guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Ada Rasa Yang Mengganjal


__ADS_3

Hari-hari berlalu sejak Fajar mencoba untuk tidak terlalu cemburuan terhadap Fia. Fajar sama sekali tidak nyaman dengan perasaan yang seperti itu. Gelisah dan khawatir akan hubungannya sama Fia.


Kemunculan Adit kembali membuat Fia intens sibuk membahas tentang apa saja yang mereka lakukan disaat mereka bertemu. Tidak ada hal yang sama sekali untuk dicemburui karena Fia bercerita tentang Adit yang sedang kasmaran dengan teman sekampusnya.


Meskipun sedang dalam tahap penyetopan rasa cemburu. Tapi apa daya, rasa cemburunya Fajar di hati sudah tidak terbendung lagi. Dirinya mencoba untuk menenangkan hatinya agar tidak lepas kontrol saat bersama Fia.


Tok tok tok tok tok tok tok.


Suara ketukan pintu ruang kerja Fajar terdengar.


"Masuk."


"Pak sudah waktunya untuk rapat," ucap Risa yang mengingatkan.


"Ya, baik," sahut Fajar serta bergegas.


Di sisi lain.


"Mamaaah," teriak Rio sambil berlari cepat memeluk tubuh Fia yang hadir dirumahnya Fajar.


"Lio angen cama mama," ucap Rio penuh semangat.


"Mama juga kangen sama Rio. Papa ada di rumah gak sayang?" tanya Fia yang sedikit tahu bahwa Fajar sedang menghindari dirinya. Jangankan untuk bertemu, menerima telepon darinya aja Fajar tidak mau angkat.


"Papah enja mah," ucap Rio memberitahu yang ia tahu.


"Maaf Bu, mau minum apa biar saya buatkan," sapa pengurus Rio yang baru karena pengurus yang lama sedang hamil dan balik ke kampung halamannya.

__ADS_1


"Gak usah Atul. Aku mau ngajak Rio jalan-jalan. Kamu ikut sama saya aja. Tolong bilang juga sama pak Denis untuk antar saya sama Rio pergi," ucap Fia yang meminta tolong kepada Atul.


"Mang ita mau kemana mah?" tanya Rio yang senang saat mendengar kata jalan-jalan.


"Kekantor papa dong. Pas banget ini jam makan siang, kamu emang gak mau makan siang bareng sama mama sama papa?" ucap Fia.


"Mau dong mah."


Mobil Alphard berwarna hitam sudah muncul didepan Fia. Fia pun langsung menggendong Rio untuk masuk kedalam mobil.


"Maaf Bu, mau saya antar kemana?" tanya Denis setelah pintu mobil tertutup.


"Kekantor bapak aja,pak." pinta Fia.


Setibanya Fia dan Rio dikantornya Fajar. Rio selalu bersenandung.


"Mohon maaf, ruangan pak Fajar dimana ya?" tanya Fia kepada resepsionis di lobby kantor Fajar.


"Ih, udah ayo mah Lio tau ko luangan papah." ucap Rio sambil menarik tangan kanannya Fia.


Resepsionis pun kaget mendengar ucapan anak kecil tersebut.


"Mohon maaf, Ibu istrinya pak Fajar." ucap resepsionis tersebut. Namun Fia tak mau merespon dengan berlebihan dan menyuruh tenang terhadap resepsionis tersebut.


Pintu lift yang tertulis VIP diatas membuat dia bertanya kenapa harus ada tulisan seperti itu, pasti membuat yang kerja disini rada terganggu.


Ting.

__ADS_1


Fia pun langsung tertuju matanya dengan pemandangan yang sangat menarik hatinya untuk bertanya-tanya.


'Wah, gila."


"Kamu kenapa bisa begini sih Risa." ucap Fajar yang kaget saat tiba-tiba tubuhnya Risa terkulai lemas.


Fajar pun kaget melihat Fia muncul didepan pintu lift saat pintu lift terbuka lebar.


"FIA." ucap Fajar yang sontak kaget.


"Rio sayang kita langsung makan aja yuk," ajak Fia sambil menggendong Rio.


"Fi, tunggu. Pak tolong bawa risa ke rumah sakit terdekat." pinta Fajar ke scurity yang menjaga akses keluar masuk kantor nya.


Tubuh Risa yang di geletakan oleh Fajar dia abaikan begitu saja. Dia lebih milih untuk mengajar Fia dan menjelaskan apa yang terjadi.


"Fi, tunggu jangan abaikan aku sih. Sumpah aku sama Risa enggak ada hubungan apa-apa. Jangankan hubungan rasa aja gak ada Fi." ucap Fajar yang diabaikan oleh Fia.


Emosi Fia sudah terlihat di raut wajahnya.


"Sayang kamu duduk dulu, pesen makan ya. Em, apa mo aku yang pesenin?" ucap Fia dengan intonasi super duper lembut.


Fajar mendengar ucapan Fia membuat bulu kuduk berdiri.


Fia melihat Fajar menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dia mengikuti perkataan darinya. Dia pun memesan makanan sesuai selera masing-masing.


"Mah, Lio enyang anget." ucap Rio sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Lio angtuk mah, mo tidur." ucap Rio manja.


Fajar pun menggendong Rio dan mengantar ke mobil. Selama Rio di gendong Fajar dan tertidur pulas. Fia hanya mengikuti langkah kakinya Fajar dari belakang.


__ADS_2