
Pelukan erat tidak di kendor kan oleh Fajar ditubuhnya Fia. Jika bisa di ibaratkan Fia bagaikan guling yang sangat empuk. Hendusan napas yang dihembuskan dan dihirup oleh Fajar berasa jelas di leher nya Fia.
"Udah dong pak. Lepasin pelukannya udah dua jam kamu meluk-in aku." kesal Fia yang masih menggunakan pakaian pengantin kini hanya bisa pasrah duduk diatas ranjang empuk dengan pelukan erat dari Fajar.
"Aku bahagia banget Fi. Kita beneran nikah, setelah waktu itu kamu nolak nikah sama aku. Sekarang kamu udah jadi istri aku." ucap Fajar sambil tersenyum dan mencium bibirnya Fia.
"Iya kan kita udah nikah terus acara juga udah selesai. Aku juga mo ganti baju sayang." pinta Fia.
"Mo aku yang gantiin baju nya gak sayang?" saran Fajar dengan wajah mupeng nya.
"Aku lagi datang tamu bulanan. Jangan ngelobi dah." pemberitahuan Fia bahwa ia sedang haid.
"Yah, gak malam pertama dong kita sayang." sedih terpampang jelas di wajahnya Fajar.
"Em, gitu deh." ucap Fia meninggalkan Fajar ke kamar mandi. Sedang Fajar tergeletak diatas kasur dengan rasa yang sedikit kecewa.
'Gagal olahraga malam deh. Padahal mo olahraga mpe pagi gak pake ngaso. Hadeuh, pening pala langsung.' batin Fajar.
Hampir satu jam Fia menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi. Membersihkan tubuh yang sudah seharian majang di pelaminan bersama Fajar. Riasan tebal yang sudah bertengger di mukanya Fia membuat dirinya sedikit risih.
"Kami udah mandi nya." ucap Fajar yang melihat Fia mengenakan handuk kimono dan duduk di meja riasnya.
Fia tak menghiraukan ucapan Fajar dirinya hanya fokus mengeringkan rambutnya yang basah.
"Fi, kamu udah berapa hari haid nya?" selidik Fajar.
"Ini hari ke lima. Kenapa?" sahut Fia.
"Gak pa-pa." balas Fajar yang sedikit tidak enak.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu." ucap Fia.
__ADS_1
"Ya udah ngomong aja sayang gak usah malu-malu. Aku kan suami kamu."
"Aku mau bahas soal ini." ucap Fia sambil menunjukkan foto-foto yang ia dapatkan sebelum acara pernikahannya di mulai tadi pagi.
"Fi, ini gak seperti yang kamu pikir Fi. Sumpah aku sama Vina gak ada hubungan apa-apa lagi." ucap Fajar yang mencoba menjelaskan.
"Jadi dia Vina? mantan istri kamu?" tanya Fia yang memang tidak tau siapa wanita yang ada di foto tersebut.
"Iya dia mantan istri aku. Dia datang untuk mengambil Rio dari aku." jelas Fajar.
"Ngambil Rio dari kamu?" tanya Fia yang memastikan ucapannya Fajar.
"Iya sayang dia mau ngambil Rio dari aku." jelas Fajar.
"Dan aku ngelakuin itu hanya untuk dia gak ngambil Rio dari aku Fi." ucap Fajar menjelaskan lagi.
"Maaf untuk sementara aku mau kita tidak menjalani kehidupan suami istri dulu sama kamu. Aku butuh waktu pak." ucap Fia hendak meninggalkan Fajar.
"Aku butuh waktu untuk berpikir. Jadi kamu lepasin tangan aku."
"Gak Fi. Gak akan aku lepasin karena bukan begini cara nya untuk menyelesaikan kesalahan pahaman ini."
"Gak gini cara menyelesaikan kesalahan pahaman ini? Apa cara yang benar agar Vina gak ngerebut Rio dari kamu benar adanya? dan cara aku menyikapi hal ini dengan begini menurut kamu aku salah?" tanya Fia yang air mata nya pun menetes.
"Aku udah sekuat hati untuk menyakinkan perasaan dan hati aku untuk kuatin diri aku agar mampu dan sanggup menghadapi kamu. Calon suami aku yang menjelang pernikahan aku dia cium dan pelukan sama mantan istrinya di lobby hotel."
"Aku berani sumpah Fi. Gak ada yang terjadi antara aku sama Vina. Dia minta aku buat cium bibir dia aja untuk yang terakhir kalinya. Habis itu dia gak akan ngambil Rio dari aku itu janji dia." jelas Fajar.
"Kalo begitu aku juga bisa dong ciuman bibir sama Radi dan Adit sebagai salam perpisahan agar mereka tidak menganggu aku lagi." balas Fia.
"Jangan gila kamu Fi. Gak akan aku ijinin kamu mencium laki-laki selain aku!" tegas Fajar.
__ADS_1
"Egois. Kamu bisa mencium bibir Vina dengan nikmatnya. Kenapa aku gak boleh? Mang siapa kamu?"
"AKU ITU SUAMI KAMU FIA PRATAMA. INGAT ITU!!!" teriak Fajar mengguncang guncangkan tubuhnya Fia.
"Okeh fine. Suami aku kan. Kalo begitu aku minta cerai." ucap Fia santai.
"Gila kamu Fi. SAMPAI KAPANPUN AU GAK AKAN PERNAH MENCERAIKAN KAMU." ucap Fajar menekankan.
"Aku ciuman juga gak ada rasa apa-apa Fi." ucap Fajar menjelaskan.
"Liat ini. Ini yang kamu bilang gak ada rasa apa-apa? Video ini menunjukkan kalo kamu lagi sedep banget ciuman sama Vina. Andai aja aku dapat video ini bersamaan foto ini. Aku pun gak sudih untuk jadi istri kamu." ucap Fia yang mencoba pergi meninggalkan Fajar.
Hati Fia hancur lebur melihat video yang baru saja ia terima saat ia mandi. Video yang terlihat jelas Fajar menikmati ciuman manis bersama Vina. Durasi yang hampir tiga puluh menit menunjukkan bahwa Fajar bergairah berciuman dengan Vina.
"Aku mohon Fi. Jangan ngomong gitu ke aku." ucap Fajar.
"Aku udah gak tahan lagi. Aku mau kita cerai." tekad Fia yang sudah matang.
"Apapun aku kasih buat kamu asalkan jangan kamu minta cerai Fi." ucap Fajar sambil memohon dan berlutut dihadapan Fia.
"Oke kalo gitu jangan pernah kamu nyentuh tubuh aku. Bahkan seujung kuku pun aku enggak sudih di sentuh sama kamu." ucap Fia melakukan negosiasi.
"Gak bisa Fi. Kamu istriku sudah sepantasnya aku nyentuh bahkan ngasih kamu nafkah batin Fia."
"Aku gak mo di sentuh sama cowok kayak kamu. Kalo kamu gak setuju, gampang kok. Kita cerai."
"Gak itu gak akan pernah terjadi Fi. Aku bakalan buktiin kalo AKU ENGGAK PERNAH MENIKMATI CIUMAN BERSAMA VINA DAN AKU PASTIKAN VIDEO INI SALAH." ucap Fajar.
"Coba aja buktikan jangan asal ngomong. Kucing di kasih ikan pasti di makan."
"Aku enggak seperti yang kamu pikir Fia. Liat aja kalo sampe aku bisa buktiin ini video gak seperti yang kamu pikir. Kamu harus terima aku menyentuh bahkan aku mau kamu hamil cepat dan tidak ada ucapan kata cerai lagi yang keluar dari mulut kamu. Gimana?" tawar Fajar.
__ADS_1
"Okeh aku kasih waktu satu minggu. Kalo seminggu kamu gak bisa nge-buktiin ke aku dan nge-yakinin aku siap-siap tanda tangan surat perceraian kita." ucap Fia.