guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Kejadian Buruk Bagi Fia


__ADS_3

Matahari menyinari seluruh ruang kamar tidur Fia. Menguletkan badan di atas kasur adalah hal yang wajib dilakukan saat bangun tidur untuk Fia. Menurut Fia kegiatan ngulet adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan.


Drrrtttt drrrtttt drrrtttt.


"Halo cinta ku, permaisuri ku. Baru bangun ya?" sapa Fajar lewat panggilan video call nya.


"Pagi pacar aku yang guanteng." sahut Fia sambil menguap.


"Aku kangen pengen ketemu." ucap Fajar.


"Sabar sayang baru juga dua hari kamu di Bali." ucap Fia mengingatkan bahwa Fajar sedang kondisi bekerja.


"BARU? Dua hari bagi kamu dua tahun bagi aku Fi." rajuk Fajar yang memang tidak bisa jauh dari Fia.


Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja dengan cepat.


Braaaaakkkk.


"Astaga pah." ucap Fia yang kaget.


"Kita kerumah sakit sekarang Fi." ucap Diki.


"Katanya mama mu kecelakaan tadi."

__ADS_1


Dengan sigap Fia memutuskan panggilan video call nya dengan Fajar untuk bisa bergegas menuju rumah sakit.


Cukup memakan waktu lama dikarenakan kondisi jalan yang tidak bersahabat apalagi kalau bukan macet dimana-mana.


"Dokter, di nomor berapa pasien atas nama ibu Lia di rawat?" ucap Diki setibanya di rumah sakit langsung menuju meja resepsionis.


"Mohon maaf pak. Tapi tidak ada pasien yang bernama Lia." jawab suster setelah mengetik nama di laptop yang berisikan nama-nama pasien yang baru masuk dan sudah keluar dari rumah sakit tersebut.


"Pah, papah salah denger kali bukan rumah sakit Budi asih. Kali aja Sari asih." ucap Fia mencoba menenangkan Diki papa nya.


"Coba papa telepon lagi."


"Halo mah. Mama ada di rumah sakit mana?" tanya Diki saat panggilan nya terangkat.


Fia dan Diki pun berjalan menuju kamar yang sudah diberitahu oleh Lia.


"Ya ampun sayang kamu gak pa-pa kan?" ucap Diki sambil memutar balikkan tubuhnya Lia.


"FIA, apa-apaan ini pake baju begini ke rumah sakit." ucap Lia tanpa menjawab pertanyaan Diki malah fokus melihat penampilannya Fia.


Tantop dan celana pendek bahan berwarna hitam lah yang dikenakan oleh Fia saat itu.


"Ya abis papa bilang mama kecelakaan. Fia mana sempet ganti baju. Kesini aja naek motor Fia yang bonceng papa. Khawatir sama mama." sahut Fia yang paniknya sudah hilang saat melihat mama nya dalam kondisi baik-baik saja.

__ADS_1


Lia menceritakan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Dia hampir saja tertabrak mobil saat hendak menyeberang jalan dari mobilnya di parkir ditepi jalan menuju ke toko kue langganannya. Ada seorang laki-laki yang menolongnya dan kini laki-laki tersebutlah yang terluka.


"Jadi maksudnya mama dia anak sebatang kara gitu?" ucap Diki.


"Bukan sebatang kara pah. Masih punya ayah dia. Tapi ayahnya kerja di luar negeri. Dan dia tidak punya keluarga di sini karena semua keluarganya tinggal di Jerman." jelas Lia.


"Terus gimana kondisi nya sekarang mah?" tanya Fia.


"Udah ditangani dokter sih barusan. Tapi mama gak enak pah, mama mo dia tinggal di rumah kita dulu sampe sembuh. Orang mama tanya dia tinggal sama sapa. Dia jawabannya tinggal sendirian. Tar sapa yang ngerawat dia pah?" ucap Lia meminta ijin untuk merawat orang yang telah menolong dirinya tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.


"Iya mah boleh kok." jawab Diki.


"Mang tuh orang mau tinggal di rumah kita mah?" ucap Fia.


"Mau kok, tadi mama udah tanya pas dia sadar."


"Syukur deh. Kalo dia mau biar gak minta uang damai."


"Jangan ngaur kamu Fi. Tuh orang ikhlas nolong mama. Ini aja mama yang maksa buat dia tinggal sama kita. Tadinya mah dia malah minta di rawat di rumah sakit aja." ucap Lia sambil menepuk bahu Fia pelan.


Lia mengajak Diki dan Fia melihat laki-laki yang telah menolong dirinya.


"Pah, Fi ini orang yang telah menolong mama tadi." ucap Lia memperkenalkan.

__ADS_1


"Elu." ucap Fia bersamaan dengan laki-laki yang terlah menolong mama nya.


__ADS_2