guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Perdebatan


__ADS_3

Rasa sakit akibat cengkraman erat tangannya Fajar sungguh luar biasa. Fia berusaha keras untuk melepaskan tangannya dari cengkeraman Fajar. Fia juga tidak sekali dua kali mengeluhkan rasa sakit di tangannya. Fajar tetap fokus membawa Fia masuk ke dalam mobilnya.


Braakkk.


Suara banting pintu mobil terdengar.


"Kamu kenapa sih?" tanya Fia.


"Sapa cowok tadi?" tanya Fajar dengan nada tinggi.


"Jelasin kenapa kamu wanita bersuami bisa jalan berduaan sama cowok selain suaminya!!!"


"Sejak kapan kamu bisa jalan sama cowok lain tanpa ijin dari aku?"


"Apa jangan-jangan dia pacar atau gebetan kamu di kampus?"


"JAWAB FIA!!!"


Fia pun sontak terkejut mendengar ucapan Fajar yang tidak seperti biasanya ia marah. Fia tahu bahwa Fajar sedang cemburu bahkan dirinya paham betul sifat cemburuan suaminya itu. Tapi tak pernah mengira bahwa Fajar akan semarah ini.


Bertubi-tubi pertanyaan yang diajukan Fajar. Genggaman erat ditangannya sungguh dilakukan tanpa sadar bahwa yang Fajar genggam adalah tangan seorang wanita. Gebrakan saat menutup pintu mobil pun sungguh membuat jantung copot dan kuping budek permanen.


"Dia senior aku nama nya Alwi kebetulan kita satu jurusan. Gak ada hubungan apa-apa." Fia menjelaskan.


"Senior kamu bilang?" Fajar mempertegas ucap Fia.


"Ya emang cuman senior ay. Aku enggak ada hubungan apa-apa sama dia. Gak ada hubungan sama sekali. Jelas." ucap Fia yang sedikit emosi.


Buuuug.


Tangan kanannya Fajar pun memukul kaca mobil.


"APA-APAAN SIH KAMU." bentak Fia yang geram melihat tingkah Fajar.


"Aku mencari kamu ke mana-mana tapi kamu malah enak-enakan di kampus nongkrong di kantin sama cowok lain. Setelah aku nunggu kamu setengah jam." ucap Fajar yang memalingkan wajahnya.


"Aku juga udah telpon kamu berulang kali tapi gak aktif sama sekali handphone kamu." ucap Fajar kembali dengan napas yang tersengal-sengal.


"Sapa suruh bilang mo jemput tapi telat jemput nya." ucap Fia.

__ADS_1


"Jadi kalo aku telat jemput, kamu dengan bebas berduaan sama cowok lain. HAH?" kesal Fajar yang emosi kembali memanas bahkan kali ini lebih panas.


"Yang bilang aku berduaan siapa?" tanya Fia.


"Aku liat tadi kamu sama tuh cowok berduaan Fi kalian duduknya hadep-hadepan segala lagi." jelas Fajar.


"Kamu salah liat tuh." ucap Fia.


"Kamu kira aku kotok apa matanya? sampe gak bisa bedain mana yang lagi berduaan sama yang nge-gerombol." ucap Fajar.


Cups.


Cups.


Ciuman lembut mendarat di kedua matanya Fajar.


"Suamiku sayang. Aku tuh enggak berduaan doang sama Alwi. Di sana ada Bu kantin, ada mahasiswa lain ada banyak orang. Coba kamu sebutin dimana yang namanya aku berduaan doang sama dia? Alasan aku ada di kantin karena laper nunggu suami aku jemput gak dateng-dateng setelah cacing di perut aku pada demo. Terus kenapa aku bisa duduk hadep-hadepan sama dia itu juga bukan karena aku mo berduaan sama dia karena emang tadi full orang. Ya udah dia duduk di depan aku. Dan alasan aku terakhir kenapa kamu gak bisa telpon aku. Nih liat sendiri handphone aku." ucap Fia menjelaskan panjang lebar perkara yang membuat Fajar salah paham dengan dirinya.


"Aku enggak akan pernah selingkuh dari kamu. Please kurangi rasa kecurigaan kamu sama aku." pinta Fia.


Tanpa sadar Fajar meneteskan air matanya.


"Buat apa?"


"Maaf karena kecemburuan aku membuat aku jadi curiga sama kamu." ucap Fajar.


Fia pun langsung mencium bibirnya Fajar.


"Kok kamu malah nyium aku?" tanya Fajar.


"Aku bahagia banget karena memiliki suami kayak kamu yang mencintai aku sepenuh hatinya." ucap Fia sambil tersenyum.


Perdebatan karena kesalah pahaman pun akhirnya usai. Fajar memutuskan untuk membawa Fia ke sebuah restoran dimana tempat itu adalah tempat terindah dalam sejarah hidup Fajar bersama Fia.


"Emmmm. Kok kita ke sini sih ay?" tanya Fia yang sedikit penasaran.


"Mo sekalian mengenang masa indah kita sayang." senyum manis terlihat jelas di wajahnya Fajar.


"Kami inget kan ini tempat apa?" ucap Fajar kembali.

__ADS_1


"Ya sayang aku inget kok. Ini tempat di mana kamu ngelamar aku secara pribadi." jawab Fia.


Melihat sekeliling restoran yang bertemakan pemandangan alam bisa bikin hati tenang. Keindahan alam dan udaranya yang sejuk menjadi ciri khas tersendiri di restoran ini. Fia juga tidak menyangka bahwa ia akan menerima lamaran dari Fajar secara pribadi di tempat seperti ini.


Tiba-tiba kedua tangannya Fajar melingkar erat pundaknya Fia. Kecupan manis pun Fia rasakan di pipi kanannya.


"Aku enggak nyangka kalo aku akan ke sini lagi." ucap Fia.


"Kenapa gitu? Ini tempat penuh kenangan manis kita sayang. Wajib kita kesini lagi." sahut Fajar.


Beberapa menit kemudian seorang waiters datang memberitahukan bahwa seluruh pesanan yang Fajar pesan sudah tersedia. Mereka berdua pun datang untuk menghampiri dan menikmati hidangan yang sudah di pesan. Suap demi suap Fia lakukan sambil tersenyum menanggapi tingkah lakunya Fajar yang kembali mempermasalahkan hal sepele.


"Kenapa kamu senyum? gak ngerti banget perasaan aku sih kamu, jadi seorang istri. Pake ganjen segala sama waiters." kesal Fajar.


"Ya ampun. Cukup ya kamu cemburu gak jelas nya. Cuma gara-gara aku bilang makasih aja sama waiters cowok sambil senyum kamu bilang aku ganjen sama dia. Aneh." sahut Fia santai.


Tanpa pikir panjang Fajar menghentikan aksi penikmatan makanan yang sebagian sudah di makan oleh mereka berdua. Tapi berbeda dengan Fia yang tetap melanjutkan kegiatan melahap abis semua makanan yang sudah menggoda perut Fia.


Setelah makanan abis tak tersisa Fajar mengajak Fia untuk kembali ke rumah mereka dengan wajah yang cemberut.


'Sial harus nya gue tonjok aja kali tuh waiters. Biar gak sok manis ngelayain bini orang.' batin Fajar yang emosinya sudah meledak-ledak.


'Susah nya punya suami cemburuan serba salah kalo bergerak. Senyum aja salah gimana gue kentut depan cowok laen kali. Bisa di bilang gue melet tuh cowok pake kentut. Tapi lucu juga ngeliat suami sendiri cemburu.' batin Fia.


Kesunyian malam dalam perjalanan terasa amat. Jalan yang sepi bagaikan tak ada yang lalu-lalang hanya sinar lampu mobil dan bulan mengikuti mobil yang Fajar kendarai.


Setibanya di halaman depan rumah.


"Fi, bisa gak sih sedikit aja kamu ngertiin perasaan aku." ucap Fajar dengan pelan.


"Aku kurang ngertiin kamu apa sayang?" ucap Fia yang balik bertanya.


"Hindari cowok lain Fi karena aku gak suka." pinta Fajar.


"Ya repot ay kalo kamu sampe suka sama cowok." sahut Fia santai.


"Au ah kamu mah gak ngerti." ambek Fajar yang pergi begitu saja meninggalkan Fia.


"Lah dia ngabur. Salah gitu gue tadi jawab nya? Perasaan gak deh." oceh Fia sambil tertawa.

__ADS_1


__ADS_2