guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Pengganggu


__ADS_3

Suasana pagi yang mendung sangat mendukung rasa ke mageran untuk berkelanjutan. Aktivitas yang tepat dilakukan adalah tarik selimut dan melanjutkan mimpi indah merupakan tindakan yang sangat bagus dalam memulai hari ini.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


"Siapa sih yang ganggu." ucap Fia sambil mencari dimana letak handphonenya dengan posisi tubuh yang diselimuti oleh bedcover motif bunga tulip dan mata masih tertutup.


"Halo." sahut Fia yang sudah menemukan handphonenya.


"WOI, nyaut. Nelpon diem aje. Kalo gak mo ngomong WhatsApp aja cuy." ucap Fia.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


"Ets. Dah dia nelpon lagi." oceh Fia yang mengabaikan panggilan masuk ke handphonenya.


Tok tok tok tok tok.


Tok tok tok tok tok tok.


"FIA." teriak Radi didepan pintu kamar nya.


"Esstttt, Ngapa pada ganggu gue SIH." oceh Fia yang masih belum membuka matanya.


"Keluar Lo." ucap Radi.

__ADS_1


"Ya Tuhan jauhkan aku dari makhluk-makhluk yang menggangu ketenangan jiwa ku ini." ucap Fia yang menutupi kepalanya dengan bantal.


Tok tok tok tok tok tok tok tok.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok.


Tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok tok.


"Astaga, Lo ganggu gue banget sih." sahut Fia yang hendak turun dari kasur dengan berat hati.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


"Ini juga sapa sih yang nelpon. Di sahutin diem doang. Sekarang nelpon lagi. Kenapa banyak gangguan sih pagi-pagi gini." kesal Fia yang membaca nama yang terlihat jelas adalah nomor miliknya Fajar.


"Halo." sahut Fia yang menjawab panggilan telepon nya dengan ketus.


"Kamu ngapain aja sih Fi. Aku udah hampir empat puluh delapan kali ya nelponin kamu. Enggak ada satupun yang kamu angkat." cerocos Fajar yang sudah kalut dengan emosinya.


Tok tok tok tok tok tok.


"FIA." suara teriakan Radi terdengar lebih keras dari pada yang sebelumnya.


"Sapa tuh?" tanya Fajar yang mendengar suara teriakan laki-laki yang memanggil nama wanita yang ia cintai.


"Sapa lagi sih. Paling juga Radi."


"KAMU berhubungan sama dia?" tanya Fajar yang kaget.


Ini pertama kalinya dia mendengar Radi memanggil wanita miliknya yang sedang didalam kamar. Fajar hampir hapal betul keseharian bahkan aktivitas yang dilakukan oleh Fia sehari-harinya.

__ADS_1


"Apaan sih Lo. Berisik tau gak ketok ketok pintu kayak gitu. Mana pake teriak-teriak lagi bikin conge gue luber." kesel Fia.


"Masakin gue dong. Laper nih."


"Ya elah manja banget Lo. Delivery order aja sono."


"Jahat banget sih Lo. Gimana luka gue mo sembuh orang gue di suruh makan junk food mele." ucap radi. yang seolah-olah ngode soal tanggung jawab Fia terhadap dirinya.


"Ya elah bacot dah maren bilang masakan gue hambar kayak muka gue. Sekarang Lo ngemis ngemis kan minta gue masakin."


"Sapa juga yang ngemis ngemis. Kalo bukan karena nyokap Lo yang nyuruh gue buat stay disini terus Lo yang ngurusin gue. Gue udah cabut kali ke rumah cewek gue."


"Iya... iya gue masakin nasi goreng Lo turun dulu sono. Jangan kebanyakan bacot dah." usir Fia.


"Halo beb." lanjut Fia yang sudah mengabaikan Fajar sejenak.


"Mang ada apa kamu sama Radi?" tanya Fajar.


Penjelasan ringkas Fia tuai dalam percakapan ditelpon.


"APA? KAMU HAMPIR DIRAMPOK?" ucap Fajar untuk menegaskan ucapannya Fia.


"Ya udah sih biasa aja gak usah kaget gitu."


"Bener kan apa aku bilang. Aku kasih kamu bodyguard. Coba aja kamu nurut."


Perdebatan mereka berdua pun berlangsung lama. Sampai akhirnya Fia yang mengalah kali ini. Kekhawatiran Fajar membuat Fia tidak berkutik sedikit jika harus adu debat dengannya.


Lain sisi.

__ADS_1


"GILA nih orang GUE udah laper, Cacing-cacing di perut gue udah pada demo. Belum juga turun masakin gue. Cewek sarap telponan sama lakinya kayak keran bocor. Gak inget gue kali ya?" keluh Radi.


__ADS_2