
Radi berjalan melewati koridor kampus yang sudah ramai dengan para mahasiswa dan mahasiswi yang sudah berdatangan. Radi jalan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah yang ingin ya tuju yaitu kelasnya. Rangga dan Rohman adalah kedua sahabatnya Radi di kampus dan sedang menatap Radi yang jalan tanpa melihat sekitarnya bahkan Radi pun tidak melihat sosok kedua sahabatnya itu di sampingnya persis.
Suara bunyi telepon dari ponsel Radi menghentikan langkahnya, Radi mengambil ponsel itu. Radi melihat nama yang tertera di ponsel adalah panggilan dari sahabatnya yaitu Rangga, meneguk ludah nya seketika. Mencoba menarik nafas untuk menenangkan diri.
"Halo ngapa lu nelpon gue." tanya Radi yang sedikit menggunakan amarahnya saat menjawab panggilan telepon nya.
"Ya elah santai bro gue cuma mo nanya lu tadi nggak ngeliat gue sama ma roman di aula samping lu, jalan-jalan bae kayak enggak punya sahabat lu. Mata lu lagi di mana dibungkus pakai kaos kaki? Kita berdua udah segede gaban gini masih Lo gak liat. Hahaha." ucap Rangga sambil ketawa Dan disambut tawa pula dengan Rohman.
"Sorry... Sorry gue enggak lihat orang gue buru-buru." sahut Radi.
"Ya elah buru-buru banget orang kelas kita dibatalin kok, enggak usah buru-buru bro sini aja. Ngumpul sama kita berdua aja. Lo ke kantin, ayo gua traktir dah tapi aer putih aja sama gorengan hehehe." ucap Rohman yang menarik ponselnya Rangga untuk mengajak Radi nongkrong bareng.
"Kok bisa? gila Lo ya berdua bukannya ngabarin gue dari tadi. Ngapain gue buru-buru kalau begini ceritanya. Dasar kampret Lo berdua setan. Ledig lah." ucap Radi yang emosi kepada sahabatnya yang tidak memberikan informasi penting menurut nya.
"Mendadak bro informasi nya. Biasa bapak dosen kita yang paling ganteng itu mendadak katanya ada urusan keluarga ngerti kan ya jadi baru diumumin ya tadi pagi bro gue lupa kalo gue punya temen satu lagi hihihi." Rohman dengan gelak tawanya.
"Sekarang lu di mana? ketemu ama gue dikantin, gue tunggu lu di kantin aja. Gue lapar mau nenangin cacing-cacing diperut yang udah pada demo nih." ucap Radi yang memintakan dua sahabatnya nya untuk ketemu dengan nya.
"Tumben, biasanya lu udah sarapan." ucap Rangga yang menarik ponselnya kembali dari tangan Rohman.
Radi pun tak menghiraukan pertanyaan Rangga melainkan ia hanya mematikan telepon panggilan teleponnya.
°°°°°
Fia merutuki Radi hari ini setelah ia berjalan menuju kampusnya. Ia menoleh ke kanan kiri untuk mencari sahabatnya Yeli. Namun apa daya dia lupa bahwa Yeli hari ini sedang tidak bisa masuk dikarenakan sakit.
Emosinya yang meledak-ledak karena sikap Radi, yang tidak tau terimakasih dan tidak menghargai usahanya yang selama ini Fia lakukan untuk Radi selalu baik-baik saja saat mendapatkan luka karena menolongnya. Membuat dirinya menjadi tidak mood, padahal langit sangat cerah tampak indah dan mengiringi langkanya Fia. Tapi terasa ada awan mendung serta kilat diraut wajahnya.
Fia tidak bisa lama-lama di dalam kelas karena tidak ada sahabat yang bisa diajak berkomunikasi atau berbicara, bahkan untuk curhat. Fia kini, agak menjaga jarak dengan teman-temannya di kampus bahkan di kelasnya. Semua itu adalah permintaan dari Fajar.
Fajar melarang Fia untuk menjadi orang yang humble dan easy going kepada semua orang karena sikap yang seperti itu bisa mengundang rasa para lelaki untuk lebih ingin menjadi dekat dengannya. Bahkan bisa disalah artikan oleh mereka.
Di kantin.
Radi duduk di bangku yang paling belakang dengan wajah yang cenderung pucat Radi memandang ponselnya dengan tatapan sedih.
"Ya elah bro, duduk di bangku paling belakang muka Lo begitu. Muka lo kayak kucing lagi kecemplung di di comberan." ucap Rohman yang melihat sahabatnya tidak memiliki semangat untuk hidup.
"Gue bener-bener nggak bisa bro." sahut Radi kepada Rahman dan Rangga yang sudah muncul di depan mejanya dan duduk di depan hadapannya.
"Apaan sih Lo. Lo ngomongnya kayak gitu emang kenapa? enggak bisa apa Lo? Enggak bisa lo minta gue buat jadi pacar Lo? ya iyalah gue masih normal." ucap Rangga yang sedikit meledek Radi.
"Gue serius kampret. Ngapain juga gue suka sama Lo gue masih normal cuy." ucap Radi yang sedikit ilfeel mendengar ucapan Rangga yang meledek dirinya.
"Kalo gitu lo enggak bisa apa?" tanya Rohman yang sedikit penasaran.
Rangga mengerti apa yang dimaksud sama Radi karena Rangga adalah temannya dari SMA sampai kuliah saat ini. Rangga sangat mengerti dan paham dengan kelakuan serta sifat-sifat Radi. Bahkan setiap kejadian yang di alami oleh Radi pun Rangga tahu secara detail.
"Masih soal itu? ya udahlah di lupain aja ja masih banyak kok cewek-cewek lain masa lalu masih kepikiran Eva mulu." ucap Rangga mencoba membuat ragi sadar bahwa wanita tidak hanya satu mainkan banyak di dunia ini.
__ADS_1
"Lo ngomong enak. Eva itu bener-bener udah di hati gue apa itu bagaikan nafas gue. Eva itu segalanya bagi gue. Kalau bukan gara-gara gue nggak mungkin Eva ninggalin gue." ucap Radi sambil mengacak-acak rambutnya udah mengarang dan meneteskan air mata.
"Eva meninggal itu bukan karena Lo. Emang itu udah takdirnya, lo enggak bisa nyalahin diri lo terus menerus. Mo sampai kapan Lo begini. Udah hampir tiga tahun berlalu. Lo selalu begini udah hampir tiga tahun juga lo enggak bisa menghadapi kenyataan. Kalau emang Eva udah enggak ada, itu bukan karena salah Lo. Semua itu kecelakaan kalau semua kecelakaan bisa Lo bilang salah diri kita sendiri. Semua orang bisa gila, Kayak Lo gini." ucap Rangga menjelaskan.
"Gue gila. GILA karena gue udah menghilangkan nyawa orang yang gue sayang." ucap Radi sambil menjenggut rambut di kepalanya.
Flash back.
"Maaf tuan cari siapa ya?" ucap Eva yang menyambut pacarnya itu Radi yang sudah menjemput dirinya.
"Oalah cute nya pacar aku." sahut Radi yang terpesona dengan penampilan Eva va di malam perayaan anniversary nya satu tahun mereka berpacaran.
"Bisa aja lagi laki-laki satu ini. Bikin dedek pengen terbang deh." ucap Eva yang sebenarnya adalah adik kelasnya Radi beda satu tingkat dengannya saat di SMA.
"Aku beneran dah. Kamu tuh cantik banget aku bahagia dan aku beruntung bisa dapetin wanita secantik kamu." ucap Radi sambil memainkan rambutnya Eva yang panjang terurai.
"Sebentar, sebentar aku coba lihat dulu." ucap Eva sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Kamu cari apa beb?" tanya Radi yang melihat wanita yang ia cintai sedang mencari sesuatu di dalam tasnya dengan raut wajah serius.
"Waduh maaf ya pak. Enggak ada receh, habis aku masih anak sekolah uang jajan baru dikasih besok sama mama saya." Eva meledek Radi Radi pun hanya bisa ketawa mendengar ucapan Eva.
Menurut Radi, Eva itu adalah wanita yang sangat berharga baginya bisa membuat dia selalu tertawa dan tersenyum setiap saat bisa mengerti apa maunya Radi dan selalu paham kata-kata Yang tak pernah terucap dari mulut Radi Eva selalu mengerti dan paham.
"Kamu bisa aja sih sayang, aku makin suka deh sama kamu rasanya tuh ya aku pengen buru-buru nikahin kamu sehabis lulus sekolah nanti." ucap Radi sambil tersenyum dan memeluk tubuh Eva.
"Main nikah, nikah aja kalo ngomong. Maaf ya kakak Radi yang terhormat dedek Eva masih sekolah, kakak enak pas lulus. Aku masih kelas tiga, aku masih harus berjuang ujian lagian tuh ya aku masih ada cita-cita yang harus aku kejar." ucap Eva.
"Emang cita-cita kamu apa sih sayang? bukannya cita-cita kamu pengen jadi istrinya Radi." balas Radi sambil menggoda Eva.
"Itu hal yang paling mudah untuk dilakuin. Enggak perlu pakai cita-cita kalau itu mah kan udah pasti aku pasti jadi istri kamu kan. Pasti kamu maksa aku untuk nikah sama kamu nanti pas lulus sekolah ya kan?" ucap Eva sambil mengacungkan tangan kanannya ke pipi nya Radi.
"Iyalah kalau kamu nolak menjadi istri aku aku culik kamu kita nikah lari."
"Nikah lari. Kasihan dong penghulunya, pas ijab qobul dia ngejar ngejar kita. Kalau kita nikah kayak gitu para tamu gimana? Makan sambil lari gitu bawa-bawa piring?" sambil tertawa Eva membalas omongan Radi.
"Ya udah yuk buruan keburu malam nih nanti telat lagi kita nontonnya." ajak Radi yang sudah sakit perut mendengar kata-kata Eva.
Eva pun menaiki motor ninja kesayangan tadi yang berwarna kan hitam metalik.
Kecepatan motor pun standar yang biasa di lakukan saat berjalan dengan Eva. Tidak pernah ia gunakan kecepatan diatas rata-rata, walaupun motornya itu adalah motor yang bisa dikendarai dengan cepat.
Tapi ia tidak ingin membuat Eva ketakutan atau marah-marah apabila Radi mengendarai motor dengan ngebut-ngebutan di jalanan.
Perjalanan berlangsung cukup lama tempat nonton yang mereka kunjungi. Jauh dari tempat Eva tinggal.
Jalan yang awalnya cukup ramai padat merayap tiba-tiba menjadi sepi. Seakan jalanan milik mereka berdua Radi pun. Merasakan hal yang sama saat melihat kondisi jalan yang seperti tidak berpenghuni. Tempat di lampu merah di pertigaan setelah ia berhenti sejenak karena lampu lalu lintas menyala yang warna merah. Kini sudah berganti menjadi hijau dan hendak ia ingin melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba ada sebuah mobil besar yaitu truk gandeng yang melintas dari lawan arah.
Brak.
__ADS_1
Kecelakaan pun terjadi begitu saja motor ninja berwarna kan hitam metalik masuk ke kolong truk gandeng tersebut. Radi terpental ke jalan trotoar. Eva pun terpental jauh dari tubuh Radi melainkan ke kolong truk gandeng.
Radi serta Eva dilarikan ke rumah sakit terdekat oleh sopir truk gandeng tersebut. Luka serius yang ditubuh Eva dan di tubuh Radi membuat mereka tidak tidak sadarkan diri selama dua minggu alias koma.
Tak lama dari dua minggu telah berlalu. Radi pun sadar iya coba dia pun mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi pada dirinya hingga kini ia berada di rumah sakit. Ingatannya pun kembali iya kaget dia panik dan mencoba mencari sosok pacar nya yaitu Eva.
Radi pun bertanya kepada suster yang sudah ada di kamarnya sedang mencoba mengecek keadaannya yang baru sadar dari komanya.
"Sus pacar saya di mana?" tanya Radi.
"Oh wanita yang satu itu temen kamu alias pacar kamu ada di ruangan sebelah ia juga tidak sadarkan diri karena di saat kecelakaan ia muntah dan kini yang mengalami gagal otak dari awal di bawa ke rumah sakit ini." penjelasan suster terhadap radi.
Radi pun kaget mendengar penjelasan dari suster tersebut ia pun mencoba untuk bertemu dengan Eva. Ia berjalan menuju kamar dimana pacarnya terkapar dengan teruntai untai. Suster pun mencoba untuk menghalangi Radi. Tapi apa daya, bukan Radi namanya kalau ia menuruti apa dan apa kemauan orang lain. Hasratnya untuk menemui Eva sangatlah kuat.
"Radi kamu mau kemana?" tanya ayahnya Radi yang baru sampai ai di depan pintu kamarnya.
Radi pun tak menghiraukan ucapan ayahnya. Ia hanya fokus untuk bertemu dengan Eva. Tepat di kamar sebelah nya, ia melihat banyak suster dan dokter yang berbondong-bondong lari ke dalam kamar.
Apa yang terjadi dengan anak saya dok, sus?" ucap perempuan yang bukan lain adalah ibunya Eva yang udah Radi kenal selama satu tahun saat dia berpacaran dengan putrinya.
"Mah, pah. Mana Eva?" Radi yang bertanya kepada ibunya Eva yang sudah dipanggil dengan sebutan mama karena ibunya Eva menyuruh Radi memanggilnya dengan sebutan Mama seperti ibu kandungnya sendiri.
"Apa yang terjadi di dalam Mama juga nggak tahu. Tiba-tiba pas mama dateng, suster sama dokter sudah berbondong-bondong ke dalam Radi." jelas ibunya Eva dengan tangis yang tak terhentikan.
ceklek dokter dan para suster pun keluar dari ruang kamarnya Eva.
"Gimana kondisi anak saya dok?" tanya ibunya Eva.
"Mohon maaf Bu kami tidak bisa menyelamatkan nyawa Putri Ibu." balas dokter yang keluar dari kamar rawatnya Eva.
"Ini semua gara-gara Lo. Kalo Lo enggak ngajak adek gue pacaran jalan jauh-jauh. Enggak bakalan seperti ini coba. Kalo dia enggak ngedate sama lo dia tuh masih hidup. Dia nggak akan seperti ini." ucap Bimo kakaknya Eva.
"Maksud dokter apa? dia anak perempuan saya satu-satunya, yang aku miliki lakukan apa saja agar tetap idup anak saya dok." ucap ibunya Eva sambil memohon dan berdoa dan sujud di hadapan dokter yang menangani kondisi anaknya dari awal hingga kini dengan tangis.
"Kami udah berusaha untuk menyelamatkan nyawa Putri bu. Tapi apa daya kami hanya manusia Bu. Kondisi anak Ibu memang dari awal sudah memprihatinkan gagar otak di kepalanya. Serta pecahnya pembuluh darah di kepalanya membuat semuanya sistem saraf di kepala tidak berfungsi dengan baik.
"Kami turut berduka cita atas kepergian Putri Bu." ucap dokter kembali.
Hanya tangis yang bisa dilakukan oleh ibunya Eva Bimo dan juga Radi. Setelah kepergian dokter.
Radi pun lari ke dalam kamar Eva.
Radi mencoba untuk membangunkan Eva.
"Va bangun Va. Ini aku Radi. Ayo kita nonton bangun Va. Va bangun." ucap Radi sambil menangis dan menggoyang-goyangkan.
"Kalo kamu bangun aku janji. Aku nggak akan naik motor itu lagi. Aku akan bawa kamu pergi kemanapun pake mobil biar lebih aman. Kamu enggak akan tergeletak di kasur rumah sakit seperti ini lagi. Oi bangun Va bangun. Aku akan menuruti semua apapun perintah kamu. Aku janji." ucap Radi sambil terisak tangis yang tidak berhenti sedikit pun.
"Jauh-jauh dari adik gue jangan pernah Lo sentuh adek gue." ucap Bimo yang sudah emosi karena kehilangan sosok adiknya adik satu-satunya.
__ADS_1
Flash back end.