
Fia memasuki kamar tidur milik pribadinya sendiri dengan wajah yang sedikit memerah disaat ia membaca isi pesan dari Fajar. Kejadian beberapa hari yang lalu membuat Fia tidak bisa bertemu dengan Fajar dalam waktu dekat ini hampir seminggu iya malu untuk bertemu dengan Fajar.
"Kenapa sih waktu itu gue ngelakuin itu? Kan bikin gue canggung gini. Lo juga bukan nya ngelupain kejadian itu malah ngeledekin gue. Dasar cowok yang kelamaan ngeduda. Sebel, sebel, sebel."ucap Fia yang menyupah serapah saat membuka pesan WhatsApp yang dikirim oleh Fajar tanpa dibalas.
Bukan sekali dua kali Fajar meledek dan mengingatkan Fia kejadian yang mereka lakukan disaat pertemuan terakhir mereka. Padahal bukan hal yang negatif itu semua terjadi karena situasi keadaan yang membuat diri lupa akan efek selanjutnya.
Fia masih duduk ditepi kasur dan menanggalkan kepalanya ditepi jendela dekat kasur berspreikan motif bunga tulip.
Flash back
Tak lama kemudian Fia pun langsung mencium dan berusaha menirukan cara berciuman yang selama ini Fajar lakukan kepadanya. Fajar tak berkedip sedikit pun saat merasakan ada lidah yang masuk kedalam mulutnya sendiri. Seakan mengajak lidahnya Fajar untuk saling bertautan dengan lidah miliknya Fia.
Fajar pun menikmati kejadian saat itu. Namun sayangnya itu tidak berlangsung lama, dia pun menyadari bahwa Fia sudah ingin melepaskan diri dari tubuhnya Fajar. Tak melepaskan kesempatan yang ada, Fajar pun mengambil alih. Hampir dua puluh menit lidah mereka saling bertautan dan tidak sedikit Fia merasakan perih dibibir nya karena sesekali ia merasa bahwa Fajar menggigit pelan bibir mungilnya.
Fajar yang sudah terbawa arus kenikmatan dia menciumi lehernya Fia. Tak sesekali ia mengendus bagian bawah telinganya Fia. Disaat itu Fia merasakan geli yang luar biasa. Reaksi Fia yang terlihat jelas membuat Fajar semakin bersemangat untuk membuat Fia merasakan geli. Tanpa disadari Fia tiba-tiba berteriak.
"Aaaaaaauuuuuu."
"Ssssshhhhhhh. Sakit tau jidat aku maen disentil gitu." protes Fia.
"Kamu tuh ya, enggak boleh begitu lagi kalo belum kita nikah!" tegas Fajar.
"Ih, ribet deh. Kamu aja tadi nikmatin kok. Lagian kamu tuh orang lagi enak-enak nya kamu malah buat rusuh." kekecewaan yang mendalam di hatinya Fia karena tiba-tiba merasa dirinya terkesan jadi wanita penggoda iman laki-laki. Padahal ia hanya ingin menunjukkan kepada Fajar bahwa perasaannya benar tulus adanya saat itu.
Hati siapa yang tidak kecewa saat dirinya sedang menunjukkan rasa sayang kepada kekasihnya dengan lembut dan sungguh-sungguh harus terhentikan karena kekasihnya sendiri yang menghentikannya. Seperti itulah perasaan Fia saat itu kecewa berat pasti, ciuman yang berakhir dileher serta endusan napas miliknya terhenti oleh Fajar. Bukan mendapatkan tindakan selanjutnya malah mendapatkan sentilan di jidatnya, disaat ingin melanjutkan ketahap berikutnya.
"Enak-enak nya? Kamu tau enaknya dari mana, Hah?" tanya Fajar.
"Tau lah, kan aku juga bukan anak kecil yang belum cukup umur BA PAK FA JAR."
"Iya tapi..."
"Enggak ada tapi tapi, aku juga mo ngerasain enaknya surga dunia dong sayang." rayu Fia yang duduk diatas tubuhnya Fajar yang masih terlentang di sofa bertujuan menggoda agar tidak terlalu canggung kondisinya.
Kedua tangannyangan Fia pun sudah menjalar ke dadanya Fajar tanpa direncanakan.
"WOW."
"Kenapa, ada apa?" tanya Fajar yang kaget saat Fia berteriak wow dengan keras.
"Reaksi, dudanya aku cepat banget ya kayak bajaj lagi ngetrek." ucap Fia sambil menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhnya Fajar.
"Maksudnya?" tanya Fajar yang tidak mengerti.
Fia hanya menyentuh pangkal pahanya Fajar.
Bug.
"Aish." keluh Fia sambil mengusap bokongnya yang sakit karena terjatuh di lantai.
"Bisa gak sih jangan kasar sama aku? baru ke sentuh dada sama paha kamu aja udah dorong aku kelantai. Gimana tangan aku masuk ke dalam celana ya ditendang kali aku sampe mental ke planet Saturnus." cerocos Fia.
Dengan sigap Fajar langsung berdiri tegak.
"Sayangnya akoh, enggak mo nih bantuin aku bangun?" ucap Fia dengan nada manja serta bergeliat seperti orang yang sedang menggoda.
__ADS_1
"CUKUP FI." tegas Fajar dengan nada tinggi untuk menghentikan aksinya Fia.
"Ya udah enggak usah bentak-bentak deh. Kalo mang gak suka ya bilang aja. Kalo gak mo bantuin aku bangun gak pa pa. Jangan sok sok-sok-an gak mo di sentuh deh. Jual mahal banget sih. Santuy aja bapaknya, masih banyak laki-laki diluar sana yang bisa aku godain. Mang laki cuman situ aja." ucap Fia yang kesal dan kecewa.
Dirinya mencoba untuk jadi lebih dewasa di dalam hubungannya. Malah tidak dihargai, susah payah mencari alasan kenapa Fajar ingin menikahinya dengan cepat cuma ada dua alasan menurutnya antara tidak bisa menahan nafsu atau ingin memboikot Fia adalah miliknya seorang. Tapi menurut Fia itu sama saja, sama-sama ingin memiliki dirinya.
Dalam pikirannya Fia, melakukan hubungan intim bukan jadi masalah besar baginya. Asalkan menggunakan metode yang aman dan jangan kebablasan. Menurut Fia, banyak kok cewek seusia nya sudah melakukan hal yang lebih dari kata intim. Itu bagaikan hal yang lumrah dialami oleh banyak orang saat ini. Bagi Fia asalkan tidak menikah dini, dirinya rela melepaskan dirinya dalam pelukannya Fajar seperti anak-anak sekarang.
"KAMU MO KEMANA?" cegah Fajar yang emosionalnya sudah tidak terkendali lagi.
Kaget pasti, kenapa bisa cewek yang disukai dan dia sayangi bertindak seperti bukan dirinya yang seperti biasanya.
"Auuuu. Sakit." rintih Fia yang merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat genggaman Fajar yang kuat.
"JAWAB MO KEMANA KAMU?"
"Nyari laki lah, yang bisa ngertiin maunya aku dan muasin pastinya." ucap Fia berbisik di telinganya Fajar.
"Aku jauh bisa ngertiin maunya kamu. Lebih dari yang kamu pikir sayang. Bahkan memberikan apapun yang kamu mau plus menghasilkan." balas Fajar yang berbisik di telinganya Fia sambil mengelus perutnya Fia.
"Ih kok menghasilkan? yang lain aja bisa kok gak menghasilkan." ucap Fia yang tidak terima dengan ucapannya Fajar.
"Itu kan orang lain, kalo aku mo nya sekalian menghasilkan. Lebih seru. Gimana kamu mo pake cara apa? Ala guru sama murid apa ala bapak sama anak?" ucap Fajar yang menggoda balik Fia. Raut wajah Fia pun memerah dan tubuhnya membeku.
"Jangan lupa ya sayang, kamu belum pernah melakukannya. Sekali kamu coba sama aku, hemmmm di jamin kamu kamu bisa punya team kesebelasan sepak bola." ledek Fajar.
"Apaan sih." elak Fia sambil mendorong Fajar.
"Ye tadi ngerayu aku. Sekarang giliran aku udah siap ngasih nafkah batin buat tanda jadi kita. Kamu nolak, ya anggap aja sayang ini DP aku sebagai calon suami kamu. Tapi aku suka loh ternyata pacar aku ternyata bisa ngehot juga ya, jadi panas aku. Untung aja iman aku masih kuat kalo gak. Emmm abis kamu jalan nya ngesot yang selama seminggu."
"Kenapa sayang?"
"Ya enggak gitu. Tujuan aku kan biar kamu yakin kalo aku sayang sama kamu. Tapi aku masih belum mo nikah sama kamu dalam waktu dekat ini."
"Ya udah, aku ngerti kok. Kamu udah bilang sayang sama aku aja aku udah seneng banget." ucap Fajar sambil melingkarkan tangannya di perutnya Fia dari belakang.
"Tapi lain kali jangan ngelakuin hal seperti tadi lagi ya." ucap Fajar yang meminta.
"Kenapa? Bukannya sepasang kekasih kalo saling mencintai ngelakuin hal itu untuk membuktikan bahwa mereka saling mencintai."
"Bodoh, yang rugi malah kamu. Coba kamu pikir, mending amat kalo aku mo tanggung jawab sehabis ngelakuin hal itu sama kamu. Kalo aku cuma mo nikmatin tubuh kamu aja gimana? Yang rugi nantinya kamu."
"Kok aku yang rugi?"
"Ya rugi kamu jadi enggak perawan lagi, kalau nanti calon suami kamu terima kamu yang sudah tidak perawan. Kalo enggak terima gimana?"
"Yah, Kan nanti aku kan nikahnya sama kamu. Jadi kamu harus terima akulah."
"Iya sayang aku mah pasti terima kamu. Seandainya itu terjadi dan aku gak tanggung jawab sama masa depan kamu gimana? Tiba-tiba aku suka sama murid aku yang lainnya gimana?"
"Ya kalo gitu aku jadi ngambil kuliah di Korea."
"Jangan macem-macem deh."
"Aku enggak macem-macem. Cuma satu macem, kamu kan mo ngerayu murid yang laen nantinya. Aku ke Korea mo nyari opa yang ganteng. Mumpung masih perawan jadi nilai jual ku masih diatas rata-rata."
__ADS_1
"Jangan ngaur kamu. Aku aja nahan-nahan biar gak kebablasan sama kamu. Aku yang jaga, orang lain yang nikmatin."
"Jadi gimana ini inti nya?"
"Intinya apa?"
"Tunggu aku lulus kuliah terus aku kerja ya baru deh kita nikah." pinta Fia.
"Lama, Fi."
"Please."
"Iya, oke. Tapi ada syaratnya."
"Syaratnya apa?"
"Jangan kuliah di diluar negeri."
"Oke."
"Jangan tepe-tepe sama mahasiswa kampus."
"Apaan tuh tepe-tepe?"
"Tebar pesona." ketus Fajar
"Siap komandan."
"Jangan cuman oke sama siap aja. Tapi mesti dilakuin."
"Yah ampun. Dengerin aku ya bapak Fajar, aku punya pacar guru, pengusaha, ganteng, tajir lagi. aku udah dapet paket lengkap. Ngapain juga masih nyari bocah bau kencur yang masih gak ada apa-apanya sama kamu. Apalagi kamu badannya okeh bikin aku eces. Rasanya tuh ya pengen buru-buru buat dihamilin kamu tau gak. Kamu bikin khilaf, pantesan dulu satu sekolah suka ngeliatin kamu."
"Hem baru sadar kalo aku ternyata punya daya tarik tersendiri?"
"Iya. Baru sadar pas ngeraba dada kamu terus ada signal yang tertera kalo kamu laki-laki tulen."
"Aish. Sapa yang bilang aku enggak tulen. Bodoh itu orang."
"Kok bodoh?"
"Iya bodoh. Orang aku suka sama kamu buktinya sampe ngebet pengen nikah."
"Apaan sih." cubitan pun meluncur di pinggangnya Fajar.
"Kok cubitan kmu gak berasa ya? Apa nih badan jadi kebal? Gara-gara pacar aku sekarang sudah berpikiran untuk ngelakuin hal diatas tujuh belas tahun keatas nih."
"Iiiiiihhhhh kok kamu ngeledek sih?"
"Yarin kan sama aku ini kamu begitunya. Ini juga bisa dibilang sebagai syarat untuk kamu."
"Maksudnya?"
"Hanya boleh bersentuhan fisik atau melakukan hal manja atau hal itu hanya sama aku bukan sama cowok lain. Ngerti."
"Iya ngerti. Aku juga takut kebablasan bahaya."
__ADS_1
Flash back end