
Setibanya di rumah Rio langsung diantarkan langsung kedalam kamarnya. Fia juga ikut serta masuk ke dalam kamarnya Rio. Sehelai selimut lembut dia untai kan diatas tubuhnya Rio. Fajar seakan-akan memberikan kode kepada Fia untuk penjelasan apa yang terjadi tadi bukan seperti apa yang dipikirkan oleh Fia.
"Fi..." ucap Fajar.
"Ngomongnya diluar aja ya," pinta Fia.
Lima menit kemudian setelah Fia menatap wajah Rio yang sedang tertidur. Baru lah Fia hendak keluar dari kamarnya Rio.
Cklek.
Suara pintu tertutup.
Fia melihat Fajar yang sudah berdiri didepan pintu kamar Rio. Fia yakin bahwa Fajar akan menjelaskan tentang kejadian yang telah ia lihat di kantor milik tunangannya.
"Fi...."
"Kita ngomongnya di ruang kerja kamu aja ya," ucap Fia yang memotong ucapannya Fajar.
Fajar yang tidak tahan lagi memikirkan banyak hal. Melontarkan kata-kata yang sudah numpuk didalam hatinya.
"AKU ENGGAK ADA HUBUNGAN APA-APA SAMA RISA. DIA HANYA SEKERTARIS AKU DAN TADI DIA JATUH KARENA SAKIT. BISA GAK SIH KAMU GAK BERSIKAP SEPERTI INI," teriak Fajar yang menghentikan langkahnya Fia.
Fia pun memutar balikkan tubuhnya dan menaruh telunjuknya ke bibirnya Fajar.
"Ssttsss. Aku kan udah bilang kita ngomongnya di ruang kerja kamu aja."
Fajar langsung memeluk tubuhnya Fia dan mengucapkan "Aku gak bisa di giniin, Fi. Kalo kamu marah atau kamu mau ngomel-ngomel langsung aja ungkapin jangan bersikap seolah-olah enggak terjadi apa-apa."
Mendengar ucapan Fajar ditelinga kanannya, Fia pun mengusap kepalanya Fajar dan melepaskan pelukannya.
"Ikut aku." ucap Fia yang menarik tangan kanannya Fajar.
Cklek.
Suara pintu terbuka.
Cklek.
Suara pintu tertutup.
"Kenapa kita harus kesini sih? kan bisa ngomong langsung tadi. Kenapa kamu mo banget bahas di ruang kerja aku sih, Fi." ucap Fajar yang tidak mengerti apa maksud dari sikap tunangannya.
Fia pun tak menghiraukan ucapan Fajar melainkan ia langsung duduk diatas meja kerja miliknya Fajar. Mengayunkan kedua kakinya yang nge-gantung serta jari telunjuk tangan kanannya seolah mengatakan bahwa dirinya sedang memanggil Fajar untuk mendekatinya.
Langkah kaki pun terhenti disaat Fajar sudah berada tepat di depannya Fia. Dasi biru tua pun ditarik oleh Fia menggunakan tangan kirinya. Fajar sontak terkejut dengan sikapnya Fia. Di dalam pikirannya Fajar, Fia seakan ingin membunuhnya. Tapi dirinya sadar akan apa yang telah Fia lihat bukan hal yang mudah untuk diterima oleh hatinya.
Wajah Fajar yang sedikit ingin belok ke arah kiri terhenti karena Fia menghadangnya dengan tangan kanannya. Ciuman manis malah dia terima saat itu.
Durasi yang agak sedikit lama kurang lebih hampir satu jam membuat Fajar lupa apa yang sebenarnya ingin dia bahas saat itu juga. Terlena dengan ciuman manis dari bibir lembutnya Fia membuat dia lupa akan segalanya.
__ADS_1
Fajar pun hendak ingin mengambil alih dan memimpin ciuman manis yang dimulai oleh Fia. Tidak bisa dia lakukan karena tiba-tiba dihentikan oleh Fia.
'Sittttsss, mana lagi kentang pake berhenti lagi dia. Lagi enak-enak nya.' kesal Fajar di dalam hatinya.
"Kenapa enggak enak ya? ciuman sama aku?" ucap Fia bertanya.
"Nanggung banget sayang lagi enak-enak nya masa berhenti sih," rengek Fajar seperti anak-anak.
"Itu sama halnya dengan apa yang aku rasain sayang." kata Fia.
Fajar yang tidak mengerti maksudnya Fia pun bertanya "Maksudnya?"
"Aku lagi sayang sayangnya sama kamu. Lagi rindu rindunya sama kamu. Pas ketemu pacar yang udah jadi tunangan aku lagi meluk cewek lain. Mana cantik banget lagi tuh cewek." kesal Fia.
"Tadi kan..."
"Ssstttss. Jangan ngomong sebelum aku suruh." potong Fia saat Fajar hendak menjelaskan tentang kejadian tadi.
"Aku cuma mau tau dari kamu kenapa kamu ngindarin aku akhir-akhir ini. Jawab jujur dan singkat." tanya Fia dengan tegas.
"Cemburu." sahut Fajar singkat.
"Karena?"
"Est, karena Adit sayang. Apalagi coba?" ucap Fajar sambil meringis lehernya sakit karena saat hendak ia berdiri dengan benar gagal karena dasinya ditarik kembali oleh Fia.
"Liat aku sambil jelasin." ucap Fia yang memerintah.
"Ya aku tau kok. Tapi kamu tau gak kenapa cewek itu suka bahas soal cowok lain selain cowoknya sendiri." tanya Fia yang dijawab oleh Fajar dengan gelengan kepala sebagai tanda bahwa dia tidak tahu.
"Itu sebagai kode."
"Maksudnya?"
"Biasanya cowok itu suka ngerasa dia udah ngelakuin banyak hal untuk ceweknya. Tanpa dia sadari itu belum seberapa dibandingkan dengan selingkuhannya..."
"Jadi kamu selingkuh?" mendengar kata-kata Fia barusan membuat kedua kakinya Fajar melemas bagaikan tak bertulang.
Fia kaget melihat Fajar yang tersungkur ke lantai.
"Astaga kamu kenapa." tanya Fia yang tidak mendapat jawaban dari Fajar.
Situasi yang Fia rasakan kini telah ia pahami.
"Aku enggak selingkuh." tegas Fia yang mendapatkan tatapan tajam dari matanya Fajar.
"Aku berani sumpah aku enggak pernah selingkuh. Bahkan kamu satu-satunya cowok yang jadi pacar aku dari pacar pertama aku bahkan sekarang jadi tunangan aku. Selama itu aku jamin aku gak pernah selingkuh. Ya meski dulu aku sempet ada niat untuk jadi pacarnya kak Riki. Tapi itu gak aku lakuin karena aku sadar kalo nanti aku di gituin gimana rasanya. Aku kan juga tau kamu soal kamu sama yang namanya Vina. Dan aku berusaha untuk tidak berbuat hal yang sama terhadap kamu. Aku cerita soal Adit itu buat ngode-in bahkan ngasih tau secara langsung sama kamu kalo aku sama Adit enggak ada rasa satu sama lainnya. Kan mama aku juga udah tau kamu gimana jangankan mama, papa aku aja sama kak Bram juga tau gimana kamu. Apa aja yang udah kamu perbuat untuk Adit sama keluarganya untuk buat dia enggak deket-deket sama aku. Harusnya keluarga aku ngelarang soal hubungan kita. Tapi apa nyatanya? mereka bersikap seolah-olah enggak tahu kejadian Adit. Mereka berpikir bahwa aku sayang sama kamu. Sampe akhirnya mereka tau aku sama kamu ngejalanin hubungan yang kamu paksa. Di situlah mereka memberikan segala keputusan sama aku. Dan akhirnya kamu tau apa yang terjadi, aku sayang pak sama guru aku sendiri. Guru yang selalu marah-marah sama aku tanpa sebab...."
"Enak aja tanpa sebab, kamu tuh sering telat. Pas banget di jam pelajaran aku lagi." selak Fajar.
__ADS_1
"Ya elah jarang kali pak." protes Fia.
"Sering tau gak."
"Ya deh sering, aku mah ngalah aja sama kamu." ucap Fia.
"Dih kok gitu." ucap Fajar.
"Iiiiiihhhhh entar dulu ngapa bahas soal aku telat di sekolah, kan aku mo bahas panjang kali lebar ini. Entar yang ada aku keburu lupa." omel Fia.
"Iya iya lanjut." ucap Fajar sambil tersenyum.
"Cie langsung deh senyum. Giliran udah tau kalo aku sayang sama kamu. Ya udah intinya aja nih aku bahas. Aku enggak pernah tau apa rasanya cemburu karena aku belum pernah yang namanya pacaran. Aku baru tau rasanya cemburu itu di saat kita pacaran. Aku cemburu pas anak-anak dulu satu sekolah ngedeketin kamu, ditambah lagi dengan kejadian tadi. Sumpah aku pengen jambak tuh cewek. Sayang aja ada anak aku, enggak mungkin kan aku marah-marah didepan anak sendiri." jelas Fia.
"Anak sendiri?" ucap Fajar yang meyakinkan pendengarannya.
"Iya lah anak sendiri. Rio itu anak aku. Walaupun kamu beneran selingkuh nih ya sama cewek lain di luaran sana dan ketangkep basah sama aku sama anak aku. Enggak ada sedikitpun tindakan bahkan keributan yang aku lakukan didepan anak-anak aku nantinya karena itu bukan tindakan yang patut dipertontonkan pada anak."
"Oh, pantesan kamu dari tadi biasa aja karena ada Rio ya?"
"Iya makanya aku minta bahas nya di ruang kerja kamu. Aku juga gak mau ngebahas soal perselingkuhan atau apapun didepan banyak orang atau di ruang terbuka. Kita mo nikah pak Fajar itu harus aku lakuin biar disaat kita ada masalah di keluarga kita pihak luar enggak ada yang tau. Bahkan anak-anak kita juga jangan sampe tau berantemnya kita masalahnya kita. Cukup kamu sama aku aja yang tau."
"Iya sayang. Tapi kan kita bahas nya di rumah udah gitu Rio juga udah tidur."
"Iya di rumah, Rio juga udah tidur. Tapi kamu sadar gak kalo sampe aku sama kamu ngebahas soal tadi dan aku emosi. Terus para pembantu di sini liat atau nguping. Terus mereka jadiin bahan gosip, terus Rio denger gimana? Bukan kita juga nantinya yang repot. Lain kali tahan emosi kamu. Aku tau kok semua sikap kamu gimana kamu. Tapi please ngomong sama aku, kalo kamu gak bisa ngelakuin itu."
"Maksudnya?"
"Hari ini kamu kebanyakan enggak ngerti nya dah. Maksudnya aku, kalo kamu enggak bisa nahan cemburu bilang."
"Kan kamu sendiri yang bilang aku harus berubah jangan kayak dulu lagi. Dari pada aku emosi. Lebih baik aku ngindarin kamu. Tar kalo aku posesif kamu marah, gak terima."
"Ya enggak gitu sayang. Yang aku maksud berubah itu jangan sampai kamu ngelakuin hal yang merugikan orang lain. Ya udah deh gini aja kamu boleh kok jadi diri kamu sendiri."
"Serius?"
"Iya serius. Aku gak mau kalo kamu malah melarikan diri kayak gini lagi yang ada beneran bisa ada orang ketiga nantinya."
"Itu gak bakalan terjadi."
"Janji." ucap Fia yang memastikan ucapannya Fajar dengan mengacungkan jari kelingking kanannya.
"Janji aku gak akan pernah selingkuh sayang." balas Fajar sambil menyematkan kelingking kanannya ke kelingking nya Fia.
"Terus yang tadi beneran sekretaris kamu?" ucap Fia yang sudah mulai mengintrogasi Fajar.
"Iya sayang."
"Beneran gak ada hubungan apa-apa?"
__ADS_1
"Sumpah sayang gak ada hubungan apa-apa aku sama dia." ucap Fajar dengan yakin.
Namun di dalam hatinya 'Gimana kalo aku belum ganti sekretaris. Bisa-bisa kandas hubungan gue.'