guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Perasaan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Malam ini langit terlihat sangat sunyi sepi tanpa adanya bintang satu pun yang terpancar menghiasi malam. Fajar yang sedang menikmati kesendirian langit malam di halaman rumahnya, berkali-kali ia menghelakan nafas lelah saat memikirkan hubungannya dengan Fia. Dia terus berpikir akan mau dibawa kemana hubungannya dengan Fia?


'Apa iya gue terlalu memaksakan keinginan gue untuk menikah dan menjadikan Fia untuk jadi istri gue tanya dalam keheningan malam.'


Ucapan kata Sri sang ibunda membuatnya terus berpikir dan terus bertanya apa yang harus dia lakukan untuk saat ini? Keinginan ibundanya sama seperti keinginannya, dan keinginan anaknya tapi sepertinya itu bukan keinginan dari orang yang ia cintai.


'Apa iya gue membuat keputusan ini terburu-buru tanpa memikirkan perasaan Fia yang masih muda, yang masih ingin menikmati masa mudanya sesuai dengan anak-anak seumurannya.'


'Apa Fia terpaksa untuk menerima hubungan ini atau gue hanya membuat suatu beban pikiran untuknya saat itu? Dia tidak ingin disalahkan jika aku mati saat itu? Ah bisa gila gue mikirin nikah doang. Gue kalo enggak mandang ingin nikah baik-baik. Gue perkosa Lo Fi berulang kali biar hamil, kalo hamil kan Lo mo enggak mo minta tanggung jawab sama gue.'oceh Fajar sambil melihat ke langit membayangkan wajah Fia.


Ponsel yang berada dalam kantong saku nya terus berdering dan membuyarkan Fajar dari lamunannya. Melihat nama yang tertera di dalam layar ponselnya panggilan masuk dari wanita pujaannya yang selama ini dia hindari.


"Mau ngapain dia nelpon? Kenapa harus sekarang sih Fi, enggak tahu apa kalau gue lagi mikirin diri Lo. Gue lagi menghindar dari lo. Gue takut mengganggu atau memaksakan kehendak gue lagi sama lo."kesal fajar yang tak mau angkat teleponnya dari Fia.


Aaaarrrrrrrggggghhhhhhh.

__ADS_1


Fajar lebih memilih mematikan ponselnya karena tidak ingin diganggu oleh Fia. Dia tak peduli jika Fia marah atau kesal padanya. Fajar ingin dirinya sendiri saat ini memikirkan apa yang yang harus dia lakukan agar hubungannya dengan Fia tidak ada unsur keterpaksaan dari kedua belah pihak.


Memaksakan keinginan dan hasratnya atau mengalah untuk memenuhi keinginan dan impian wanita yang dia cintai itu memerlukan hati yang lapang bagi Fajar. Harus rela jika dia memberikan kesempatan untuk Fia mewujudkan impiannya. Termasuk rela jika banyak laki-laki yang akan datang untuk menggodanya.


Jika memang rasa cinta Fajar membuat dirinya menjadi egois dan memaksakan keinginannya membuat Fia sakit hati atau membuat Fia terpaksa itu bukanlah hal yang diharapkan Fajar. Menurut Fajar pernikahan itu harus dilakukan dengan hati yang sama-sama saling mencintai dan saling menginginkan sagu sama lain. Jadi lebih baik mewujudkan impiannya Fia terlebih dahulu daripada membuat keputusan yang Fajar inginkan tapi akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan nantinya.


*****


Malam-malam pun Fia sudah sampai di depan rumah di mana Fajar sekarang tinggal. Bukan rumah tempat yang biasa iya kunjungi, tapi ini melainkan rumah yang tidak pernah dia tahu keberadaannya kemarin Fia sudah mencari informasi tentang di mana keberadaan Fajar saat ini.


"Anda siapa ya? malam-malam ke sini?" tegur sosok laki-laki yang menggunakan seragam security ber nametage kan Dadang.


"Oh maaf pak Apa benar ini rumahnya pak Fajar?" tanya Fia.


"Iya bener ini rumahnya tuan Fajar. Neng dari mana ya?" tanya bapak Dadang.

__ADS_1


"Saya murid less nya pak Fajar pak. Saya disuruh kesini sama beliau untuk less. Beliau tidak bisa rumah saya karena terlalu jauh dari rumahnya pak Fajar, Pak." ucap Fia yang sudah membuat alibi.


"Oalah muridnya pak Fajar. Silahkan masuk neng motornya parkir di pos saya aja. Tapi tumben banget ada murid less nya yang datang kemari. Biasanya mah ke rumahnya yang satunya." jelas Dadang.


"Maksudnya?" Fia yang enggak ngerti apa yang diucapkan oleh Dadang dan mengikutinya dari belakang setelah memarkirkan motornya.


"Iya ini rumahnya pak Fajar buat calon istrinya. Jadi beliau enggak pernah ada satu murid bahkan teman-teman kantornya yang main kesini. Tapi kok neng malah di suruh kesini? Apa batal kali ya pak Fajar nikah sama Bu Fia?"


"Bu Fia?" tanya Fia yang kaget namanya disebut.


"Iya Bu Fia, pak Fajar buat ini rumah buat calon istrinya yang namanya Fia Fia ntu neng. Halaman rumahnya aja pak Fajar yang minta harus ditanami bunga-bunga kesukaannya Bu Fia, sayangnya udah malem coba pagi kalo gak neng siang tadi kemari bisa liat bagus pake banget dah halaman belakang rumah."


"Pasti bagus lah pak, orang rumahnya aja ini gede banget pak." ucap Fia yang kagum melihat keindahan rumah yang menurutnya bagaikan istana.


"Nah udah sampe depan pintu masuk, Neng masuk aja ya sendiri kedalam sambil ditelpon pak Fajar nya, soalnya pembantu di sini pulang kalo sore batu balik lagi besok pagi. Saya juga mesti jaga gerbang, enggak apakan neng ditinggal sendiri." tanya Dadang.

__ADS_1


"Oiya pak tenang aja. Saya bisa telpon pak Fajar nya kok sambil menunggu." sahut Fia yang masih terkesima melihat seluruh ruangan yang ada didepan matanya.


__ADS_2