
Di depan gerbang kampus terjadi perdebatan siapa lagi kalau bukan Fia dengan Radi ketua ospek yang menurut Fia selalu cari masalah.
Buuug.
"LO lagi." ucap Radi.
"Ya Tuhan kenapa engkau selalu mempertemukan aku dengan makhluk yang tak kasat mata." ucap Fia sehabis bertubrukan dengan Radi sambil mengenadahkan kedua tangannya seperti berdoa.
"Ye cewek kotok. Gue ganteng gini Lo gak liat. Udah deh stop modus nya, gue tau Lo mo sok sok-sok-an ketabrak biar gue bisa nganterin Lo kan kan? basi cara Lo recehan yang ambray." ucap Radi yang selalu sewot jika berhubungan dengan cewek manapun.
Dalam kamus kehidupan Radi hampir setiap cewek yang ngedeketin dia atau disampingnya ada maksud dan tujuan tertentu. Entah yang mau naik nebeng hidup enak secara kehidupan Radi terbilang cukup bagus untuk sepuluh turunan. Ada juga yang terpesona oleh kegantengannya dan ada juga yang memanfaatkan kepintarannya untuk sesuatu yang diperlukan oleh para cewek-cewek yang mendekati dia.
"Iiyuuuh. Lo enggak sadar diri ya? ganteng? modus? Jangan ngimpi bang. Uoy, buat ketemu Lo aja gue ogah apa lagi sampe minta dianterin sama Lo. Bisa mimpi buruk gue selama satu bulan." ucap Fia yang sedikit meninggi nada bicaranya dan penuh dengan penekanan seolah dia tidak sedikit pun ingin berurusan atau bahkan berhubungan dengan Radi.
__ADS_1
Di sisi lain.
Dalam mobil persimpangan jalan dekat pintu gerbang kampus Fajar menanti kedatangan Fia untuk mengantar pulang dan jalan-jalan sebelum itu.
"Udah hampir setengah jam. Kenapa Fia beluman keluar juga dari kampus." oceh Fajar yang sudah melihat jam tangannya berulangkali dari lima menit sebelum Fia bilang lagi on the way ketempat biasa dirinya menjemput.
Baaaaag.
"Baru mau aku telpon kamu." ucap Fajar yang sudah masuk kedalam mobil.
"Siapa sih? sih Radi? ketua ospek yang bikin kamu ngelilingin lapangan dua puluh kali?"
"Iya say. Tadi tuh ya, aku sama dia tabrakan dija..."
__ADS_1
"What's? mana yang luka? ada yang sakit gak?" potong Fajar sambil mengecek tubuhnya Fia.
"Ya ampun sayang. Aku cuman tabrakan badan bukan ditabrak motor. Enggak usah lebay dah." ucap Fia yang santai.
"Jangan sembarang ngomong ya Fi. Inget gak waktu kamu balapan motor dulu? Kamu masuk rumah sakit. Kamu luka-luka. Aku panik setengah mati khawatir kamu kenapa-kenapa. Takut kamu gak sanggup nahan sakit." ucap Fajar yang lirih.
Fia merasa tidak enak hati dengan apa yang sudah pernah terjadi. Bila dirinya masih mempertanyakan apakah Fajar mencintai dirinya sudah dapat dipastikan keakuratannya seratus persen. Dari dirinya yang selalu menyulitkan Fajar. Tetap di bantu oleh Fajar, dari dirinya yang pernah masuk rumah sakit bahkan ketangkap polisi karena balapan liar. Fajar selalu ada di saat Fia membutuhkan pertolongan saat itu juga.
Cups.
''Maaf yang, aku kurang peka." ucap Fia sambil mengusap wajahnya Fajar.
Tanpa respon Fajar memeluk erat tubuh Fia.
__ADS_1
"Aku enggak mo kamu kenapa napa Fi. Kalo kamu sampe kenapa napa berarti aku masih gagal untuk ngelindungi kamu. Bahkan kalo bisa memilih lebih baik aku yang kenapa napa dari pada kamu yang kenapa-kenapa." ucap Fajar ditelinga Fia.