guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Rencana Rio


__ADS_3

Banyak orang bilang darah lebih kental dari pada air, hingga bisa membuat tali ikatan batin satu sama lain. Rio membolak-balikkan album foto pernikahan Fia dengan Fajar merupakan rutinitas nya di pagi hari. Ada banyak foto dia dengan Fia. Tak sedikit pun Rio lupa akan momen tersebut.


Suara langkah kaki pun terdengar di telinga Rio. Sosok Sri dan Herman pun muncul dihadapannya. Begitu cepat Rio berlari ke arah mereka berdua.


''Opa, Oma Lio angen mamah.'' keluh nya di pelukan Sri.


''Kayaknya kita udah lama juga di Granada, mih.'' ujar Herman.


Sri pun mengiyakan perkataan suaminya Herman. Sudah terlalu lama hampir satu bulan lebih mereka pergi meninggalkan Fia dan Fajar untuk menikmati masa indahnya.


Rasa rindu pada Rio pasti menumpuk dan tidak bisa di pungkiri lagi. Hampir setiap malam dia memimpikan Fia dan menyebut nama nya. Walaupun Fia sering menelepon nya sebelum dan sesudah bangun tidur. Rasa rindu tidak bisa dilampiaskan melalui telepon.


Susah payah Sri dan Herman membuat Rio tidak terlalu merindukan Fia. Tapi kenyataannya Rio tetap merindukan sosok Fia yang kini sudah menjadi ibu sambungan nya.


''Gimana kalo kita pulang ke Indonesia besok.'' usul Sri.


''Yang benel oma?'' sahut Rio sambil menatap wajah Sri yang tidak melepaskan pelukannya.


''Ya bener dong sayang. Masa Oma bohong sama kamu sih?'' sahut Herman yang senang melihat senyum di wajah cucunya itu.


''Benel Opa. Oma kan nda pelnah bohongin Lio.'' Sri pun di cium pipi kanannya oleh Rio.


Tanpa menunggu lama Sri pun bersiap-siap untuk merapikan barang nya dan berencana membeli oleh-oleh untuk di bawa pulang ke Indonesia. Begitu juga dengan Herman yang secepat mungkin mencari tiket pesawat untuk balik ke Indonesia.


°°°°°


Di Bandara.


Rio pun tersenyum, terpampang dua lesung pipi di wajahnya. Kaos berwarna biru yang dipadukan dengan jeans hitam dan jaket hitam, ditambah dengan sepatu kets berwarna putih hitam. Sambil mengemut permen lollipop di mulut nya.


Rio duduk di samping Sri, dilanjutkan dengan aksi melihat sekeliling bandara dengan aura yang gembira riang. Sementara Herman menelpon supir pribadinya yang sudah menunggu kedatangan mereka di parkiran.


''Rio, mending kamu tidur ya.'' ujar Sri yang sudah berada di dalam mobil. Dirinya yakin pasti cucunya lelah selama perjalanan.


Apa lagi perjalanan dari Granada ke Indonesia memakan waktu yang cukup lama kisaran satu hari lebih tiga jam. Dirinya yang orang dewasa pun sudah lelah, bagaimana dengan Rio yang masih kecil. Pasti lelahnya mengalahkan dirinya.


Tapi kekuatan rindu memanglah sangat dahsyat dan luar biasa untuk anak yang usianya saat ini, baru mau genap empat tahun empat hari lagi. Tidak sedikit pun merasakan lelah sama sekali selama perjalanan.


''Nda ah Lio nda antuk.'' ucap nya yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Fia.

__ADS_1


Setibanya di rumah, Rio ngambek bukan main. Ternyata Fia sedang tidak ada di rumah. Hanya ada satpam penjaga rumah yang menghuni rumah tersebut.


''Mamah jahat Lio pulang mamah nda ada. Mamah nda cayang ama Lio.'' rengek Rio yang mendengar dari satpam bahwa Fajar bersama Fia sedang pergi keluar.


''Uuuaaaaaaawwaaaaaa.'' suara tangis pun pecah memenuhi satu ruangan bawah.


Di sisi lain.


''Maaf mih. Kita belum bisa pulang sekarang. Soalnya Fia lagi asik banget mani pedi, sekalian massage.'' ucap Fajar yang di telpon oleh Sri.


Tak kecil suara tangis Rio terdengar di telpon.


''Tuh kamu denger kan Rio kangen banget sama kalian. Eh kalian malah lagi perawatan...''


''Cara papih kamu balik sekarang bilang sama Fia. Pasti dia ngerti.'' potong Herman saat Sri sedang berbicara sama Fajar.


''Bukan nya gak ngerti, pih. Masalahnya nih kemauan bayi di perutnya Fia.'' sahut Fajar yang bingung serba salah.


''Bayi?'' ucap Herman yang bertanya karena takut salah mendengar.


''Iya bayi, Fia sekarang lagi hamil, pih.'' jelas Fajar.


''Yang bener kamu?'' tanya lagi Herman yang masih tidak percaya.


''Bayi sapa pih?'' tanya Sri yang penasaran saat suaminya menyebutkan bayi.


Tapi begitu juga dengan Rio yang menangis sambil mendengarkan pembicaraan Sri dan Herman yang sedang menelepon ayah nya. Saat mendengar kata bayi suara tangis Rio dua kali lebih kenceng dan tidak terkontrol.


''Uuuuaaawaaaaaaa. Mamah udah nda cayang Lio. Mamah cayang nya cama bayi balu nya.'' rengek Rio.


'Ets dah cucu gua pinter banget mikir nya mpe jauh amat.' pikir Herman.


''Halo Rio sayang.'' ucap Fajar yang meminta Herman untuk memberikan telpon nya kepada anaknya.


''Emm.'' sahut Rio.


''Sayang kamu kangen ya sama mamah. Sejam lagi kita pulang kok.'' ucap Fajar yang mencoba untuk menenangkan anaknya.


''Bodo.'' sinis Rio.

__ADS_1


''Rio! sapa yang ngajarin kamu ngomong gitu? Papah tidak pernah ya mengajarkan anak papah untuk bicara tidak sopan sama orang tua.''


''Yalin, abis papah cayang nya ama bayi balu. Lio udah nda di cayang.'' ambek Rio berkelanjutan.


''Kamu apus air mata kamu. Kamu susul papah dan mamah ke sini. Ada supir kamu minta anter, suruh supir telpon papah ada di mana. Susul papah.'' ujar Fajar.


''Rio denger papah ngomong apa barusan.'' ucap Fajar kembali.


''Mmmm.'' sahut Rio.


''Hemmm... mmmm.... kamu anak laki-laki gak boleh cengeng. Apa-apa nangis. Kamu udah mau jadi kakak jangan manja.'' ucap Fajar yang tegas dalam mendidik Rio.


''Kamu lagi ngomong sama sapa ay.'' Fia yang muncul tiba-tiba di belakang Fajar.


''Sama Rio.''


Merampas handphone dari genggamannya Fajar pun Fia lakukan.


''Keterlaluan kamu ay. Ngomong begitu sama Rio?'' ucap Fia yang kesal karena ucapan Fajar ke Rio. Dirinya pikir suaminya sedang berbicara dengan orang lain, seperti murid nya atau anak dari saudara nya.


''Halo Rio sayang?'' ucap Fia yang menyapa.


Tak ada jawaban atau pun suara. Ternyata Rio mematikan panggilan telepon nya.


''Kita pulang sekarang.'' Fia meminta pulang ke rumah.


''Tapi kan kamu belum massage ay.'' ucap Fajar yang mengingatkan ke inginnya Fia yang pengen sekali di massage.


Mengabaikan ucap Fajar dan mengambil tas miliknya Fia lakukan untuk secepat mungkin untuk sampai di rumah.


''Salah lagi aja gue.'' dumel Fajar.


Setibanya di rumah Fia pun berlari untuk bisa bertemu dengan Rio.


''Mih Rio mana?'' tanya Fia sudah memberi salam dan bersalaman dengan kedua orang tua nya Fajar.


''Rio sudah tidur di kamar, Fi. Mungkin dia lelah abis perjalanan jauh eh nangis.'' sahut Sri.


''Ya udah Fia mo ngeliat Rio dulu ya mih, pih.'' pamit nya.

__ADS_1


Beda hal nya dengan Fajar, dia lelah mengejar Fia.


''Fia kamu tuh di kata jangan lari-larian juga.'' ucap Fajar yang panik istrinya sedang hamil muda lari-larian begitu saja.


__ADS_2