
Setelah jam kelas di kampus Fia selesai dirinya memutuskan untuk langsung pulang ke rumah.
Di ruang kelas.
"Yel, gue langsung cabut ya." ujar Fia berpamitan.
"Buru-buru banget sih Lo. Mejeng bentar kali bisa." ucap Yeli mengajak Fia untuk nongkrong di cafe dekat kampus mereka.
"Ngantuk banget gue, molor siang-siang enak cuy." sahut Fia sambil melangkahkan kakinya untuk pulang.
Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.
Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.
"Pasti deh nelpon." sambil melihat panggilan masuk dilayar ponselnya tertulis nomor miliknya Fajar.
"Em." sahut Fia yang menjawab panggilan teleponnya Fajar.
"Kok em doang?" ucap Fajar.
"Ya aku mesti nyaut apaan?" ucap Fia yang udah tidak mengerti lagi maunya Fajar.
__ADS_1
"Ya apa kek gitu. Halo sayang. Kalo gak iya sayang kenapa kamu nelpon? kangen ya sama aku? Apa enggak kamu ngomong, ih kamu tau aja aku lagi kangen pengen ditelpon kamu. Pas banget kamu telpon jangan-jangan kita memang jodoh yang harus di segerakan. Gitu kek jawab telpon aku ay." pinta Fajar yang sedikit merajuk.
"Ya ampun, kamu lupa ya? apa ilang ingatan? dua jam yang lalu sebelum aku masuk kelas. Kan kamu udah nelpon aku. sebelum berangkat juga kamu nelpon aku. Ya kali setiap kali kamu nelpon aku mesti ngomong hal yang udah pasti kamu tau jawabannya." sahut Fia yang sedikit emosi.
"Kamu mah, ay. Gak bisa aja sedikit gombal manja gitu sama aku?" pinta Fajar.
"CUKUP ya pak. Aku enggak mo kita bahas soal ini terus. Kamu semenjak Adit dateng kamu jadi begini. Kan kamu tau dan liat sendiri Adit itu cuma mampir di rumah aku. Dia nolak buat tinggal atau nginep di rumah ku. Lagian juga aku sama dia gak ada rasa apa-apa. Udah deh capek tau aku dengerinnya. Kamu ngebahas masalah itu-itu aja. Sebelumnya Radi jadi bahan perbincangan kamu yang bikin kamu marah-marah gak jelas. Sekarang Adit kamu bahas. Capek tau gak kalo gini ceritanya kamu gak bisa sedikit aja ngilangin rasa curiga kamu sama laki-laki yang deket sama aku. Gak tau lagi aku gimana tahun depan kamu jadi suami aku. Kayaknya meski aku pikir ulang. Udah dulu aku mo pulang buat istirahat." segala uneg-uneg didalam hatinya Fia ungkapkan dengan baik-baik.
Fajar hanya diam kaget mendengar kata-kata Fia.
"Pak, bapak mo kemana? bentar lagi kita mau ada meeting soalnya projects baru kita." ucap Risa.
"Batalin meeting saya selama tiga hari kedepan." pinta Fajar yang sudah bergegas menuju rumah Fia.
"Fia, lain kali kalo mo berantem sama pacar kamu jangan di parkiran gak pantes di denger." ucap Wahyu yang langsung menghidupkan motor milik pribadinya dan pergi meninggalkan Fia.
"Ya pak." sahut Fia yang sedikit tidak ingin memperkeruh keadaan.
'Sumpah deh bete, padahal nih ya dia lebih dewasa umurnya dibanding gue. Udah punya anak pula, masih aja kayak anak ABG tujuh belas tahun berasa nya.' ucap Fia yang mengerutuki sifat Fajar yang semakin hari semakin bertambah posesif dan emosional semenjak Adit datang kembali kedalam hidupnya Fia.
Flash back.
__ADS_1
Ting tong ting tong.
Ting tong ting tong.
"Oh, ya ampun cucu Oma." sambut Lia yang sudah menganggap Rio sebagai cucunya sendiri.
"Oma Lio apeng mo emam elol cepelok uatan Oma." pinta Rio yang semangat langsung masuk kedalam rumah.
"Jar..."
"Ya mah, kenapa?" tanya Fajar yang bertanya-tanya ada hal apa yang mau di sampaikan oleh Lia mamanya Fia.
"Ada Adit dimari." ucap Lia.
"Adit?" tanya Fajar menyakinkan pendengaran nya.
"Iya Adit." Lia menegaskan.
"Terus, maksudnya mama ngomong gitu ke Fajar apa?" tanya Fajar yang seolah-olah tidak peduli.
Bukan Lia nama nya jika tidak bisa membaca raut wajah dan nada bicara Fajar yang berubah karena cemburu.
__ADS_1
"Mama harap, kamu jangan berbuat seperti yang sebelumnya. Adit udah mama anggep anak mama sendiri Jar. Beda sama kamu, kamu mantu mama yang mama idam-idamkan. Jangan kamu lakukan perbuatan yang membuat Adit pergi meninggalkan keluarga ini. Mama harap kamu bisa menganggap Adit sebagai adik kamu. Soal hubungan Adit dengan Fia, mereka hanya sebatas sahabat dari kecil enggak lebih dari itu. Perasaan yang Adit bilang cinta sama Fia itu hanya rasa kehilangan sosok sahabat. Tidak lebih dari rasa kehilangan. Mama yakin itu pasti." pinta Lia.
Fajar yang sudah mendapatkan peringatan dari calon ibu mertua. Merelakan apa yang akan terjadi kedepannya.