guru killer ternyata duda

guru killer ternyata duda
Rindu


__ADS_3

Sudah beberapa hari terakhir ini Adit tidak pernah bertemu dengan Fia. Dia mencoba untuk menjauhi Fia untuk sementara waktu. Andaikan Adit pemilik perusahaan yang ternama dan orang yang terkaya di dunia ini. Ia bisa membuat Fia berada dalam jangkauannya.


Adit kembali membalikkan beberapa lembar halaman buku yang dipegangnya. Bosan dengan tulisan yang terdapat di buku tersebut. Membuat Adit memikirkan Fia kembali.


"Kusut amat tuh muka Lo." Adit menoleh kearah suara tersebut.


"Apaan sih Lo, ganggu aja." ucap Adit yang kesal akan kedatangan Bimo karena menggangu waktu menyendiri nya berharga baginya.


"Gue itu bukannya ganggu. Gue itu peduli terhadap sahabat, masa sahabat gue yang lagi sedih gue biarin gitu aja. Bahaya, apalagi kalo sampe sahabat gue gantung diri gara-gara cinta. Bisa jadi sahabat yang durhaka gue." cerocos Bimo yang menurut Adit enggak jelas.


Menurut Adit, walaupun kedatangan Bimo sedikit mengganggu dirinya. Tapi setidaknya bisa mengurangi rasa rindunya ke Fia. Karena kesendiriannya membuat ia tak bisa berhenti sedikit saja untuk membayangkan sosok Fia yang selama ini selalu disampingnya.


"Ngapain Lo kemari? Pasti ada perlunya aja kan Lo kemari." ucap Adit yang sudah sangat kenal dengan sifatnya sahabatnya itu.


"Hehehehe bisa aja Mbah hasemeleh baca pikiran gue." cengir Bimo yang punya maksud dan tujuan dalam kunjungannya itu.

__ADS_1


Adit pun membawakan jaket kulit yang ingin dipinjam oleh Bimo. Senyum lebar terlihat jelas dari raut wajahnya Bimo.


"Thanks ya bro. Lo emang the best dah. ngarti banget apa yang gue butuhkan." ucap Bimo yang bahagia kebutuhannya terpenuhi.


"Lo tuh ya kesini pasti ada perlunya aja. Coba aja kalo gak ada perlunya. Mana mungkin Lo kesini." sahut Adit sambil duduk di bangku depan teras kost-an nya.


Setelah berjam-jam Bimo dan Adit berbincang-bincang tentang apa saja yang akan mereka lakukan kedepannya dan tidak lupa membahas tentang acara Promnight. Membuat waktu berganti tanpa terasa. Kehadiran Bimo membuat waktu Adit berjalan lebih cepat sedikit dari waktu yang sebelumnya.


°°°°°


"Gue rindu Lo Fi." tetes air mata yang terjatuh begitu saja di pipinya.


"Kenapa mesti dia Fi, yang jadi pacar Lo. Kenapa bukan gue?" begitu banyak pertanyaan yang Adit ucapkan tanpa ada yang bisa menjawabnya.


Bantal tidur yang terpasang wajahnya Fia. Hanya bisa Adit peluk dan dicium.

__ADS_1


"Andaikan bantal ini Lo Fi. Gak bakalan gue lepasin Fi." keluhnya diatas kasur berukuran singel.


Dengan posisi tengkurap dan bantal bergambarkan wajahnya Fia. Malam berlalu begitu saja. Rasa rindu yang menyelimuti seluruh hatinya Adit, membuat ia tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.


Hari-harinya yang selalu ia jalani bersama Fia, kini tak lagi dilalui oleh Adit. Hampa, itu sudah pasti Adit rasakan. Dari kecil hingga remaja waktunya selalu bersama dengan Fia.


Hanya kehadiran seorang guru yang selalu muncul di hari-harinya Fia dan Adit. Membuat ia tidak sadar bahwa guru tersebut akan mengambil posisinya yang selama ini selalu disampingnya Fia.


Andaikan ia lebih cepat menyadari bahwa Fia ada di hatinya. Mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.


Ibarat sebuah kalimat 'penyesalan selalu datang belakangan' ini dirasakan oleh Adit. Benar apa yang tersirat dalam kalimat tersebut.


Tapi setidaknya dengan kejadian ini membuat Adit berusaha keras untuk melangkah lebih baik untuk bisa mendapatkan Fia kembali disisinya lagi.


Jika kehadiran Fajar yang tidak begitu lama bisa mendapatkan Fia. Kenapa tidak dengan dirinya yang sudah sangat lama menghabiskan waktu bersama-sama selama ini.

__ADS_1


__ADS_2