guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Pengerjaan Tugas


__ADS_3

Badan lemes, kepala terasa pusing ditambah perut mual. Cahaya matahari yang sedikit terik membuat tubuh Fia semakin tak berdaya.


"Ets dah. Lo ngapa Fi? sakit?" tanya Agam yang sudah menopang tubuh Fia pas oleng di depan lapangan kampus dan memapahnya ke pinggir koridor.


"Tau nih. Pala gue tiba-tiba puyeng Gam. Perut gue juga eneg." ucap Fia.


"Belum sarapan kali Lo. Ya udah duduk disini sebentar ya." ucap Agam memerintah.


Memijat pelipis kanan dan kiri Fia lakukan terus menerus. Dia sudah tidak memikirkan kemana perginya Agam.


"Aduh mual banget dah. Perasaan gue gak salah makan dah. Sarapan gue simpel banget dan udah biasa gue masak. Ya kali gue keracunan makanan yang gue masak sendiri." oceh Fia.


Uweeee.


Uweeee.


Uweeee.


"Kok lapangan muter-muter ya...."


Buuugggkkk.


"Ya ampun. Fi... Fi... sadar Fi." teriak Agam yang sudah berlari kencang saat melihat tubuh Fia tergeletak pingsan.


Suasana kampus yang sepi membuat Agam lupa harus bertindak seperti apa saat itu. Tanpa pikir panjang Agam memberikan pertolongan pertama berulang kali dengan cara memberikan napas buatan ke pada Fia.


"Hukk... huuuk... hukkk... engkkk..." suara batuk Fia.


"Akhirnya sadar juga Lo Fi. Bikin gue panik tau gak sih Lo." ucap Agam.


"Ya sorry. Abis pala gue puyeng banget." sahut Fia yang masih setengah sadar.


"Belom sarapan kali Lo. Nih minum dulu baru tuh Lo makan roti cuma itu yang bisa gue beli di kantin." sodor makanan dan minuman yang sudah Agam buka tutup botolnya untuk Fia.


"Sarapan mah udah Gam." sambil meneguk minuman yang sudah Agam berikan ke Fia.


"Untung gue cepet balik ke sini nya. Kalo gak Lo pingsan begitu sapa yang nolong. Mana lagi sepi gini Lo pake pingsan." ketus Agam.


"Ya ilah biasa aja kali cuy. Kalo gak mo nolongin gue juga gak pa-pa. Biarin aja gue tergeletak kayak korban pembunuhan." jawab Fia asal.


"Ngaco Lo kalo ngomong jangan ngomong asplos dah." kesal Agam.

__ADS_1


"Asplos?" sahut Fia yang sedikit tidak mengerti apa maksud Agam.


"Asal ceplos. Udah ah gue balik, Lo mo gue anterin gak balik nya?" tawar Agam.


"Enggak deh, gue bareng Yeli aja tar pas dia udah kelar ngasih tugas kelompok kita." jelas Fia.


"Ya udah kalo gitu. Gue cabut ya." pamit Agam sambil melambaikan tangan kanannya.


"Thanks ya buat makan minum nya." teriak Fia.


"Baik juga tuh orang. Emang bener kita tuh gak boleh liat orang dari luar nya aja. Gosip nya kan Agam cowok yang gak baik. Tapi nyata nya baik banget tuh sama gue." ocehan Fia sambil ngunyah roti isi cokelat kesukaan nya.


Hukkk.... hukk... hukkk.... Fia tersedak.


"Gue kan pingsan terus sadar. Agam yang ngebuat gue sadar. Biasanya orang pingsan biar sad...aarrr... di kasih napas buatan. Agam ngasih gue napas buatan dong. Itu berarti gue ciuman secara langsung tanpa berasa dan tanpa ingatan. Yah rugi bandar dong gue maen di cium tanpa menikmati." oceh Fia sendiri.


Sosok Agam yang dia kenal dari Yeli berbeda dengan kenyataannya. Bahwa Agam orang yang baik dan sopan.


"Yeh gue tanya malah enggak jawab." ketus Agam.


"Sorry sorry. Loe mang nanya apaan?" kepo Fia karena terlalu sibuk mengamati Agam. Tanpa sadar Agam tidak jadi pergi meninggalkan nya karena khawatir dengan kondisi nya Fia.


"Gue tanya mo reka ulang gak adegan gue ngasih napas buatan ke loe tadi?" sahut Agam dengan nada bicara yang di tekankan.


"Penting gitu? sorry ya loe juga bukan selera gue. Badan penggilesan kayak loe mah, ye ileh gak doyan gue. Iman gue gak tergoda sama cewek yang model-an nya kayak loe begitu."tegas Agam agar tidak ada kesalah pahaman.


"Bener ya awas loe kepincut sama gue. Gue gak bisa tanggung jawab ye. Soalnya yang udah udah mah cowok-cowok nih beh kelepek-kelepek sama gue." canda Fia sambil ngunyah.


"Gak bakal terjadi. Gue tuh tadi nyuruh loe balik aja. Kondisi loe lagi gak fit gini." saran Agam.


"Iya nih gue kayaknya langsung cabut balik aja deh." usulan Agam pun di terima oleh Fia.


"Gue anter ya." tawar Agam.


"Enggak usah gue naik taksi aja. Gak enak sama Yeli dia nungguin kita di perpustakaan."


"Iya juga sih, ya udah kalo gitu loe gue temenin sampe naek taksi ya." ucap Agam yang sedikit resah orang sakit pulang sendiri.


Langkah kaki pun tertuju depan taksi yang sudah di berhentikan oleh Agam.


Bugh.

__ADS_1


Pukulan keras mendarat tepat di pipi kanannya Agam. Rasa kaget begitu mengguncangkan hati Fia.


"Astaga ay. Apa-apaan sih kamu." pelukan cara yang paling ampuh agar Fajar tidak melanjutkan aksinya.


"Apa-apaan nih maen pukul-pukul gue aja." rasa Agam yang tidak menerima perbuatan dari orang yang dia sama sekali tak di kenalnya.


"Itu pantes buat laki-laki kurang ajar kayak Lo." bentak Fajar.


"Bentar apa maksud Lo kurang ajar? Siapa gue?" sahut Agam yang sedikit tidak mengerti.


"Oh, ini Fi? laki Lo yang Lo bilang okeh. Lo yakin dia okeh? cowok tempramen gini Lo doyan."


"Jangan sembarangan ya kalo ngomong." emosi untuk memukul Agam muncul kembali dalam hati nya Fajar.


"Cukup ay. Ini tuh gak kayak yang kamu pikirin." usaha Fia agar kelar kesalah pahaman itu.


"Masuk kedalam mobil." pintu mobil yang dibuka oleh Fajar untuk Fia masuk.


Braaaakkkk.


"Wah sakit tuh laki, ya mo gimana lagi orang dia laki nya gue bisa apa? Udahlah ngapain gue pikirin orang gue gak ngapa-ngapain." ucap Agam yang sedikit kaget melihat aksinya Fajar.


"Gila ya kamu Fi. Aku ijinin kamu kamu kuliah untuk nambah ilmu. Bukan mesra-mesraan sama laki-laki lain." bentak Fajar.


"Mesra-mesraan? Jangan asal kamu ay kalo ngomong aku gak ada yang namanya mesra-mesraan atau semacam itu. Pikiran kamu tuh ya."


"Pikiran aku apa? Ijin nya kamu tugas kelompok. Tapi apa yang aku liat? HAH. Keluar kamu dari kampus." ucap Fajar.


"APA?" tanya Fia meyakinkan pendengarannya bahwa masih baik dan tidak salah dengar.


"Jangan bolot atau pura-pura gak denger dah." kata-kata Fajar kali ini kasar membuat Dia kaget.


"Sumpah aku gak ngerti lagi sama kamu." sahut Fia yang sedikit pasrah dengan sikap Fajar. Mau melawan seperti apapun itu tidak akan pernah bisa. Memberikan penjelasan seperti apapun itu juga pasti akan salah menurut Fajar. Emosi nya yang seperti ini bagi menurut Fia lebih buruk dibandingkan dengan dulu.


Keheningan terasa sangat jelas didalam mobil, kecepatan tinggi Fia rasakan sampai depan rumah.


"Mulai detik ini kamu jangan pernah keluar rumah tanpa seijin ku. Kamu juga gak perlu kuliah kalo kamu mo kerja. Besok kerja di kantor aku jadi sekertaris aku." ucap Fajar setelah membuka pintu mobil untuk Fia.


Tanpa perlu merespon Fajar, langkah kaki seribu Dia lakukan. Tetes air mata turun begitu saja membasahi pipinya.


Gubraaaakkkk.

__ADS_1


Fia tergeletak di lantai rapat depan pintu masuk.


__ADS_2