
Hampir empat bulan Dia dan Radi selalu bertemu dengan faktor yang tidak disengaja. Entah di kantin kampus, perpustakaan, bahkan diluar kampus pun akhir-akhir ini mereka berdua bertemu di berbagai tempat. Kafe langganan Fia pun ternyata adalah tempat dimana Radi bekerja sambilan sebagai penyanyi live kafe.
"Sumpah ya Fi, kayaknya Lo berdua jodoh dah." ucap Yeli yang menikmati alunan musik yang dimainkan oleh Radi di kafe tempat favorit Fia dan Adit dulu sampai saat ini masih Fia kunjungi.
"Jodoh? Sama dia? Amit-amit tujuh turunan, walaupun stock cowok di dunia ini abis. Gue lebih milih jadi perawan tua deh dari pada berjodoh sama cowok yang sok kegantengan itu." sambil mengetuk meja dan kepalanya tiga kali.
"Abis ya coba Lo perhatiin deh. Hampir setiap saat Lo berdua ketemu terus."
"Ya mana gue tau. Lagian ya dulu dia gak ada kok sumpah, gue udah dari dulu kesini dia gak pernah gue liat. Jadi jelas dong kalo dia ngikutin gue. Dia naksir sama gue, sampe ngintilin gue kemanapun gue pergi. Dia selalu pengen ngikut. Secara aura kecantikan gue udah tidak di ragukan lagi." ujar Fia sedikit percaya diri.
"Ye kepedean Lo." sahut Yeli.
"Lah mang nyata nya. Udah tujuh orang yang ngejar-ngejar gue plus nembak gue. Itu tandanya kalo gue kan mang cantik." ucap Fia sambil ketawa.
Drrrtttt drrrtttt drrrtttt drrrtttt.
Handphone miliknya Fia bergetar. Panggilan masuk dari orang tercintanya saat ini dia liat di layar ponselnya.
"Kamu dimana?" ucap Fajar ditelepon.
"Aku masih di kafe, sama Yeli temen ku. Kamu udah kelar?" sahut Fia sambil bertanya kepada Fajar tentang pekerjaannya.
"Udah kok, baru aja kelar. Sayang kangen." jawab Fajar dengan nada bicara yang manja.
__ADS_1
"Ya ampun baru juga pagi kita ketemu." sahut Fia.
"Ya tapi aku kangen. Bisa gak kamu gak usah kuliah. Kita nikah aja. Biar kamu bisa aku bawa ke kantor." ucap Fajar yang meminta.
"Lupakan, Perjanjian kita apa."
"Enem bulan lagi kok berasa lama banget ya." ucap Fajar yang hampir setiap hari dirinya menghitung hari, bulan dan tanggal untuk persiapan pernikahan yang sudah dijanjikan oleh Fia.
"Yang sabar dong."
Tok tok tok.
"Masuk." ucap Fajar yang mendengar suara ketukan pintu ruangannya.
"Ini pak teh hijau untuk kesehatan tubuh bapak." terdengar suara wanita yang sudah menyiapkan secangkir teh.
"Tapi kan saya gak minta dibuatin." sahut Fajar.
"Iya pak. Tapi saya kepikiran bapak kan pasti lelah abis meeting kecapean." ujar Risa sekertaris pribadinya Fajar.
"WAH, siapa tuh?" ucap Fia yang emosi mendengar percakapan mereka.
"Oh okeh. Silahkan kamu keluar saya lagi telponan." ucap Fajar yang mengusir Risa secara halus.
__ADS_1
"Sayang." lanjut Fajar yang ingin bermesraan dengan wanita pujaannya.
"So sweet banget sih tuh cewek. Sampe-sampe nyeduhin apa yang kamu butuh ya." rasa kesal melanda hati.
"Cieeeee cemburu nih kamu? Akhirnya tunangan aku bisa cemburu juga." ucap Fajar yang senang mendengar kata-kata Fia yang terdengar seperti sedang cemburu.
"Apaan sih? Orang aku biasa aja sih." sahut Fia.
"Masa cih? cemburu juga gak pa-pa kok. Aku malah seneng banget. Cemburu nya kamu membuat aku makin bahagia Fi. Apalagi pas kamu selalu nyium kerah kemeja kerja aku. Kamu selalu meninggalkan jejak lipstik. Aku seneng banget, terkesan kalo kamu beneran sayang sama aku." ucap Fajar.
Fia pun mengalihkan pembicaraan yang Fajar ucapkan tadi.
"Yang tadi siapa?" tanya Fia.
"Ngalihin pembicaraan nih?" sahut Fajar yang mengerti bahwa Fia orang yang susah banget ngungkapin perasaannya seperti orang yang malu-malu.
"Jawab aja kali."
"Tadi Risa sekertaris aku yang baru. Karena sekertaris lama aku gak suka." jawab Fajar dengan santai.
"Oh jadi yang ini kamu suka?" ucap Fia yang nadanya menggoda.
"Bukan suka dalam arti kata yang kamu pikir ya Fi. Cewek yang aku sukai cuma kamu seorang." ucap Fajar yang sebenarnya dia suka Risa karena menurut fajar Risa tidak akan menyukai Fajar atau mencintainya seperti Alena sekertaris pribadinya yang dulu. Wanita yang pernah dijodohkan oleh orang tuanya dikarenakan anak dari sahabat keluarga mereka. Menurut fajar, Risa hanya akan menganggap dirinya hanya sebagai seorang atasan tidak lebih dari itu.
__ADS_1