
Langit pun sudah tak terlihat terang karena sore telah menggantikan siang.
"Fi, nyokap Lo ngirim pesan nih ke nomer gue." ucap Fia yang asyik mengendarai motornya.
"Apa katanya?" singkat Fia sedikit berteriak yang tidak mau terganggu kesenangannya saat menggunakan motor sportnya.
"Dia cuman bilang kita ada dimana, soalnya pak Fajar sama Rio ada dirumah Lo." sahut Mira yang berteriak memberitahukan isi pesan yang ia dapat.
"Sekarang?" tanya Fia.
"Iya." sahut Mira.
"Mampus gue."
Rem mendadak pun Fia lakukan dengan secepat mungkin. Rasa kaget dan panik membuat hati serta pikiran Fia rusuh.
"GILA LO FIA KALO MO MATI JANGAN NGAJAK NGAJAK GUE. GUE MASIH PENGEN HIDUP TAU." omel Mira.
"Sorry dah Mir. Gue titip motor gue ya, Lo bawa balik ke rumah Lo dulu deh besok gue ambil." ucap Fia yang seradak seruduk karena panik Fajar marah.
Tak butuh waktu lama taksi pun muncul saat Fia menengok untuk mencarinya.
"Gue duluan ya Mir." pamit Fia pada Mira.
"Tapi Fi itu..." ucap Mira mencoba menghentikan kepergian Fia.
"Udah ah gak ada itu-itu. Bye."
Mobil taksi pun melaju sangat kencang sesuai permintaan Fia. Dirinya hendak memejamkan matanya dan berpikir alasan apa lagi yang akan diberikan.
"Belok kanan ya pak, berhenti di pintu gerbang yang warna biru."
"Baik Bu."
__ADS_1
"Kok pala gue sakit banget ya padahal cuman nyender dibelakang kursi taksi." keluh Fia.
"Itu karena..."
"Udah disini aja pak. Ini uangnya. Makasih ya." potong Fia saat supir taksi mencoba untuk berbicara dengan dirinya.
Laju kaki pun ia lakukan secepat kilat.
"Kok sepi sih rumah?" heran Fia.
"Katanya pak Fajar kesini kok mobilnya enggak ada? Gue pencet bel juga gak ada yang bukain pintu. Nyokap gue kan tadi pergi arisan dia bilang pas siang. Terus dia tau pak Fajar dateng dari mana? mobilnya aja sama sekali gak ada. WAH Mira ngerjain gue." kesal Fia.
Cklek.
"MAAAAMAAAHHH." suara teriakan yang tidak asing terdengar di telinga Fia.
"Ya ampun Rio. Kapan kamu dateng?" tanya Fia yang memang merindukan sosok laki-laki kecil tersebut.
"Mam..."
"Sssstttt. Masuk ke dalem kamar mama ya. Ada sesuatu buat Rio."
Usaha Fia untuk mengalihkan pandangan dari Fajar yang ada didepan pintu rumahnya. Fia menggendong Rio sampai di dalam kamarnya serta melihat isi rumah kenapa kosong bagaikan tak berpenghuni sama sekali.
Rio senang saat dirinya mendapatkan mainan dari Fia. Baru kali ini ia merasakan betapa enaknya punya mama. Ada yang peduli dan juga bisa bertambah koleksi mainannya pikir Rio.
"Mama kenapa? ko aya ketatitan ntu." tanya Rio.
"Iya nih gak tau kenapa dari semalam mama ngerasain gak enak badan sayang. Kayaknya mama lagi sakit deh." ucap Fia mencoba melanjutkan alibinya.
"Api mama nda anget kok badan na, yasa aja." sahut Rio yang memegang jidatnya Fia.
"Rio sayang." ucap Fajar.
__ADS_1
"Ya pah."
"Mama kamu yang sakit bukan badannya tapi isi kepalanya." ketus Fajar yang berbicara dengan Rio anaknya sendiri tapi menatap kearah Fia yang berdiri menyaksikan Rio dan Fia sedang membicarakan banyak hal di atas kasurnya Fia.
"Maksut na papah apaan cih?" tanya Rio yang tidak mengerti apa maksud ucapannya Fajar.
"Ya isi kepalanya mama yang sakit sayang." sahut Fajar lagi.
"Apaan sih pak kalo ngomong tuh yang bener jangan bikin anak kecil puyeng." sahut Fia yang kesal karena tidak terima anak yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri dipermainkan oleh Fajar yang merupakan ayah kandungnya sendiri.
"Kamu tuh yang gak bener."
"WAH. Loncer amat pak ngomong nya? Maksudnya apaan nih ngomong gitu, Hah?"
"Mama angan malah malah ama papah." ucap Rio.
"Enggak sayang. Mama mana mungkin marah-marah sama papah kamu. Kan mama sayang sama papah kamu." ucap Fia mencoba menenangkan hati Rio.
"Kalo mo bohong yang cerdas dikit ngapa Fi." tutur Fajar melepaskan helm yang sedari tadi nyangkut di kepalanya.
'Bodoh banget sih Fi. Kok bisa Lo enggak sadar helm nyantol di kepala dari tadi. Mira juga rese banget bukan ngasih tau gue gitu. Berarti tadi gue kayak orang oon dong naek taksi pake helm. Pantes aja pala gue berasa sakit pas nyender di bangku taksi.' batin Fia.
"Udah kamu gak perlu ngatain diri sendiri di dalam hati kamu. Walaupun kamu bodoh aku tetep sayang kok." ucap Fajar yang tahu bahwa Fia sedang mengatai dirinya sendiri dan mencium keningnya Fia saat Fajar mengenadahkan kepalanya Fia keatas.
Cups.
"Maafin aku ya." ucap Fia yang tidak enak hati karena telah berbohong pada Fajar.
"Ya aku maafin. Tapi lain kali jangan begitu lagi ya. Kamu buat aku panik setengah mati. Makanya aku kesini naik taksi karena pikiran aku kacau saat baca WhatsApp kalo kamu lagi sakit gak enak badan." ucap Fajar.
"Euuummm, kok kamu jadi bikin aku meleleh sih."
"Emang papah kompol mah? Ampe bica bikin mamah meleleh?" tanya Rio yang mendengar kata-kata Fia yang sedang senang karena Fajar tidak marah kepadanya melainkan khawatir.
__ADS_1