untuk gue bahas ntu.' batin Fia.

__ADS_1


"Udah deh ay. Natap aku nya jangan begitu. Aku jadi salting dah. Mendingan kita ke kamar aja yuk." ucap Fia berbisik.


'Ah ke kamar? apa jangan-jangan dia udah kelar kali menstruasi nya? Baru aja gue tahan-tahan buat malam pertama besok pas honeymoon ke Bali. Malah malam pertama di rumah sendiri. Gak pa-pa dah yang penting jebol dulu pertahanannya Fia. Biar gak kemana-mana dia. Hehehehe.' batin Fajar.


__ADS_2