
Sudah hampir lima kali Lia mencoba membangunkan Fia dan Fajar dari luar kamar. Tak ada sedikitpun sahutan ataupun tanggapan apakah ada orang di dalam atau tidak.
"Sampe udah waktu nya makan siang aja mereka belum bangun pah." keluh Lia.
"Namanya juga pengantin baru mah. Wajar aja lagi enak-enak nya. Jangan ganggu biar kita cepet dapet cucu." ujar Diki yang membayangi dirinya menggendong gendong bayi.
"Iya sih pah. Tapi kan mereka habis mejeng pah kemarin butuh energi. Mama takut aja mereka sakit karena kecapean kemarin ditambah gak sarapan tadi pagi." panik Lia.
Di sisi lain.
"Pak lepasin bentar aja. Aku mau pipis." pinta Fia yang sudah bangun dari tidurnya tapi tidak bisa beranjak dari kasur. Kedua tangan yang melingkar di tubuhnya Fia sangat erat memeluk.
"Aku anter ya." sahut Fajar.
"Astaga itu kamar mandi di depan mata pak. Bukan di kampus aku mo pipis nya. Ngapain di anter segala?" ucap Fia yang sedikit kesal.
"Enggak bisa. Sesuai perjanjian kita aku boleh nyentuh kamu saat aku udah membuktikan bahwa masalah yang kemarin aku gak salah." ucap Fajar yang menenggelamkan wajahnya di ketiak Fia.
"Aku udah kebelet ini. Biarin aja aku kencing di sini nih." ancam Fia.
"Ya udah kencing aja. Tar kan kita gak pake kasur ini lagi karena kita hari ini pindah rumah." ucap Fajar yang semakin erat memeluk tubuh Fia.
"Enak aja. Kamar aku ini kalo sampe aku ngompol di sini. Kamu wajib gantiin kasur yang baru."
"Iya aku beliin yang baru." singkat Fajar yang sudah bisa sama yang namanya ompol karena anaknya Rio sering ngompol saat tidur bersamanya.
"Ya udah siap-siap aku mau ngompol yang spesial pake darah."
"Kok pake darah?" tanya Fajar dengan heran dan mata nya segar.
"Kan aku lagi haid." singkat Fia menjawab.
"Ya udah deh sana kamu pipis. Aku gak mo tidur kena darah haid. Kalo ompol ompol aja mah aku masih bisa terima." ujar Fajar.
"Tadi aja nyuruh aku pipis di sini. Sekarang di toilet mo nya apa coba? dasar plin-plan." ucap Fia yang bangkit dari tempat tidur nya.
"AKU MAU PUNYA ANAK BANYAK FI. CUMA KAMU YANG AKU MAU NGELUARIN ANAK BUAT AKU. DAN AKU ENGGAK PERNAH PLIN-PLAN DALAM PERASAAN AKU SAMA KAMU SAYANG." teriak Fajar saat Fia sudah di dalam kamar mandi kamar nya.
__ADS_1
"Dan yang pasti kamu siap-siap aja Fi. Aku buat kamu jadi milik aku seorang dan tidak akan pernah ada waktu kamu untuk berkomunikasi dengan cowok lain." ucap Fajar sendirian.
Fia yang di dalam kamar mandi mendengar ucapan Fajar yang dia katakan dengan lantang.
"Iya sih dia gak pernah plin-plan kalo soal gue. Baru juga gue suruh dia buktiin soal Vina seminggu. Eh gak nyampe sehari dia udah dapetin rekaman video yang full nya."
Flash back.
Hati Fia hancur lebur melihat video yang baru saja ia terima saat ia mandi. Video yang terlihat jelas Fajar menikmati ciuman manis bersama Vina. Durasi yang hampir tiga puluh menit menunjukkan bahwa Fajar bergairah berciuman dengan Vina.
"Aku mohon Fi. Jangan ngomong gitu ke aku." ucap Fajar.
"Aku udah gak tahan lagi. Aku mau kita cerai." tekad Fia yang sudah matang.
"Apapun aku kasih buat kamu asalkan jangan kamu minta cerai Fi." ucap Fajar sambil memohon dan berlutut dihadapan Fia.
"Oke kalo gitu jangan pernah kamu nyentuh tubuh aku. Bahkan seujung kuku pun aku enggak sudih di sentuh sama kamu." ucap Fia melakukan negosiasi.
"Gak bisa Fi. Kamu istriku sudah sepantasnya aku nyentuh bahkan ngasih kamu nafkah batin Fia."
"Aku gak mo di sentuh sama cowok kayak kamu. Kalo kamu gak setuju, gampang kok. Kita cerai."
"Coba aja buktikan jangan asal ngomong. Kucing di kasih ikan pasti di makan."
"Aku enggak seperti yang kamu pikir Fia. Liat aja kalo sampe aku bisa buktiin ini video gak seperti yang kamu pikir. Kamu harus terima aku menyentuh bahkan aku mau kamu hamil cepat dan tidak ada ucapan kata cerai lagi yang keluar dari mulut kamu. Gimana?" tawar Fajar.
"Okeh aku kasih waktu satu minggu. Kalo seminggu kamu gak bisa nge-buktiin ke aku dan nge-yakinin aku siap-siap tanda tangan surat perceraian kita." ucap Fia.
Fia pun memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran nya.
Berbeda dengan Fajar yang sibuk menelepon Kelvin yang merupakan orang kepercayaannya alias tangan kanannya.
"Baik pak. Saya akan kerjakan segera." sahut Kelvin.
"Hadeuh Fia Fia kamu abis debat sama aku udah bikin aku kena serangan jantung gara-gara kamu ngomong cerei. Bisa-bisa nya kamu tidur pulas lagi gak pake sepuluh menit." ucap Fajar yang melihat Fia tertidur nyenyak.
"Fia Fia. Asal kamu tau ya. Cuma kamu satu-satunya perempuan yang bisa mainin perasaan aku. Baru juga aku bahagia kita udah nikah. Kamu tiba-tiba bikin aku sakit mo mati karena serangan jantung. Kamu bikin aku nangis sambil berlutut dihadapan kamu doang Fi selama aku hidup gak pernah aku dibuat begini sama perempuan lain. Rasa sayang aku ke kamu jauh lebih besar dibanding harga diri aku sebagai laki-laki Fi. Aku akan buat kamu percaya bahwa cuma kamu yang sudah bikin aku buta karena cinta ku ke kamu. Aku sayang banget Fi sama kamu." ucap Fajar sambil membelai lembut wajah Fia.
__ADS_1
Tak lama kemudian pesanan masuk ke dalam ponselnya Fajar yang tidak lain kiriman data lewat email berkas Vina selama menemuinya di kantor, kafe bahkan saat Vina mengajak Fajar bertemu di hotel. Pekerjaan cari mencari sesuatu bukan hal yang sulit untuk Kelvin masalah seperti ini terselesaikan dalam waktu cepat.
Dengan cepat Fajar membangunkan Fia. Guncangan hebat dia rasakan.
"Ini sayang bukti aku kalo aku gak pernah berhubungan sama wanita selain kamu." ucap Fajar saat Fia membuka matanya dan dengan cepat Fajar mencium bibir Fia tanpa harus mendengarkan apa yang akan Fia ucapkan.
Flash back end.
"Mah ... pah." sapa Fia saat jalan ke ruang nonton televisi.
"Akhirnya kamu bangun juga. Mana Fajar?" ucap Lia.
"Lagi mandi mah."
"Gimana Fi?" tanya Diki yang penasaran dengan aktifitas anak perempuannya itu.
"Gimana apa nya pah?" tanya Fia balik karena tidak mengerti apa yang di pertanyakan oleh Diki sang papa.
"Malam pertama nya dong Fi. Berapa ronde?" ucap Diki.
"Papah jangan ngomong begitu sama Fia." ucap Lia.
"Udah Fi kamu jangan ladenin papa kamu. Mending kamu siapin makanan untuk Fajar sekalian kamu makan. Dih sana. Pasti Fajar lapar." ucap Lia.
Fia mendengarkan apa yang di suruh Lia sang mama. Beberapa cemilan serta nasi sayur dan lauk pun Fia siapkan di nampan.
Cklek.
"AAaaaaaaaahhhhh." teriak Fia.
"Apa-apaan sih Fi. Pake teriak-teriak segala." santai Fajar mengucap.
"Kamu yang apa-apaan. Buruan pake celananya." ucap Fia yang memejamkan matanya dan menutup pintu kamarnya.
"Ya ilah. Buka aja itu mata kamu. Lagian juga sapa suruh kamu masuk kamar gak ketok pintu dulu. Maen masuk masuk aja." ucap Fajar yang masih memasukkan kakinya ke celana setelah mandi.
"Ini kan kamar aku. Ngapain juga aku mesti ngetok-ngetok."
__ADS_1
"Ya udah aku kan juga suami kamu. Ngapain juga kamu tutup mata. Tinggal liat aja suami kamu telanjang. Ya itung-itung pemanasan mata kamu biar gak kaget nanti malam pertama kita lusa." sahut Fajar sambil tersenyum.
Muka Fia pun memanas saat mendengar Fajar berbicara barusan.