guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Rasa Bersalah


__ADS_3

Bolak-balik di depan pintu kamar Fia telah Fajar lakukan hampir setengah jam.


"Ya ampun Jar, masuk aja bangunin Fia nya. Paling dia tidur kamu kayak gak tau ada tuh anak kalo tidur kayak kebo." ucap Lia yang melintas depan Fajar dan dibalas senyum manis dari Fajar.


"Tumben yah mah, Fajar dateng biasanya dia langsung masuk ke kamarnya Fia terus dia jablakin tuh pintu. Kenapa sekarang dia mondar-mandir kayak gosokkan celeng ya mah?" tanya Diki.


"Hust... gosokkan celeng. Papa itu ya kalo nge-gunjing sedep bener ngalahin pembantu kompleks yang pada ngumpul pas tukang sayur mangkal." ucap Lia yang menanggapi ucapan suaminya.


"Ya kan mama tau sendiri Fajar gimana." balas Diki melanjutkan kepo-an nya.


"Bener juga sih pah. Ya palingan masalah pernikahan mereka biarin aja. Kan mereka sendiri yang mau urus kita semua tinggal terima beres yang penting mah minggu depan undangan pernikahan mereka jadi pah. Mama jadi gak sabar mau cepet-cepet nyebarin undangan pernikahan Fia anak kita."


"Cepet-cepet nyebarin undangan pernikahan Fia. Apa pengen cepet-cepet di dandanin ala pengantin pas acara Fia entar?" ucap Diki yang tau bahwa istrinya paling suka di dandanin ala pengantin pas acara pernikahan.


"Ih papa tau aja." sahut Lia yang malu-malu.


"Tapi enggak nyangka yah pah. Fajar itu prepare banget loh buat ngelamar Fia aja nih ya. Beh banyak banget yang dia udah siapin." ucap Lia kembali.


"Iya sih mah. Ya setidaknya anak kita mendapatkan pasangan yang mampu ngelindungi dan membahagiakannya. Papa juga gak nyangka loh kalo Fajar sampe udah prepare rumah buat mereka tinggal sehabis mereka nikah."


"Iya itu dia pah, bawa-bawa Fajar aja paket komplit."


"Susah mah kalo calon mantu kita itu pengusaha sukses." ucap Diki.


Cklek.


Suara pintu kamar Fia terbuka.


"Maafin aku Fi." ucap Fajar yang sudah berdiri dengan kaki kanan dan kaki kirinya di tekuk serta kedua tangannya menjewer kedua telinganya.


"Emmmm." Fia yang biasa saja merespon tindakan Fajar.

__ADS_1


"Kok emm doang sih ay." ucap Fajar sambil jalan lompat-lompatan.


"Ya aku mesti gimana? Joget joget gitu kamu bilang maaf ke aku? Apa aku harus nyalain petasan buat nyambut permintaan maaf kamu?" ucap Fia yang masih kesal.


"Lo gila kali. Udah tiga hari Lo baru minta maaf sama gue. Gak gampang ya gue maafin."


"Ya gak gitu sih tapi maafin aku please...." ucap Fajar yang memelas dan memasang wajah yang seolah-olah menggemaskan, padahal bagi Fia maag gak cocok dengan umurnya.


'Dikira lagi imut banget kali di gitu-gituin mukanya.' batin Fia.


"Ya aku maafin." singkat Fia yang niat ingin makan puding buatannya di kulkas dapur menjadi terabaikan karena rasa ngantuk nya lebih kuat dibandingkan dengan rasa laparnya.


"Kamu serius." ucap Fajar yang sudah berdiri dengan benar.


Memasuki kamar dan tergeletak diatas kasur adalah pilihan yang tepat bagi Fia dibandingkan harus meladeni ucapan Fajar. Bagi Fia jika dia menanggapi ucapan Fajar yang ada makin panjang perkara dan mengurangi jam tidurnya.


"Iiiiiihhhhh kok kamu malah tidur sih ay. Ayo kita ke wedding organizer buat ukur baju sama pilih-pilih baju yang kamu suka buat nanti kita nikah."


"Ya udah deh. Aku temenin kamu tidur ya." ijin Fajar.


"Em."


"Handphone kamu mana ay?" tanya Fajar yang sudah tiga hari kebelakang tidak memantau isi chattingan Fia.


"Itu di meja rias." sahut Fia.


Praaaakkk.


Jantung bagaikan jatuh dari ketinggian apartemen lantai lima puluh saat Fia mendengar dan melihat kondisi handphone nya berantakan bagaikan korban tabrak lari yang isi tubuhnya berserakan.


Fia pun paham pasti ada isi chattingan yang Fajar tidak suka. Ini bukan sekali dua kalinya handphone nya menjadi korban.

__ADS_1


Fia yang posisi awalnya tertidur hingga menjadi duduk hanya diam tak berkata apa-apa.


"Jadi kamu selingkuh Fi?" ucap Fajar dengan mata yang memerah tahan amarah.


"JAWAB FI!!!!" bentak Fajar.


Kegeraman Fia sudah memuncak.


"Jangan sembarang ya kamu kalo ngomong. Aku enggak selingkuh. Waktu aku buat selingkuh mana ada. Lagian nih ya kalo pun aku ada waktu, itu pun enggak bakalan aku pake buat selingkuh mending aku tidur di rumah." tegas Fia.


"Itu Radi chat kamu kayak begitu." ucap Fajar yang sedikit percaya kalau pun Fia senggang pun pasti memilih untuk tidur dari pada main bersama teman-temannya.


"Iya itu pas kemaren aku sedikit cerita soal kita debatin baju. Dia juga ngomong gitu langsung sama aku buat candaan." jelas Fia yang menurut dia Radi bercanda.


"Chat dari dia itu enggak ada yang bercanda Fi."


Fia pun berjalan menghampiri Fajar.


"Aku bukan orang bodoh pak Fajar. Hanya karena masalah kecil aku selingkuh. Aku tau kok Radi memang suka sama aku. Tapi aku enggak suka, kan aku juga udah jawab di isi chat aku ke dia terketik bahwa aku cuma nganggep dia temen enggak lebih."


"Aku enggak yakin dia terima ucapan kamu. Jadi kamu harus jauh-jauh dari Radi." ucap Fajar meminta.


"Terima atau enggak nya aku enggak peduli. Aku cuma enggak mau gara-gara hal ini aku yang tadi nya baik-baik aja hubungannya sama dia jadi retak aku enggak mau. Dan kalo kamu nyuruh aku jauh-jauh sama Radi. Itu juga gak bisa aku lakuin karena dia termasuk orang yang berjasa dalam hidup aku. Dia orang yang udah nolongin mama aku dengan nyawanya dia sendiri. Please sayang ku, cinta ku. Kita udah mo nikah sampe kapan kamu mo begini. Aku udah dikit lagi jadi milik kamu sepenuhnya sayang. Masa kamu masih cemburuan gak jelas." ucap Fia yang mencoba membuat nuansa hatinya Fajar menjadi baik lagi.


"Lagian kamu kan kesini mo minta maaf sama aku kan karena takut aku batalin pernikahan kita kan." ucap Fia yang sudah tahu apa maksudnya Fajar.


"Kok kamu tau sih ay. Eh bentar tapi kamu beneran kan gak ada rasa apa-apa sama sih Radi?" tanya Fajar yang sedikit penasaran.


"Ya ampun. Kalo aku ada rasa sama Radi ngapain aku meluk kamu kayak gini dari tadi. Udah ah aku ngantuk temenin aku tidur." ucap Fia sambil menggandeng tangan kirinya Fajar menuju kasur empuk miliknya.


"Aku peluk boleh ya ay." pinta Fajar yang selama ini menemani Fia tidur hanya bisa menggenggam tangan nya saja.

__ADS_1


"Enggak boleh. Nanti juga kalo udah nikah bisa kok meluk aku pas aku tidur." ucap Fia tegas dan tersenyum melihat Fajar yang raut wajahnya sedih karena di tolak Fia.


__ADS_2