guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Jadwal Periksa Kandungan


__ADS_3

Tiga hari sebelum nya Fajar sudah membooking dokter kandungan untuk mengecek kondisi kehamilan istrinya. Fia sengaja bangun pagi-pagi sekali agar bisa menyiapkan sarapan untuk Fajar dan juga dirinya tadi di dapur.


Baju dress yang baru saja dia beli dua hari yang lalu, khusus ibu hamil ukuran sedang Fia kenakan karena sangat nyaman dipakai menurut nya. Aktivitas pagi sudah Fia lakukan semuanya dengan rapih dan cepat bersama dengan asisten rumah tangga yang Fajar pekerjakan khusus untuk mengurangi kegiatan berat Fia.


Walaupun tahu kendala kegiatan terberat saat itu adalah membangunkan Fajar. Hanya Fia yang bisa melakukannya sendiri.


Semenjak suaminya kerja di rumah dan ke kantor hanya di saat Fia meminta saja, membuat suaminya sibuk tidak teratur.


Itu di sebabkan oleh Fajar yang ingin selalu mendahulukan kepentingan Fia di bandingkan urusan pekerjaan. Sebentar-sebentar dia menyuapi Fia, mengambilkan minum untuk Fia walaupun belum haus. Bahkan jalan pun di papah tidak sekali dua kali di gendong membuat Fia risih.


Dan kini Fia harus berjuang membangunkan Fajar. Hampir setengah jam Fajar tak bangun bahkan tidak geser sedikit pun dari kasur.


Bukan Fia nama nya kalau sampai menyerah. Tak lama kemudian Fajar bangun berkat usaha yang keras dari Fia.


Dari menarik selimut dan bikin ac makin dingin, narik bantal dan guling. Ngelitikin ke dua tapakan kakinya. Ngelitikin ketek nya, sampai ngelitikin perutnya tidak ada tanggapan apapun dari Fajar.


Jurus ninja Fia mencium bibir, pipi kanan, pipi kiri serta kening nya dan di tengkuk lehernya Fajar. Baru ada pergeseran dari posisi tidur nya Fajar.


''Dih, malah tidur lagi.'' Fia menggerutu.


''Lima menit lagi, ay.'' Fajar memohon agar bisa tidur sebentar lagi kepada Fia.


Menggenggam handphone miliknya Fia lakukan untuk berakting.


''Halo. Ya saya mo mengajukan reschedule...''


''Ngaco kamu.'' mata Fajar pun langsung seger mendengar istrinya ingin mengatur ulang jadwal pemeriksaan kandungan nya untuk pertama kali nya.


Fajar beranjak dari kasur secepat mungkin untuk mandi, setelah mematikan panggilan telepon milik istrinya. Sedangkan Fia tertawa melihat tingkah lakunya suami nya.


''Sapa suruh bikin janji pagi. Udah tau bangun pagi kamu susah.'' ucap Fia.


Setelah selesai sarapan pagi serang mual dadakan membuat isi makanan yang baru saja masuk keluar kembali.


''Ueeewwweeeekkkkk.''

__ADS_1


''Ueeewwweeeekkkkk.''


''Ueeewwweeeekkkkk.''


''Ueeewwweeeekkkkk.'' muntah Fajar berulang ulang kali.


Sarapan pagi hanya numpang lewat di tenggorokan Fajar dan sekarang berhenti di wastafel dekat dapur.


''Yah, kalo mang gak enak makanan nya bilang ay. Gak usah pake di muntah-in lagi.'' Fia kesal merasa tidak di hargai usahanya untuk jadi istri yang baik.


''Aku mual ay.'' keluh Fajar.


''Alesan.'' Fia yang tidak percaya.


Fia menyadari bahwa ucapan Fajar tidaklah kebohongan semata. Di karenakan wajah suaminya pucat dan keringat dingin sebutir jagung terpampang jelas.


Fajar merasakan tidak bisa menikmati makanan nya di karenakan mungkin ia sakit.


''Kamu baik-baik aja?'' tanya Fia untuk memastikan kondisi suaminya.


Hingga akhirnya Fia memutuskan untuk membawa Fajar berobat terlebih dahulu.


°°°°°


Di rumah sakit.


Fia turun dari mobil setelah Fajar turun terlebih dahulu sebelum dirinya.


''Pak Andre, saya sama pak Fajar ke dalam untuk control dulu. Kalo bapak mau cari makan cari aja.'' ucap Fia sambil memberikan uang dua lembar senilai seratus ribu rupiah per lembar nya.


Sampai nya di dalam Fajar melakukan pengecekan. Hasil pengecekan terhadap tubuh Fajar bukan hal yang mengkhawatirkan.


Menurut dokter hal yang di alami Fajar adalah hal yang biasa. Morning sickness memang bisa terjadi sama beberapa laki-laki di saat sang istri sedang hamil.


''Aku yang hamil. Kamu yang morning sickness, repot dah tar pake alibi ngidam deh. Kamu gak boleh gitu gak boleh gini.'' ucap Fia yang niatnya ngeledek Fajar saat menyusuri koridor menuju ruangan kandungan.

__ADS_1


''Kok gitu sih ngomong nya ay.'' ucap Fajar yang sedikit sedih dan ngena di hati nya.


Seratus persen dari ucapan Fia benar adanya, mengatas namakan ngidam akan Fajar lakukan untuk terus membuat Fia selalu ada di sisi nya.


Drrrrtttt drrrrtttt drrrrtttt drrrrtttt drrrrtttt.


Ponsel Fia pun bergetar. Layar kaca handphone nya berulang kali masuk pesan masuk.


''Sapa ay.'' tanya Fajar sambil curi-curi pandang ke layar kaca handphone nya Fia.


''Kepo.'' sahut Fia setelah melihat pesan spam dan meninggalkan Fajar di belakangnya.


''Ye ilah, pake di kata gue kepo lagi.'' oceh Fajar sendiri sambil kesal di tinggal istrinya.


Sambil melihat keadaan sekelilingnya Fia menyadari akan satu hal. Betapa romantisnya suami-suami yang menemani para istrinya untuk mengecek kondisi kehamilan nya.


Ada suami yang memegang minum saat minuman nya sedang di minum oleh istrinya. Ada juga suami yang menyuapi istri nya. Ada suami yang mengusap-usap perut istrinya sambil ngajak ngobrol anak yang ada di dalam kandungan nya.


Bermacam-macam perilaku khusus yang dilakukan oleh para suami untuk istrinya. Bisa di bilang wanita itu adalah ratu dan suami adalah jin. Apa yang di mau sang istri sang suami akan mengabulkan permintaan sang istri. Dan istri akan di layani oleh suami bagaikan ratu seutuhnya.


'Gini nih baru juga duduk. Bini gue udah larak-lirik laki orang aja ye kan. Dia gak liat apa laki yang dia liat bini nya ada di sebelah dengan perut yang isi nya anak.' batin Fajar yang tidak terima saat melihat Fia sedang melihat bapak-bapak di sekitarnya.


''Ay.'' panggil Fia.


''Em.'' sahut Fajar dengan kesal dan jengkel.


''Mereka so sweet banget ya. Istrinya di temenin suami nya buat cek up kandungan.'' puji Fia sama laki-laki yang menemani para istrinya tersebut.


'Ye apa kabarnya gue ay? gue juga so sweet kali.' batin Fajar meronta-ronta ingin teriak seperti itu.


Tiba-tiba ada seorang anak kecil yang lari ke salah satu pasangan suami istri yang usia kandungan nya lumayan sudah jalan tujuh atau delapan bulan sepengelihatan.


''Mamah. Dede nya ental kelual kan dali pelut mamah? Soalnya aku mo ajak maen.'' ucap anak kecil tersebut.


Ucapan anak kecil tersebut memberikan Fajar ide bagus dan cemerlang. Langkah pertama yang Fajar lakukan pasti ampuh membuat Fia terfokus satu hal. Tidak ada yang namanya melihat keadaan sekelilingnya dan bapak-bapak yang menemani istrinya konsultasi kandungan.

__ADS_1


''Aish. Bini nya ngoceh panjang kali lebar kali tinggi sama dengan luas. Enggak di respon malah senyum-senyum sendiri.'' ucap Fia yang sudah ngoceh panjang sama Fajar tak ada tanggapan sedikit pun. Malah senyum-senyum sendiri yang Fajar lakukan membuat Fia merasa di abaikan.


__ADS_2