
Sudah hampir dua minggu lagi Fia dan Fajar menikah. Semua proses persiapan pun sudah tersusun dengan baik. Kegiatan pemingitan pun sedang berjalan. Menahan rindu adalah hal terberat dalam ujian hatinya.
"Ya ampun bapak Fajar yang tersayang. Aku kan udah bilang aku enggak kemana-mana. Sumpah dah mama sama papa tuh ngelarang aku keluar. Biasanya pingit di lakukan seminggu sebelum pernikahan. Tapi mereka mau nya dua minggu sebelum pernikahan." ucap Fia yang sedikit kesal karena sikap Fajar yang menelponnya sudah hampir dua puluh empat jam.
Hampir sepuluh power bank Fajar kirim kerumahnya Fia untuk bisa di gunakan di manapun calon istrinya berada. Hampir berulang kali dia menyolok cas-an hanya untuk power bank dari Fajar silih berganti.
"Tapi aku kangen sayang." ujar Fajar.
Fia pun yang mempunyai kebiasaan tidur cepat. Sontak terkejut mendengar ucapan Fajar seusai bilang kangen.
"Nanti sehabis acara pernikahan kita langsung pergi honeymoon ya sayang. Kita pergi berdua ke Bali dua minggu abis itu kita ke Jepang satu bulan abis itu ke Korea satu bulan ter..."
"Stop stop seetoop. Apa honeymoon?" ujar Fia menyakinkan pendengaran nya barusan.
"Iya sayang. Honeymoon aku udah prepare semuanya." ucap Fajar yang bahagia membayangkan betapa indahnya honeymoon bersama Fia.
"Honeymoon kita berdua doang? Rio gak kamu ajak?"
"Ya berdua dong sayang. Kan kita mau bikin adik untuk Rio."
Tok tok tok tok.
__ADS_1
"Masuk." ucap Fajar.
"Pak ada Bu Vina." ucap Risa memberitahu kan kedatangannya Vina rekan bisnisnya Fajar yang ia ketahui.
'Hadeuh, ngapain coba tuh perempuan pake kemari mana ganggu gue lagi telponan sama bini gue lagi. Ganggu kenikmatan gue aja nih orang.' batin Fajar.
"Sayang aku ketemu sama klien dulu ya." pamit Fajar yang hendak untuk memutuskan panggilan teleponnya karena masih seminggu lagi iya menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Eum." sahut Fia.
"Cium dulu." pinta Fajar yang selalu meminta ciuman sebelum panggilan telepon nya terputus.
"Udah sana buruan temuin klien kamu. Sana sana ditungguin juga kamu." ucap Fia mengalihkan permintaannya Fajar.
"Eemmmuuuuaaachhh." cium Fia di handphone nya karena tidak ingin memperlama waktu Fajar untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Emmmm. Aku jadi gak sabar pengen nikah besok ay." manja Fajar.
Risa yang melihat dan mendengar kata-kata Fajar mengkhayal bahwa dirinya yang menerima perilaku Fajar tersebut.
"Udah deh. Jangan ngaur, aku udah ngalah buat kita nikah cepet. Pernikahan kita tinggal dua minggu lagi, terus belum rencana honeymoon yang kamu buat. Mo berantakan?" ucap Fia.
__ADS_1
"Yah jangan berantakan dong ay. Kalo berantakan yang ada kamu batalin lagi pernikahan kita. Aku sayang kamu pake banget banget pokoknya. Eemmmuuuuaaachhh." pamit Fajar langsung memutuskan panggilan telepon selulernya.
Fajar yang tidak ingin memperpanjang ucapan Fia yang akan mempersulit impiannya didepan mata. Lebih baik mengiyakan apa kemauan dan ucapan Fia saat ini.
"Kalo udah di ancem baru dah ngerti nih laki. Umur doang lebih dewasa dari pada gue. Kelakuan nya kayak anak ABG lagi kasmaran. Tapi bentar dah kayaknya sih gue engeh yang namanya Vina kayaknya gak asing gitu nama Vina di kuping gue. Oh iya gue inget Vina kan nama mantan bini nya Fajar. Eh bentar, yang namanya Vina kan gak cuma tuh mantan bini nya Fajar doang kan. Banyak Vina Vina yang laen. Hadeuh Fia jangan mikir yang aneh-aneh deh. Entar yang ada Lo cepet tua. Kali aja beneran kliennya, udah mendingan Lo tidur aja. Lupakan soal Vina orang dikit lagi Fajar jadi laki Lo juga. Jadi aman terkendali situasi saat ini." oceh Fia yang sendirian di atas kasur empuknya.
Fajar yang sudah menemui Vina di ruang tamu kerja khusus klien tidak berdiam diri begitu saja.
"Ngapain Bu Vina datang kesini? Apa ada data-data kerja sama kita yang masih belum ibu mengerti?" ucap Fajar secara sopan menghargai Vina sebagai rekan bisnisnya.
"Udah lah Fajar, kita gak usah kayak orang asing. Gue ke sini mau mengajak Rio untuk tinggal bersama gue." ucap Vina dengan santai.
"Jangan asal ngomong ya. Rio itu anak gue, enak aja Lo asal mo ngambil ngambil anak gue." amarah Fajar memuncak tidak terkendali mendengar ucapan Vina mantan istrinya.
"Rio juga anak gue Jar. Gue ibu yang ngelahirin dia."
"HAH. Ibu? Ibu kata Lo. Ibu macem apa Lo? yang ninggalin anak sama suaminya demi selingkuhan nya mo jadi apa anak gue kalo tinggal sama perempuan macem kayak Lo? Disaat nanti Lo ketemu sama cowok yang Lo suka, Lo doyan yang ada Lo telantarin Rio kayak dulu."
"Itu dulu Jar. Sekarang gue gak begitu. Lagian kan Lo masih duda, kalo pun Lo takut gue begitu kita rujuk lagi. Gampang kan."
"Dasar sarap. Kalo mo gila jangan sama gue. Duda? yang bilang gue masih duda sapa? gue udah punya istri. Jauh lebih baik dari pada Lo. Males gue ngeladenin cewek gila gak punya otak." ucap Fajar yang berdiri untuk meninggalkan Vina.
__ADS_1
Langkah Fajar terhenti karena Vina memeluk dan mencium bibir Fajar.