guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Perasaan Yang Sebenarnya Part 2


__ADS_3

Sedari tadi mata Fia hanya bisa berbinar-binar, merasa bahwa dirinya bagaikan permaisuri yang tinggal dalam istana. Tak bisa dipungkiri bahwa impian dirinya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang permaisuri bagaikan di negeri dongeng. Menatap seluruh sudut rumah Fajar sangat menyenangkan hatinya.


"Gila ini mah beneran istana putri dongeng. Mewahnya bukan main, kalo gini ceritanya mah gue betah tinggal dimari dah. Tinggal sewa asisten rumah tangga dan kerjaan gue ngurus taman sambil ngurus pangeran hati gue pak Fajar sama my sweetie boy alang-alang Rio ku yang unyu." oceh Fia sambil menelusuri anak tangga yang berwarna kan gold dengan raut wajah yang bahagia.


Disisi lain


Fajar pun tampak sedang berpikir sejenak kemungkinan-kemungkinan apa saja yang akan terjadi jika dirinya mengijinkan Fia untuk mewujudkan keinginannya. Akankah sanggup menahan rasa cemburu disaat Fia digoda oleh laki-laki seusianya Fia.


*****


Fia berjalan keluar roof top dari salah satu kamar yang baru saja ia lihat dilantai atas. Fia melihat pemandangan disekitarnya sangat indah. Lampu hias menyinari roof top dan ada ayunan berwarna kan putih diatas rumput dan di kelilingi oleh bunga-bunga kesukaannya. Apalagi kalau bukan bunga mawar merah dan putih.


"Ye tuh orang malah enak-enakan tiduran di halaman rumahnya sendiri tanpa rasa bersalah lagi. Enggak tahu apa kalo gue panik nungguin kabarnya dia, khawatir dia nekat lagi." ucap Fia yang baru saja ingin menghirup udara malam hari, namun gagal saat matanya tertuju pada pemandangan dibawanya.


Langkah kaki pun Fia lakukan dengan cepat untuk bertemu dengan Fajar. Laki-laki yang sudah berhasil membuatnya gelisah dan merana karena di dalam isi kepalanya terus memikirkan keadaan Fajar.


"Yeaaaaah sapa yang berani nyiram saya? Hah?" marah Fajar yang sudah basah kuyup tersiram air.


"Fia kok kamu bisa ada disini?" tanya Fajar yang kaget melihat sosok wanita yang sangat ia cintai muncul tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa aku gak boleh gitu kesini?" sinis Fia sambil bertolak pinggang menggunakan tangan kanannya dan tangan kiri memegang ember kosong.


"Ya boleh kok." gugup Fajar yang perasaannya senang karena kekasih hatinya muncul dan heran bagaimana bisa Fia datang ke tempatnya yang belum pernah dia kunjungi sama sekali. Jangankan di kunjungi diketahui oleh Fia pun belum soal rumahnya yang baru itu.


"Ya pasti bolehlah orang ini rumah bakalan jadi rumahku juga." ucap Fia dengan nada riang dan kepercayaan diri yang tinggi.


"Apa tadi kamu bilang?" tanya Fajar memastikan apa yang baru saja ia dengar dari mulutnya Fia.


"Iya, pasti bolehlah orang ini rumah bakalan jadi rumahku juga. Kenapa ada yang salah sama omonganku barusan?" sahut Fia sambil bertanya.


"Aku enggak ngerti maksud kamu, Fi." tanya Fajar.


"Apa maksud dari ucapan kamu barusan?" Fajar bertanya kembali pada Fia.


Cups.


Fia pun mencium bibir Fajar.


"Pak Fajar yang terhormat dan yang saya sayangi. Saya dengar bapak membuat rumah ini untuk Bu Fia calon istri bapak. Dan calon istrinya bapak kan saya Fia Pratama. Berarti saya boleh lah kemari, datang ke rumah yang bakalan jadi rumahku dan anak-anakku bersama dengan bapak Fajar nantinya." jelas Fia yang sedikit formal dan tegas.

__ADS_1


Fajar hanya diam tak bersuara saat melihat aksi dan mendengar ucapan dari mulutnya Fia. Tanpa waktu lama Fia pun memeluk erat tubuh Fajar. Hatinya Fajar bahagia karena bisa mendengar kata-kata yang sangat dibutuhkan untuk memastikan apa Fia benarab ada rasa padanya atau tidak selama ini.


"Maaf." ucap Fia kembali.


"Maafin aku yang masih egois. Bapak jangan marah lagi ya sama Fia. Fia khawatir kalo bapak marah nanti bapak bakalan ngelakuin hal seperti waktu itu. Fia takut itu terjadi lagi." cemas Fia.


"Maksudnya?" Fajar yang sama sekali tidak mengerti apa yang Fia bicarakan.


"Iiiiiihhhhh, bapak kok jadi oneng dah ah. Dari tadi aku ngomong ini, ngomong itu jawabannya selalu maksudnya?" sebel Fia karena Fajar selalu menanyakan semua yang Fia ucapkan tadi, kini ia pun makin erat meluk tubuhnya Fajar.


"Fi, jangan erat banget meluknya, aku kan basah. Nanti kamu ikutan basah terus nanti masuk angin lagi sama pilek karena bajumu ikutan basah." Fajar yang mengkhawatirkan kondisi tubuh Fia.


"Yarin, abis kamu enggak peka." kesal Fia.


"Apanya yang enggak peka? Aku justru peka kok. Makanya aku minta kamu jangan peluk erat-erat gini kalo kamu sakit gimana?"


"Peka apanya? Orang kamu tuh masih Lom sadar, kalo aku tuh sayang sama kamu. Saking sayangnya aku khawatir kamu bakalan berbuat seperti waktu itu. Aku takut kehilangan kamu. Aku juga mau jadi istri kamu dan ibu dari anak-anak kita nantinya. Dan hal yang terpenting saat ini aku kangen sama kamu." ucap Fia sambil merengek.


Hati bagaikan disambar petir saat itu juga. Mendengar ucapan Fia seolah-olah membuat aliran darah berhenti dan jantung tak berdetak lagi. Fia yang melihat Fajar terdiam kaku, dengan cepat Fia menundukkan kepalanya Fajar untuk dia cium. Detak jantungnya Fajar pun terasa oleh Fia saatnya tangan kirinya berada di dadanya Fajar.

__ADS_1


*****


__ADS_2