
Fajar Pov
Berulangkali aku mencoba untuk mengingat kembali, sikap dan sifat apa yang selama ini ku lakukan saat aku bersama Fia. Otak didalam kepalaku berpikir, apakah aku selama ini terlalu memaksakan kehendak sendiri tanpa memikirkan apa yang Fia inginkan? atau aku yang terlalu ingin memiliki dirinya, sampai aku bersikap egois didalam hubungan ini.
Tapi tak ku temui satu alasan apa pun itu yang membuat aku menyalakan atau menyadari bahwa tidak pantas akan sikap dan sifat ku ini disaat bersamanya. Terkesan bahwa selama cintaku padanya hanya bertepuk sebelah tangan.
Kecemburuan karena ingin wanita yang kita cintai jadi milik kita seutuhnya. Itu bisa digambarkan pasangan mana yang bisa atau rela berbagi pasangannya sendiri ke orang lain.
Apalagi orang lainnya itu adalah sahabat dari pasangan kita sendiri yang sudah kita ketahui sendiri bahwa dia memiliki perasaan terhadap pasangan kita. Hal apa yang akan kita lakukan jika itu semua yang kita liat dan kita rasakan? ingin memboikot pasangan kita dengan lebel sah kan? alias pernikahan. Itu sudah pasti apalagi kalau usia dan materi kita memang sudah cukup atau bisa menghidupi pasangan kita pastinya. Ditambah status dan perasaan yang sudah lama menduda ingin sekali mempunyai seseorang wanita yang bisa menemani hari-harinya bersama adalah keinginan terbesar semua laki-laki.
Keegoisan yang membuat aku ingin dia selalu berada dalam genggaman ku. Itu pasti, karena akan lebih mudah untuk aku menjaga dia dari cowok-cowok yang mendambakan bahkan mengejarnya. Apalagi kalau kita pernah tau bahwa pasangan kita pernah mencintai seseorang dan ternyata sekarang seseorang yang dicintai oleh pasangan kita membalas rasa cinta nya. Bagaikan dua orang yang sedang berebut untuk mendapatkan apa yang dia sukai.
Ketakutan akan pasangan kita berpaling dari kita kemungkinan besar itu pasti ada. Apalagi kalau kita tau awal kita menjalani hubungan kita itu tanpa adanya rasa yang terbalaskan oleh pasangan kita alias cinta bertepuk sebelah tangan. Menjadikan dia jadi pasangan kita karena paksaan dari kita.
Saat itu aku menyadari bahwa benar adanya kalau yang namanya perasaan itu tidak bisa kita paksakan. Sama halnya dengan hubungan aku dengan Fia. Aku paham bahwa Fia mencintai Riki dari awal mereka bertemu sampai saat ini, begitu juga dengan sebaliknya.
__ADS_1
Aku mencintainya disaat aku paham dan tau akan semua sifat dan perilakunya.
Gadis berusia remaja tapi berprilaku bagaikan ia bukan seorang anak gadis melainkan kearah anak laki-laki alias tomboi, easy going, supel serta menyebalkan karena selalu menjawab semua perkataan yang diucapkan olehku disaat aku mengkhawatirkan kondisi dirinya yang selalu tidak pernah aku duga banyak hal yang dia lakukan terlalu membahayakan dirinya.
Maka dari itu aku selalu membatasi semua aktifitas yang dilakukan Fia selama ini. Aku takut dengan sikap ku yang seperti itu membuat dirinya menjauh dari sisiku dan membenci ku. Merasa seperti dikekang dan diambil hak kebebasannya dalam hidupnya.
Drrrrrrrrrrrrrrrrtttttttttttt.
Drrrrrrrrrrrrrrrrtttttttttttt.
Drrrrrrrrrrrrrrrrtttttttttttt.
"Kamu malah tanya kenapa? harusnya yang tanya itu Mamih. Kenapa sampai sekarang kamu belum juga berhasil jadiin Fia istri." ucap Mamih nya Fajar dengan nada tak bersahabat.
"Butuh waktu, Mih." santai Fajar saat menyauti pertanyaan dari wanita yang telah melahirkannya.
__ADS_1
"Butuh waktu berapa lama lagi sih, Jar? ini udah hampir mau dua bulan loh. acara perpisahan sekolah Fia sudah, wisudaan juga udah nunggu apa lagi? nunggu Mamih kamu tiada gitu baru kalian nikah? Apa nunggu kamu jadi duda lapuk baru kalian nikah?" senewon Sri.
"Ya enggak gitu juga Mih." jawab Fajar yang dilema.
"Ya kalo enggak gitu? mesti nunggu apa lagi kamu? Jar denger kata-kata Mamih ya! Mamih sama Papih kamu udah tua. Kita berdua ingin melihat cucu kita punya sosok ibu, seperti anak-anak lainnya. Kalo kamu enggak dipercepat nikahin Fia. Kamu mau anak kamu besar kurang kasih sayang seorang ibu. Mamih mah bisa-bisa aja jadi ibu buat Rio, tapi kan kamu tau sendiri Rio udah ngerti kalo kasih sayang Mamih sama Rio seperti kasih sayang seorang nenek terhadap cucunya. Kamu pikirkan Jar, enggak lama lagi Rio sekolah disaat anak kecil banyak ingin tau dalam bermacam-macam hal. kalau sampai dimenyadari dimana sosok ibunya, gimana? disaat dia melihat teman-teman mempunyai adik, gimana? masa kamu mo jawab karena bapaknya duda gitu, mama nya pergi sama laki-laki lain gitu?"
"Ya enggak gitu lah Mih."
"Enggak gitu gimana? Orang sampe gini hari kamu masih belum ngajak keluarga ngelamar Fia. Inget loh Jar, Fia itu udah kriteria ibu banget buat Rio. Jangan kelamaan kamu. Keburu berpaling dari kamu. Nangis bombay kamu. Mumpung Fia ada rasa sama kamu, udah berani bilang suka sama kamu. Jadiin cepetan, keburu pudar rasanya sama kamu, gimana?"
"Iya Mih. Fajar usahakan secepat mungkin kita menikah." sahut Fajar.
"Ya, udah Mamih do'ain biar Fia nerima lamaran kamu. Kalo udah di terima, kan Mamih bisa balik enggak perlu holiday bertigaan terus sama Papih sama Rio juga. Kan Mamih juga mau holiday bareng menantu Mamih nantinya." inginnya Sri.
"Iya Mih." sahut Fajar dengan singkat sambil menutup telepon genggamnya.
__ADS_1
'Maaf Mih, sepertinya Fajar masih belum bisa memastikan kapan Fajar bisa nikah sama Fia. Sekarang Fajar cuma bisa membuat Fia nyaman ngejalanin hubungan ini sama Fajar tanpa rasa tertekan. Fajar juga mau Fia memperdalam rasanya dulu sama hubungan ini. Fajar enggak mau Mih, Fia sedih hanya karena hal yang dia tidak mau lakuin dan dia inginkan. Walaupun Fajar juga ingin, tapi kalau Fia enggak mau? Fajar juga ngerasa bersalah Mih, seakan Fajar enggak punya hati. Maaf Mih. Fajar enggak bisa melihat Fia sedih atau tertekan akan hubungan ini.' ucap Fajar lirih.