
Langkah kaki yang terhenti tepat di salah satu depan pintu . Detak jantung yang tak beraturan . Pikiran yang sudah bercabang kemana-mana . Malam yang dikit lagi datang . Tatapan mata dari dua orang yang sudah berada di samping pintu itu pun menatap tajam ke arah nya .
Sri mencoba menjelaskan kehadiran Fia ke pada Herman . Walau sebenarnya suami itu sedikit tidak bisa menerima kehadirannya . Tapi apa daya benar yang di bilang oleh istri nya . Hanya Fia lah yang bisa membuat Fajar keluar dari dalam kamarnya itu . Seminggu bukanlah waktu yang sebentar untuk berada di dalam kamar .
Rio pun memeluk tubuh Fia saat melihat wanita yang dia anggap mama nya hadir di hadapan nya . Lepas rindu Rio membuat Fia merasa dirinya betapa jahatnya dia terhadap bocah yang sudah menganggap dirinya sebagai mama nya . Jika mengingat bahwa dia telah membatalkan pernikahan dengan papa Rio alias memutuskan untuk tidak menjadi mama nya Rio .
Rio yang sudah dibujuk oleh Sri sang Oma . Kini berada di gedongan nya . Sri meminta Fia untuk mencoba membujuk Fajar keluar dari dalam kamarnya .
Dari ketukan dan panggilan dari yang pelan hingga keras pun telah dilakukan oleh Fia adalah hal yang sia-sia . Akhirnya otak Fia berfikir bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam kamarnya Fajar .
"Kamu mau kemana fi ?"tanya Sri melihat Fia meninggalkan dirinya dan Herman serta cucu nya .
"Kamarnya pak Fajar ada jendela nya kan mih ?"tanya Fia ke Sri saat kaki nya berada di anak tangga yang terlintas di kamar nya sendiri terdapat jendela yang dulu pernah digunakan untuk melarikan diri dari rumah .
"Iya ada kok fi ."sahut Herman karena dia melihat Sri bingung kenapa Fia menanyakan jendela kamarnya Fajar .
Dengan susah payah kini dirinya sudah berdiri didepan jendela kamarnya Fajar .
"Huft .... Gila tinggi bener ya yang gw panjat . Ternyata skill gw gak berkurang setelah sekian lama gak diasah . Udah cocok nih gw jadi pencuri proposional . Hehehehe "ucap Fia yang ngoceh sendiri seakan bangga dengan hal yang gak patut dibanggakan .
Yups panjat memanjat bukan lah hal yang baru Fia lakuin . Itu adalah rutinitas sehari-hari yang dulu dia lakukan . Pasalnya dulu dia sering balapan liar secara diam-diam . Dan hal itu dia lakukan saat orang tua nya sudah pada tertidur pulas . Maka dirinya bisa lewat jendela kamarnya agar bisa keluar masuk kamar nya dengan aman tanpa ketahuan . Jika ketahuan tamat lah nasib uang jajan nya akan hilang melayang dipotong oleh sang mama .
Namun sayangnya kini dia sudah tidak melakukan aktivitas panjat memanjat karena perjanjian nya dengan Fajar dulu membuat dirinya berubah . Dirinya lebih takut tidak bisa mengendarai motor sport kesayangan nya . Dari pada berhenti dari balapan motor , karena apa yang dilakukan oleh kedua orang tua nya bila mengetahui bahwa Fia masih balapan motor mereka tidak akan main-main dengan tindakan apa yang membuat motor nya Fia menjadi uang tunai alias dijual .
Pasalnya Fia pernah kecelakaan bersama Adit saat mengendarai motor sport kesayangan nya dan membuat Fia koma dan Adit luka-luka selama dua bulan . Namun dengan Fia menyakinkan bahwa dia tidak akan melakukan hal yang sama . Maka dari itu mereka masih mengijinkan untuk Fia menggunakan motor sport nya .
Hal itu yang membuat Fia menuruti apa yang telah Fajar ajukan agar kejadian dirinya masuk Polsek gara-gara balapan liar . Kejadian itu pasti akan membuat kedua orang tua nya pasti cemas dan melarang nya menggunakan motor sport nya .
"Oia ngapain gw ngoceh sendiri . Kan gw mo nemuin pak Fajar . Hadeh Fia kok jadi pikun ."ucap Fia .
Kreeekkk
Suara jendela kamarnya Fajar terdengar .
"Iiisssshhhh . Untung aja nih kamar kaca semua ."
__ADS_1
"YA AMPUN PAK FAJAR ."teriak Fia saat melihat Fajar tergeletak didepan pintu kamar nya sambil memeluk bingkai foto .
"Pih itu Fia kenapa teriak ? Jangan-jangan ada apa-apa lagi sama anak kita pih ?"ucap Sri yang bertanya kepada Herman .
Herman pun berinisiatif membawa pergi istri nya . Dia tahu bahwa istri itu orang yang panikan dan rempong . Dia gak mau Sri mengganggu aktivitas Fia yang ingin membuat Fajar keluar dari dalam kamarnya . Lagi pula Herman tersadar akan sosok Rio cucu nya . Apa jadi nya jika cucu nya melihat hal yang belum selayak nya dia liat pikir Herman .
Herman pun percaya pada Fia . Dia yakin bahwa Fia bisa mengatasi soal Fajar tanpa bantuan siapapun .
Langkah kaki yang Fia langkahkan kini berhenti tepat di depan tubuhnya Fajar .
"Astaga pak . Kenapa bisa begini ?"tanya Fia mantap Fajar secara mendetail .
Tangan yang penuh darah kering . Serpihan kaca dari meja rias yang sudah berserakan . Kantung mata yang sudah menghitam di bawah mata nya . Baju yang dikenakan terakhir kali bertemu dengan Fia di rumahnya saat menjelang hari pernikahan nya .
"Pak badan bapak kenapa dingin begini ?"tanya Fia .
"Fia aku cinta kamu . Saking cintanya kini aku berhalusinasi liat kamu ada disini."ucap Fajar pelan dan tiba-tiba tubuhnya terjatuh ke samping kanan dengan posisi kaki lurus ke depan dalam posisi duduk dan memeluk bingkai . Kini tertahan oleh tubuh Fia .
Fia berusaha mengangkat tubuh Fajar untuk tidur di atas kasur nya yang berantakan . Spre yang sudah setengah terlepas dari selipan kasur begitu pula dengan selimut yang sudah setengah terjatuh ke lantai .
"Gila berat banget badan nya . Buset gini aja gw ampe laper . Wets dah gw kan ke sini mo ketemu pak Fajar ngapa jadi ribut laper gw ? ."ucap Fia sambil memegang kening nya Fajar .
"Ya ampun dingin banget nih orang ."ucap nya lagi .
Setelah badan nya Fajar diletakkan di atas kasur . Fia melihat kamarnya Fajar dengan seksama .
Kamar tidur dengan ukuran yang cukup besar . Ternyata terdapat kulkas serta perabotan kebutuhan yang lain nya .
"Gila nih kamar apa rumah kost-kostan ? Pake ada dapur nya segala . Pantesan aja beling berserakan piring sama mangkok dia pecahin segala . Laen dah ya orang kaya sih . Jadi piring pecah gak masalah . Coba gw kaya gini di rumah bisa di potong uang bulanan gw sama mama cuma gara-gara mecahin gelas satu aja mama udah nyerocos kaya kereta yang gak ada stasiun nya ."oceh Fia sendiri .
"Hadeh si Oneng ngapa gw jadi ngoceh sendiri . Mending gw obatin luka pak Fajar deh ."
Setelah mencari-cari kotak p3k kini luka yang terdapat di tubuhnya Fajar sudah di obati oleh nya . Aksi selanjutnya Fia adalah memasak bubur dengan bahan-bahan yang terdapat di dalam rak dekat kulkas kamar nya Fajar . Fia pun mendapatkan resep nya dari google agar bisa membuat bubur yang layak di makan .
Bubur yang sudah ia masak pun dia coba .
__ADS_1
"Uuueeeeekk ... Gila asin coy . Udah lah ya gak pa-pa kali . Kan buat orang sakit . Kata orang kan kalo orang sakit gak bisa ngerasain rasa makanan ."ucap Fia .
"Pak ... Pak ... Pak ... Bangun pak ...."ucap Fia sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya Fajar itu sebagai cara membangunkan nya .
"Fia ."sahut Fajar dengan pelan saat membuka mata nya melihat sosok wanita yang dia cintai terasa didalam mimpi .
"Makan dulu pak . Aku udah buat bubur cobain deh ini pertama kali nya aku buat . Kan bapak juga kaya nya belum makan apa-apa kan ."oceh Fia . Tanpa jawaban dari Fajar .
"Aku suapin ya pak ."ucap Fia menyodorkan sendok yang terisi bubur buatan nya .
Air mata yang terjatuh begitu saja dari mata nya Fajar membuat dia berkata didalam hati nya .
'jika harus sakit terlebih dahulu bisa membuat kamu berada di sisiku Fia . Aku rela sakit selama nya hanya untuk bisa membuat kamu disisi ku seperti ini .'
Dengan telaten Fia menyuapkan bubur ke mulutnya Fajar . Dimana kala bubur nya belepotan disamping bibir nya tak sungkan Fia mengelap dengan kedua tangannya .
"Kok pak Fajar nangis sih ? Kenapa bubur nya gak enak ya ? Keasinan sih tadi aku coba . Kalo gitu jangan dimakan lagi deh pak ."ucap Fia .
Tangan Fajar pun mencegah Fia untuk tidak menghentikan aksi menyuapkan bubur yang dibuat oleh wanita yang dia cintai .
"Enak kok ."ucap Fajar pelan .
Jawaban dari Fajar membuat pipi Fia memerah seketika . Tanpa disadari Fajar ingin mencium pipi nya Fia yang memerah sangat menggemaskan bagi Fajar .
"Ssshhhhh..."rintihan Fajar saat mengangkat tubuh nya .
"Ye ngapain sih pak pake bangun segala . Udah tiduran aja . Tubuh bapak tuh masih lemes . Gak ada tenaga . Oia pak kunci kamar nya mana aku mau pulang sekalian mau ngasih tau ke mamih sama papih soal kondisi bapak ."
"Please Stay here with me for the last."ucapnya dengan lirih .
"Apa-apaan sih pak jangan ngaco ngomong nya kaya kesan nya mo mati aja ."kesal Fia .
"Emang rela gitu ninggalin aku . Terus aku sama cowok lain ?"ucap Fia lagi ke Fajar .
Hanya gelengan kepala yang Fajar lakukan sebagai jawaban nya .
__ADS_1