
Pagi yang cerah menyambut Fia yang berada depan rumahnya. Box yang sudah penuh dengan bekal sesuai perintah dari Fajar kini ada disampingnya. Ia melihat jam yang melingkar di tangan, pukul tujuh pagi.
Jenuh menunggu sudah pasti, dirinya terpaksa harus menunggu Fajar. Orang yang sudah membuat janji padanya. "Sumpah nih orang ya, janjian ketemu jam enem sampe sekarang dia gak nongol nongol. Dasar tukang ngaret." gurutu Fia yang sudah jenuh menunggu kedatangannya Fajar.
Tinnnnnnnnnnnnnn.
Suara klakson mobil yang saat ini muncul didepan rumahnya Fia. Mobil berwarna hitam, siapa lagi kalau bukan miliknya Fajar yang biasa dia gunakan untuk menjemput kekasih pujaan hatinya.
"Kebiasaan deh, janjinya jam berapa datengnya jam berapa. Emang ya, kamu itu suka ngaret dah." keluh Fia yang langsung nyelonong masuk ke dalam mobil saat Fajar membukakan pintu untuknya.
Fajar pun menundukkan kepalanya hadapan wajah Fia, sambil memasangkan sabuk pengaman dan mengecup bibirnya.
Cup.
__ADS_1
"Tambah cantik kamu kalo cemberut pagi-pagi gini." puji Fajar yang menyukai reaksi menggemaskannya Fia.
Memanyunkan bibirnya adalah jurus handalannya Fia untuk marah ke Fajar. Jika Fia harus menunjukkan secara langsung kemarahannya bisa membuat Fajar semakin menjadi-jadi tingkat emosionalnya.
"Aku sebel tau gak sih. Nungguin kamu sampe lumutan nih, tuh liat kaki aku pada merah-merah bolak-balik nunggu kamu gara-gara kamu nyuruh aku pake flatshoes. Mana janjiannya pagi-pagi buta lagi. Kalo tau ngaret begini aku kan masih bisa mimpi indah dulu di pulau kapuk." cerocos Fia yang menyayangkan waktu tidurnya yang berharga terbuang sia-sia serta merasakan sakit di kakinya efek pertama kalinya memakai flatshoes.
"Ya ampun, maaf sayang. Tadi aku bangun tidurnya kesiangan, semalam aku kebayang bayang gimana acara kencan kita satu hari full hanya kita berdua aja. Saking senangnya aku cuma bisa tidur satu jam sebelum berangkat jemput kamu." ucap Fajar menjelaskan secara rinci tentang bagaimana dia bisa telat menjemput kekasih hatinya.
"What's?"
"Gila ya kamu nyetir mobil sendiri disaat kamu cuma tidur satu jam. Kalo mo mati jangan ngajak-ngajak dong . Aku masih mau kuliah, kerja, keliling dunia sama pacar impian aku nantinya." cerocos Fia.
"Apa tadi kamu bilang?" tanya Fajar.
__ADS_1
"Iya . Kalo mo mati jangan ngajak-ngajak dong. Aku masih mau kuliah, kerja, keliling dunia sama pacar impian aku nantinya. Udah jelas." jelas Fia yang mengulang ucapannya.
Fajar pun masih belum percaya bahwa Fia tidak mengucapkan hal yang sepertinya ingin ia dengar. Setidaknya bilang kek ya, kan pacar aku kamu mang kamu mau mati sebelum kita menikmati indahnya masa pacaran atau apa gitu batinnya Fajar.
Atau ada kata-kata harapan Fia sedikit saja mengucapkan bahwa Fia ingin menikah dengan Fajar atau ingin menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Begitu ingin Fajar dengar dari tutur kata yang Fia ucapkan walaupun hanya sekali. Tapi keinginan sama kenyataan tidak pernah sama.
Raut wajah Fajar terlihat jelas berubah, merasa dia tidak pernah ada di masa depan Fia membuat dirinya menyadari. Perbedaan usia mereka membuat jalan pemikiran dia dan Fia tak sama. Rasa ingin ia selalu Fia jadikan sosok seseorang yang Fia impikan. Itu hanya keinginan Fajar saja.
Hahahahahahaha.
Suara ketawa Fia pun terdengar keras.
"Kamu kenapa ketawa?" tanya Fajar yang masih bete mendengar ucapan Fia barusan tidak seperti keinginannya.
__ADS_1
"Abis bapak lucu." ucap Fia yang masih ketawa.
Tanpa aba-aba Fajar menepikan mobilnya dipinggir jalan.