guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Pernikahan


__ADS_3

Akhir-akhir ini Fajar merasa dirinya terganggu. Kemunculan Vina membuat dirinya risau akan posisi Rio anaknya. Dirinya juga tidak mau kehilangan anak laki-lakinya sendiri yang sudah susah payah ia cintai dan ia sayangi. Pikiran Fajar sudah kacau balau saat seminggu terakhir selalu bertemu dengan Vina secara terpaksa. Dia juga takut ada orang terdekat atau kerabat dari Fia melihat pertemuan mereka. Bisa hancur lebur acara pernikahan dia dengan Fia.


"Fajar kamu udah siap? Mamih, papih sama Rio udah otw loh ke gedung pernikahan kamu sama Fia. Jangan lupa ini hari pernikahan kalian." ucap Sri di telpon.


"Iyah mih Fajar udah rapih kok tinggal kesana." sahut Fajar sambil mematikan handphone nya untuk menuju gedung pernikahan yang sudah mereka booking untuk acara pernikahannya.


"Fi, ada kiriman paket nih buat kamu. Mama sih gak tau dari siapa gak ada pengirim nya cuma ada tulisan untuk Fia Pratama aja nih." ucap Lia yang mendapatkan bungkusan paket kiriman yang berupa amplop berwarna coklat dari scurity gedung pernikahan.


"Apaan ya nih?" ucap Fia yang sudah memegang amplop coklat dari Lia yang sudah pergi meninggalkan ruang makeup khusus pengantin.


"Makasih ya ka." ucap Fia kepada orang yang sudah selesai meriasnya.


Pandangan Fia hanya tertuju pada baju pernikahan nya yang dia sukai. Tapi dia tidak lupa untuk membuka amplop yang dia terima. Tetesan air mata turun begitu saja tanpa henti. Bulu mata yang sudah terpasang terlepas. Bedak serta pasukan komplit nya pun luntur searah jatuhnya air mata Fia.


"Kenapa mesti sekarang? kenapa harus terjadi?" ucap Fia yang se-segukkan.

__ADS_1


Tok tok tok tok tok tok tok.


"Hai pengantin. Udah di tungguin noh sama pangeran berkuda putih nya." ucap Adit yang menemui sahabat kecilnya dihari penting dalam sejarah hidup sahabat nya itu.


Tidak ada respon yang Adit dapatkan hanya bisa melihat tubuh Fia gemetar.


"Fi, Lo kenapa? Lo terharu ya gue dateng ke acara Lo? udah gak usah nangis begitu tau gue kesini." ucap Adit yang berjalan mendekati Fia.


"Iiii... iii... ini Dit." ucap Fia dengan nada gemetar dan air mata yang terus mengalir semakin deras bersamaan ingus yang keluar dari hidungnya.


"Jangan Dit." ucap Fia mencegah terjadinya permasalahan yang akan terjadi lebih parah.


"Fia sayang. Ayo turun acara pernikahan kamu udah mau mulai." ucap Lia.


"Iya mah bentar lagi aku turun." ucap Fia mencoba menjawab dengan tenang tanpa menunjukkan kondisi dirinya saat itu.

__ADS_1


"Ya udah mama turun duluan ya. Kamu turun sama Adit. Adit kamu temenin Fia turun ya." pinta Lia.


"Batalin pernikahan Lo. Gue gak rela Lo cuma jadi bahan disakitin sama cowok brengsek kayak Fajar. Lo berhak nyari yang lebih baik dari pada dia Fi." pinta Adit.


"Tinggalin gue sendiri dulu Dit." pinta Fia.


"Kok Fia lama ya mih?" ucap Fajar yang kena serangan panik nikah.


"Sabar dong sayang. Palingan juga Fia kayak kamu panik kan ini pertama kalinya dia menikah. Kamu aja yang udah pernah menikah aja masih panik begini. Elap dulu itu keringat kamu di muka pake tisu." ujar Sri sambil mengelap keringatnya Fajar dengan tisu.


"Mamah na kok lama cih Opa. Lio kan udah nda cabal mo liat mama na antik ake aju antenan." ucap Rio di gendongan Herman.


Di sisi lain.


Adit tetap berdiri di depan pintu ruangan khusus makeup pengantin wanita. Tak beranjak pergi sedikitpun untuk menemani Fia walau tak di sisinya langsung.

__ADS_1


__ADS_2